Minggu, 28 April 2013

Pendidikan Pancasila


Pendidikan Pancasila

                                                                          gambar: menarailmuku.blogspot

Mohammad Abduhzen ;  Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Universitas Paramadina, Jakarta; Ketua Litbang PB PGRI
KOMPAS, 26 April 2013

  
Rancangan Kurikulum 2013 mengembalikan Pancasila seperti Kurikulum 1994, yaitu sebagai mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Keberadaan Pancasila dalam kurikulum senantiasa timbul tenggelam, bergantung pada situasi kebangsaan.

1.      Kurikulum 1968,
Di awal Orde Baru, Pancasila menjadi kategori pertama bidang pembelajaran ”Pembinaan Jiwa Pancasila” yang terdiri atas pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan pendidikan olahraga.

2.      Kurikulum 1975—seiring menguatnya dominasi Orde Baru—menjadikan Pancasila sebagai mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

3.      Kurikulum 1984
Kurikulum ini disempurnakan pada 1984 dengan menambahkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), di samping PMP dan Sejarah.

4.      Kurikulum 1994.
Tumpang tindih pelajaran ini kemudian disederhanakan dalam Kurikulum 1994 dengan menyatukan PMP dan PSPB jadi Pendidikan Pancasila danKewarganegaraan (PPKn).

5.      Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pedniikan
Ketika Reformasi tiba, Pancasila yang lama menjadi alat legitimasi turut mengalami deapresiasi sehingga UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tak mewajibkan Pancasila ada dalam kurikulum pendidikan. Karena itu, dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK, 2004) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006), Pancasila raib dan PPKn menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

                                                                              gambar:menarailmuku.blogspot

Kevakuman

1.      Proses ideologisasi Pancasila semasa Orde Baru dengan tafsir dan asas tunggalnya telah memaksa mayoritas masyarakat Indonesia berideologikan Pancasila secara semu. Praktik represif dan doktrinal yang ditempuh justru menimbulkan sinisme terhadap Pancasila sebagai personifikasi penguasa. Maka, saat Orba jatuh, Pancasila seperti ikut melindap.

2.      Sekarang, Pancasila mengalami kekosongan makna karena pemaknaan oleh Orde Baru berupa Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) beserta 36 butir nilai-nilai seolah gosong. Kita perlu rekonstruksi tafsir yang mampu menerangkan bagaimana berbagai gagasan dalam Pancasila saling berhubungan dan mampu mengantarkan bangsa ini pada kehidupan lebih baik, seperti janji kemerdekaan.

3.      Pada hari-hari ini, kita juga tak menyaksikan adanya upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan secara mendasar dan sistemis. Memang ada upaya sosialisasi ”Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, tetapi—selain Pancasila sebagai pilar dipersoalkan—hanya sayup-sayup sampai kepada publik. Barangkali kita tinggal mengandalkan kecakapan para guru mengajarkan Pancasila di sekolah. Itu pun, sekarang ini, Pancasila diajarkan sebatas dasar administrasi negara.

4.      Menguatnya semangat aliran belakangan ini di ranah politik dan sosial merupakan indikator kian lemahnya apresiasi masyarakat terhadap Pancasila sebagai landasan hidup bersama. Kenyataan ini tak boleh dibiarkan, dan seyogianya pemerintah serius merevitalisasi Pancasila.


”Mengilmiahkan” Pancasila

Butir penting untuk reaktualisasi yakni
merumuskan konstelasi pembelajaran dan transformasi nilai-nilai Pancasila dalam proses pendidikan.
Sebagai substansi pembelajaran, Pancasila selama ini dikenalkan lebih sebagai mitos ketimbang sesuatu yang ilmiah. Keberadaan Pancasila seperti tak melekat dalam kesadaran dan hanya muncul sebagai perilaku artifisial. Agar mengejawantah sebagai perilaku otentik, Pancasila harus diakarkan di dalam pikiran dan ditumbuhkan sebagai sikap di dalam jiwa.
Karena itu, Pancasila perlu ”diilmiahkan” dengan mengobyektivikasi makna-makna normatif dan simbolisnya secara logis-empiris. Pembahasan Pancasila harus mampu mengantarkan kita kepada situasi logika dan fakta yang tak terelakkan sehingga pilihannya harus diterima.

Pancasila, sebagaimana dinyatakan penggagasnya,
·         adalah philosofische grondslag atau weltanschauung,
·         yaitu fundamen, filsafat, dan pikiran yang mendalam.
·         Pancasila lahir sebagai antitesis imperialisme dengan ide-ide besar seperti ”penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”, kebinekaan/pluralisme, musyawarah, dan ketuhanan yang harus dijadikan realiteit.
Merealisasikan Pancasila sebagai landasan kehidupan bersama, yang dibutuhkan di alam modern ini, memerlukan argumen yang tak sekadar common sense, akal sehat. Setakat ini status epistemologis Pancasila baru sebatas deskripsi tentang realitas dan cita-cita. Ini tergambar dari pidato Soekarno tentang sila Ketuhanan: ”bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan.”

Pembahasan Pancasila tidak cukup dan berhenti sebatas konsep-konsep universal, tetapi harus berlanjut ke tataran operasional dan kontekstual berdasarkan situasi, kebutuhan, dan pengalaman kebangsaan kita sendiri. Ibarat pohon, Pancasila tunduk pada hukum pertumbuhan universal, tetapi sejatinya ia tetumbuhan tropis.

Reinterpretasi untuk reaktualisasi Pancasila telah dimulai Yudi Latif dengan karyanya Negara Paripurna, Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila (2010). Yudi mengobyektivikasi Pancasila dengan fakta historis dan pendekatan teoritis-komparatif, disusul gagasan rasional bagaimana sila demi sila seharusnya diaktualkan.
Pendidikan, tafsir, dan pemikiran tentang Pancasila perlu dikemas sedemikian rupa agar menjadi nilai-nilai kepribadian (kompetensi) lulusan.


Problem Metodologi

Selain persoalan substansi, pembelajaran Pancasila di sekolah sering kali terkendala faktor metodologi. Pada satu sisi disampaikan terlampau akademis—diajarkan hanya sebagai fakta pengetahuan—dan pada sisi lain terlewat ideologis (memaksakan nilai-nilai sebagai doktrin).
Pembelajaran harus menjadi upaya penyadaran pentingnya nilai-nilai Pancasila bagi kehidupan bersama sebagai bangsa. Metode ini seharusnya dapat diturunkan dari UU No 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang menekankan pentingnya penciptaan suasana dan proses pembelajaran, keaktifan, dan berpusat pada murid. Sayangnya, rancangan Kurikulum 2013 tak mengelaborasi metode pembelajaran secara utuh dan menyeluruh. Elemen perubahan terkait proses pembelajaran hanya menambahkan kata teknis: ”mengamati, menanya, dan mengolah”. Sementara pendekatan tematik-integratif dikhususkan untuk SD karena sebelumnya pelajaran IPA akan diintegrasikan di semua kelas SD.

Pendidikan Pancasila mendatang potensial mengalami disorientasi karena ada reduksi dan kesenjangan logika pada kompetensi kurikulum. Kompetensi inti sebagai sublimasi perolehan dari seluruh mata pelajaran mengerutkan fungsi pendidikan hanya dalam empat kategori yang rancu, yakni sikap keagamaan, sikap sosial, pegetahuan, dan penerapan pengetahuan.

Sebagai tujuan akhir pembelajaran, kompetensi inti, selain tampak begitu miskin, juga menimbulkan masalah tautan logis dengan kompetensi dasar dan sesi-sesi pembelajaran, terlebih untuk Pendidikan Pancasila. Menyaksikan situasi kebangsaan yang kian mengkhawatirkan akhir-akhir ini, perumusan Pendidikan Pancasila harus berspektrum luas dan menjadi bagian dari strategi nation building. 


Sumber : Budisan’s blog

Selasa, 23 April 2013

Meneliti Durian, Grace Natalie Raih Medali Emas


Meneliti Durian, Grace Natalie Raih Medali Emas


                                                                                      gambar : regional.kompas.com
 Siswi SMA Stella Duce I Yogyakarta, Melody Grace Natalie di depan poster
 yang menjelaskan proses pengolahan limbah durian menjadi briket.


Penulis : Dwi Bayu Radius |
Kompas.com, Jumat, 7 September 2012 | 15:11 WIB


PALANGKARAYA, KOMPAS.com — Ampas kulit durian yang biasanya dibuang ternyata bisa dijadikan komoditas bermanfaat sebagai briket. Pemanfaatan itu bisa dilakukan berkat inovasi Melody Grace Natalie (17), siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Stella Duce I Yogyakarta.

Inovasi tersebut disampaikan dalam Asia Pacific Conference of Young Scientists (APCYS) yang digelar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sejak 2 September 2012 hingga Jumat (7/9/2012). Berkat hasil penelitiannya, Grace meraih prestasi dengan meraih medali emas dalam bidang lingkungan.
Grace juga berhasil menjadi peneliti perempuan terbaik dan penghargaan poster paling menarik dalam konferensi penelitian ilmiah untuk para pelajar SMA se-Asia Pasifik itu. Ia menyampaikan presentasi berjudul "Durio zibethinus Waste to Alternative Energy".

Limbah durian mencapai hampir 80 persen dari buah itu. Setelah melalui pyrolisis atau dekomposisi termokimia dari material organik, kulit durian menjadi arang dan dibentuk briket. Setiap 1,5 kg kulit durian menghasilkan 675 gram briket. Kulit durian mengandung 39,3 persen karbon.

Sebagai upaya untuk membakarnya lebih mudah, briket dapat dibentuk menjadi 90 bongkah dengan berat masing-masing 7,5 gram. Setelah dibakar selama empat menit, bara briket dapat bertahan selama hampir satu jam. Briket durian menghasilkan 6.805 kalori per gram.   

"Kualitas briket itu sama dengan arang batok kelapa. Hasil penelitian bisa ditindaklanjuti dengan mengenalkan briket kepada masyarakat desa dan menjadi biofuel untuk masa depan," tuturnya.
Selain briket, penilitian itu juga menghasilkan asap cair dari kulit durian sebanyak dua liter setelah melalui pyrolisis dan penyulingan. "Hampir 90 persen dari asap cair durian berupa etanol dan potensial digunakan sebagai bioetanol," tutur pelajar berparas cantik itu.


Editor :
Rusdi Amral



                                                              gambar : taraknita.or.id

                                                    gambar : www.pendidikan-diy.go.id

Melody Grace Natalie, IISF sejuta Kenangan dan Pelajaran

  
IISF sejuta Kenangan dan Pelajaran



Oleh :Melody Grace Natalie
Siswi SMA Stella Duce 1, Yayasan Tarakanita Yogyakarta




Pengalaman yang sangat luar biasa, ketika saya bisa mewakili Indonesia dalam event International Student Science Fair 2012 di Winnipeg, Canada. Penelitian yang saya bawa dalam ISSF tersebut berjudul “Durian Waste to Alternative Energy”. Sebagaimana kita ketahui, di Indonesia banyak sekali limbah sampah dari durian yang terbuang begitu saja. Ide ini muncul ketika saya menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga untuk duduk – duduk lesehan makan durian. Setelah melalui proses yang cukup melelahkan, akhirnya terciptalah sebuah produk briket durian, dan juga asap cair yang nantinya akan saya kembangkan menjadi biofuel.
Acara ISSF 2012 kali ini berlangsung selama 5 hari dari tanggal 30 Maret 2012 hingga 5 April 2012. Mulai tanggal 30 Maret 2012, serangkaian acara ISSF mulai dilakukan di negara yang terkenal dengan Maple Syrup-nya. Opening ceremony yang sangat meriah dilakukan oleh Fort Richmond Collegiate sebagai host school. Acara selama 5 hari sangatlah padat. Presentasi, pameran penelitian, science tour, hingga acara-acara hiburan pun saya nikmati.
Salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah mempresentasikan penelitian saya di depan semua peserta dan juga tutor dari ISSF. Perasann deg-degan, takut, namun juga bangga bisa memperkenalkan produk dari Indonesia di hadapan para young scientist dari seluruh dunia. Namun, puji Tuhan, semua lancar, dan tanpa disangka penelitian saya ini mendapat sambutan yang hebat dari para audience. Terbukti ketika acara pameran, stand saya banyak dikunjungi guru, peserta, dan juga siswa Fort Richmond Collegiate. Sungguh bangga menjadi wakil dari Indonesia, khususnya SMA Stella Duce 1, yang bisa membanggakan dan mengharumkan SMA Stella Duce 1 sekaligus Indonesia.
Sebuah pengalaman hebat yang takakan bisa dibeli oleh apa pun juga. Ketika saya bisa belajar dari orang – orang hebat di sana. Dibukakan wawasan yang lebih luas, khususnya dalam bidang lingkungan yang tentunya sangat cocok dengan bidang penelitian saya. Sepertinya akan lebih membuat saya termotivasi untuk melakukan penelitian – penelitian lain lagi.
Sangat beruntung ketika saya juga mendapat kesempatan untuk berkeliling melihat keindahan negara Canada, khususnya di kota Winnipeg dan Toronto. Negara yang sangat indah, tertata rapi, bersih, dan juga keadaannya beda jauh dari Indonesia. Tapi, Indonesia tetap di hati. hehehehe….
Teman baru? Ya, tentunya saya juga mendapat banyak teman baru dari berbagai penjuru dunia. Tak heran, acara ISSF kali ini diikuti 17 negara. Saat cultural performance, banyak sekali kebudayan negara lain yang unik dan menarik. Tentunya saya dan teman saya dari Indonesia juga tak mau kalah. Kami menampilkan tembang Jawa dan juga pencak silat. Sambutan meriah kami dapatkan ketika kami mengakhiri pertunjukan kami.
Banyak hal yang saya dapatkan dari acara internasional ini. Sebagai generasi muda bangsa Indonesia, membuat saya memiliki kebanggaan tersendiri. Apalagi ketika penelitian saya ini bisa dibilang sebagai penelitian yang sangat sederhana disbanding dengan negara-negara lain yang biasanya cenderung meneliti sebuah hal yang rumit (seperti sel, protein, dan lain-lain ) yang diakibatkan negara lain kemungkinan kurang memiliki sumber daya alam yang bisa diteliti. Lain halnya dengan Indonesia yang kaya sekali akan sumber daya alam, yang sesungguhnya jika digali lebih lagi akan memunculkan produk baru yang tentunya akan lebih bisa mendunia. Namun, juga menjadi sebuah pukulan yang hebat ketika saya sadar bahwa generasi muda di Indonesia kurang tertarik akan hal – hal seperti ini. Terbukti dengan hanya adanya 2 wakil dari seluruh Indonesia.Yang bisa dibilang adalah Negara dengan wakil paling sedikit. Sedangkan Negara lain, yang mungkin memiliki lebih sedikit objek untuk diteliti, mengirimkan wakil yang lebih banyak disbanding Indoneisa.
Tentunya kedepannya saya berharap semakin banyak lagi generasi muda yang mau melakukan hal – hal seperti ini. Tidak perlu meneliti hal yang rumit. Hidup sudahlah rumit, jangan menjadikan segala sesuatunya lebih rumit lagi. Lihat sekelilingmu, temukan masalah ‘sederhana dan unik’ apa yang bisa kita teliti dan temukan penyelesaiannya!


Dua Pelajar Indonesia Raih Emas di ICYS 2013


Dua Pelajar Indonesia Raih Emas di ICYS 2013

Peneliti Muda Tarakanita, Melody Grace Natalie, Raih Emas dalam
 International Conference of Young Scientist 2013 di Bali


                                                                         gambar : edukasi.Kompas.com

Dua ilmuwan muda Indonesia, Mariska Grace (kiri) dan Melody Grace Natalie (Kanan) menyabet emas dalam International Conference of Young Scientist 2013 di Bali.

Penulis : Kontributor Denpasar, Muhammad Hasanudin | 
Kompas.com.Minggu, 21 April 2013 | 13:39 WIB


DENPASAR, KOMPAS.com — Dua "ilmuwan muda" Indonesia, Mariska Grace dan Melody Grace Natalie, menyabet masing-masing satu medali emas dalam ajang International Conference of Youth Scientist (ICYS) di Sanur, Denpasar, Sabtu (20/4/2013) malam. Selain dua emas, Indonesia juga meraih satu medali perak melalui M Arifin Dobson, serta dua medali perunggu oleh Avip N Yulian dan Putu Handre K Utama.

Mariska Grace yang berasal dari SMAK Cita Hati menjadi yang terbaik dalam kategori Enviromental Science dengan karya ilmiahnya berjudul a Novel Approach in Using Peanut Shells to Elliminate Content in Water. Dalam karya ilmiahnya ini, Mariska memanfaatkan kulit kacang untuk mengurangi kadar ion tembaga di dalam air.

Sementara
Melody Grace Natalie, siswa Stella Duce I Yogyakarta yang bertarung dalam bidang Life Science berhasil memukau juri dalam presentasi karya ilmiahnya berjudul Potencial of Squid Eye Lenses as UV Absorber. Melody memanfaatkan mata cumi untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet.

"Saya membuat sunblock yang bisa dibuat simpel oleh nelayan sehingga nelayan bisa terhindar dari kanker kulit," ujar Melody Grace, menjelaskan hasil penelitiannya.

Sementara President of Local Orgaizing Comitte ICYS 2013 Monika Raharti, yang sebelumnya menargetkan sapu bersih emas, tetap bangga pada ilmuwan Indonesia meski hanya meraih dua emas. "Kita patut berbangga hati, persaingan tahun ini cukup berat, banyak presentasi karya ilmiah dari negara lain yang bagus," kata Monika.

Saingan terberat dari Indonesia dalam ajang ini datang dari Polandia, Jerman, Rusia, dan sejumlah negara Eropa Timur lainnya. Setelah Indonesia sukses menjadi tuan rumah tahun ini, rencananya ICYS 2014 akan diselenggarakan di Ukraina.

Editor : Glori K. Wadrianto
Sumber : Edukasi.Kompas.com

Sesat Pikir, Samakan Pancasila sebagai Pilar


Sesat Pikir, Samakan Pancasila sebagai Pilar
kliping

                                                  gambar :Iwandahnial.wordpress.com

Harry Tjan Silalahi ;  Peneliti Senior CSIS
KOMPAS, 12 April 2013
  

Wacana penyebarluasan konsep empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, dapat sambutan.
Tak kurang UU tentang Partai Politik (UU No 27 Tahun 2008) mengamanatkan agar anggota DPR perlu memasyarakatkan empat pilar itu. Malah ada perguruan tinggi swasta yang menganugerahi gelar doktor honoris causa kepada seorang pejabat negara yang dipandang berjasa memasyarakatkan empat pilar itu.

Setiap orang memahami bahwa pilar tak sama maknanya dengan dasar. Pilar yang berarti tiang penyangga tentu berbeda dengan dasar atau fundamen. Dengan demikian, menyamakan Pancasila sebagai pilar merupakan sesat pikir.

Salah satu bapak bangsa Indonesia, Soekarno (Bung Karno), dalam pidato pada 1 Juni 1945 di depan Sidang BPUPKI (kemudian dikenal sebagai Hari Lahir Pancasila) menyatakan, ”Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya.”

”Namanya”, lanjut Bung Karno, ”bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita, ahli bahasa, Pancasila. Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itu kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”

                                                                                    gambar : www.uinsgd.ac.id

Dasar Bukan Pilar

Sebagai asas dan dasar negara, Pancasila merupakan philosophische grondslag atau dasar filosofis bagi suatu negara dan bangsa yang bernama Indonesia. Bila negara Indonesia diibaratkan sebagai wadah, tegas Bung Karno, ”...Dan wadah ini hanyalah bisa selamat tidak retak jikalau wadah ini didasarkan di atas dasar yang kunamakan Pancasila. Dan jikalau ini wadah dibuatnya daripada elemen-elemen yang tersusun daripada Pancasila” (Pidato 17 Juni 1954).
Bagaimana itu dipahami? Mungkin penjelasan Prof Driyarkara SJ bisa menolong. Pemahamannya bertolak dari eksistensi manusia Indonesia.

Dijelaskan, karena manusia itu hidup atau ”berada”, manusia mengakui keberadaannya sebagai keberadaan yang kontinggen (yang tergantung) kepada keberadaan Yang Mutlak, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena ”manusia Indonesia” berada bersama ”manusia Indonesia yang lain”, maka ia harus berperikemanusiaan yang adil, beradab, dan bersatu untuk tidak terpecah-belah agar mampu membangun manusia Indonesia sebagai masyarakat yang sejahtera secara sosial.

Bertitik tolak dari dasar itu, tatanan bernegara—baik dengan UUD, UU, konvensi, maupun budaya—yang mengejawantahkan dasar atau fundamen kehidupan bagi kelompok yang menamakan dirinya sebagai bangsa Indonesia dapat hidup. Bagi Bung Karno, bangsa—dengan menyitir Ernst Renanadalah kehendak untuk bersatu (le desir d’etre ensemble) sehingga atas dasar Pancasila dirancanglah konstitusi, yaitu UUD 1945; bentuk negara kesatuan dan bukan negara federal (NKRI); dan hasrat bangsa untuk menghargai keberagaman dalam moto ”Bhinneka Tunggal Ika”. Semua itu menjadi sarana untuk membangun kebersamaan sebagai warga bangsa untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, yaitu suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Dengan demikian, pola pikir yang salah dengan menyamakan Pancasila hanya salah satu pilar harus dibuang jauh. Pola pikir yang keliru akan menghasilkan tindakan dan praksis hidup yang keliru pula. Pancasila adalah dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ●

sumber : Budisan's Blog

Rabu, 17 April 2013

Evaluasi Ujian Nasional




Evaluasi Ujian Nasional

Kliping koran

                                                                                                               gambar : kompas.com



Kompas.com, Kamis, 18 April 2013 

Anita Lie Guru Besar Program Pascasarjana Unika Widya Mandala, Surabaya

Penundaan ujian nasional di 11 provinsi menjadi berita utama di media massa dan menarik perhatian Presiden SBY untuk menginstruksikan dilakukannya investigasi terhadap persoalan yang ada.

Sementara proses investigasi masih berlangsung dan para pengkritik di milis, media massa, ataupun media sosial menyoroti kekacauan dalam pengelolaan administrasi ujian nasional, akan lebih bermanfaat jika kita bisa menimba pelajaran dari realitas penyelenggaraan ujian nasional berdasarkan prinsip-prinsip penilaian pendidikan dan menawarkan solusi perbaikan untuk masa mendatang.

Walaupun kritikan terhadap ujian nasional terus dilayangkan dan Mahkamah Agung telah memenangi gugatan masyarakat lewat gugatan citizen lawsuit soal penyelenggaraan ujian nasional pada 2009, pemerintah tetap melaksanakan ujian nasional dengan alasan kebutuhan standardisasi.

Secara legal, keputusan MA masih memberikan ruang bagi pemerintah untuk tetap menyelenggarakan ujian nasional dengan catatan pemerintah telah meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, serta mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik akibat penyelenggaraan ujian nasional.
Kebersikukuhan kedua pihak—Kemdikbud versus pengkritik ujian nasional—pada posisi masing-masing bisa menjadi penghambat proses pengembangan dan penyempurnaan suatu sistem standardisasi dan penilaian pendidikan.

Dalam konteks negara Indonesia dengan tingkat kemajuan pendidikan yang sangat beragam antardaerah, sistem penilaian hasil belajar peserta didik dipercaya bisa memberikan gambaran standardisasi yang dibutuhkan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ini, Amerika Serikat juga melaksanakan standar pendidikan secara ketat untuk mengatasi ketertinggalan dari berbagai tes perbandingan antarnegara. Tentu saja sistem penilaian pendidikan di mana pun selalu menyisakan ruang untuk perbaikan.

Peningkatan mutu pendidikan nasional membutuhkan keterbukaan dari pihak pemerintah untuk mengkaji kelemahan-kelemahan serta kearifan para pemerhati yang peduli terhadap pendidikan untuk memberikan kesempatan dan ruang perbaikan sistem. Bahkan, ujian sekaliber TOEFL, SAT, IELTS, dan GRE pun telah mengalami proses bertahun-tahun pelaksanaan dan banyak forum pakar untuk bisa memperbaiki sistem administrasi ataupun meningkatkan mutu soal. 


Perbaikan sistem



Perbaikan sistem penilaian pendidikan mencakup empat isu sentra.

1.     Prinsip Penilaian Belajar.

·         Ada berbagai macam tujuan, bentuk, dan format penilaian belajar.
·         Salah satu pepatah yang juga berlaku dalam penilaian belajar: Not everything that counts can be counted and not everything that can be counted counts (tidak semua yang bermakna bisa dihitung dan tidak semua yang bisa dihitung bermakna) mensyaratkan adanya penilaian alternatif dan otentik dalam proses belajar mengajar.

·         Ujian berbentuk pilihan ganda seperti ujian nasional tentu saja tidak memadai untuk menilai prestasi, kemajuan, dan kekurangan peserta didik. Sebenarnya Kemdikbud sudah menerima kenyataan ini dan memutuskan ujian nasional bukan satu-satunya penentu kelulusan. Namun, upaya sosialisasi dan pelatihan di tingkat sekolah masih perlu terus dilakukan agar sekolah-sekolah mempunyai kepercayaan diri dan kompetensi untuk mengembangkan bentuk-bentuk penilaian yang lain guna melengkapi ujian nasional dan suatu saat nanti bahkan tidak lagi membutuhkan ujian nasional sebagai penilaian standar.

·         Kenyataan di lapangan menunjukkan sebagian besar guru di Indonesia pada saat ini masih belum cukup kompeten dan terampil menyusun instrumen penilaian belajar yang baik dan tepat. Tentu saja situasi ini tidak seharusnya dijadikan alasan pembenaran untuk pelanggengan ujian nasional tanpa batas.

2.     Pelanggaran dalam penyelenggaraan tidak semestinya ditoleransi dengan label ekses dan oknum.

·         Ini bukan persoalan persentase dalam statistik.
·         Dalam pendidikan, rasio pelanggaran (yang dianggap) sangat kecil sudah menjadi persoalan sangat serius karena memberikan dampak modeling negatif yang akan sangat merusak proses pendidikan karakter anak dan bangsa.
·         Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

·         Skandal kecurangan guru dalam ujian ternyata juga terjadi di Amerika Serikat. Juri memutuskan kepala dinas pendidikan beserta 35 pimpinan sekolah dan guru bersalah atas manipulasi nilai ujian di Atlanta, akhir Maret 2013. Kepala Dinas Dr Beverly Hall, yang pernah dinobatkan sebagai kepala dinas teladan pada 2009, diancam hukuman penjara 45 tahun.

·         Sistem pendidikan Atlanta telah menghabiskan 2,5 juta dollar AS untuk investigasi pelanggaran ini. Temuan paling penting dalam skandal ini adalah bahwa sistem imbalan bagi guru dan pejabat yang berhasil menaikkan nilai ujian dan hukuman bagi yang tidak justru telah memicu pelanggaran kode etik pendidik. Karena itu, sistem ini harus diinvestigasi dan ditinjau ulang.

3.     Kasus keterlambatan pencetakan dan distribusi soal-soal ujian nasional tahun ini seharusnya mendorong pemerintah mulai memikirkan administrasi secara online.

·         Bagi banyak daerah di Nusantara, pelaksanaan ujian online sungguh merupakan kemungkinan yang tak terbayangkan karena sejumlah permasalahan infrastruktur.

·         Dalam hal ini, Kemdikbud perlu merintis kemungkinan-kemungkinan itu bersama PLN dan Kementerian Kominfo.

·         Pelaksanaan ujian kompetensi guru secara online yang kurang mulus baru-baru ini seharusnya tidak dijadikan bahan cemooh untuk menghambat langkah maju dan perbaikan sistem secara berkelanjutan.


     4. perbaikan sistem membutuhkan evaluasi secara terus-menerus.
·        
Soal-soal dan sistem administrasi tes seperti TOEFL dan yang semacamnya sering menjadi bahan kajian terbuka dalam forum-forum para pakar dan peneliti.
·         Bahkan, soal-soal dalam tes terdahulu bisa diakses publik secara terbuka. Selama beberapa dekade pelaksanaannya, ada banyak sekali perubahan dan kemajuan mendasar.
·          Mekanisme evaluasi internal ataupun hasil kajian publik telah memungkinkan tes-tes tersebut meningkatkan kesahihan dan keterandalannya secara berkelanjutan.

Anita Lie Guru Besar Program Pascasarjana Unika Widya Mandala, Surabaya

(dengan perubahan )


Taspirin, bocah sekecil itu menanggung beban keluarga



  Taspirin,….
Bocah sekecil itu menanggung beban keluarga

Sumber : Kompas Cetak, 15 April 2013
Oleh :Gregorius Magnus Finesso

                                                                   gambar : kompas.com

Tasripin (dua dari kanan) bersama ketiga adiknya di rumahnya di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (13/4). Tasripin terpaksa menanggung beban sebagai kepala keluarga setelah ditinggal kedua orangtuanya. Mereka sebatang kara setelah sang ibu meninggal, sedangkan ayah mereka bekerja di Kalimantan. Tasripin memilih berhenti sekolah dan menjadi buruh tani demi mendapat upah untuk makan nasi kerupuk atau garam bagi ketiga adiknya.




Ketika jutaan anak-anak seusianya bersekolah, bermain, dan disayang orangtua, Tasripin (12) terpaksa menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya. Peran kepala rumah tangga kini disandangnya.

Tasripin mengambil alih tanggung jawab itu setelah ditinggal kedua orangtuanya. Kemiskinan kian menyudutkannya. Bocah itu tak lagi menikmati waktu, dan menguapkan cita-citanya menjadi guru.
Keseharian Tasripin, warga Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sudah dimulai saat azan subuh baru saja berkumandang. Ia memulai hari dengan menanak nasi di dapur yang gelap dan lembab. Ketiga adiknya dibangunkan, lalu satu per satu dimandikan.

”Yang paling kecil yang rewel. Nangis terus. Sering tak mau dimandikan jika sedang ingat bapak. Jika ada uang, saya kasih, baru diam,” tutur Tasripin, Sabtu (13/4), di rumahnya, yang jauh dari standar kelayakan di kaki Gunung Slamet.

Beda dengan rumah sebelahnya yang berlantai keramik dan bertembok, rumah yang ditempati Tasripin dan adik-adiknya terbuat dari papan berukuran sekitar 5 meter x 6 meter. Hanya dua kursi panjang dan satu meja kayu yang menjadi perabot di ruang yang lantainya beralaskan semen pecah-pecah itu. Meski hari sudah mulai siang, ruangan itu pengap.
Tasripin dan ketiga adiknya, Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4), tidur di dipan kayu beralaskan karpet plastik. Saat dingin menyergap, mereka hanya berselimutkan sarung. Lingkungan yang jelas tidak sehat bagi bocah-bocah itu.
Setelah memandikan ketiga adiknya di pancuran yang mengalir alami di belakang rumah, Tasripin menyuapi Daryo, si bungsu. Pagi itu, mereka sarapan mi instan.

”Ini sedang ada rezeki, Pak. Jika enggak ada uang, ya nasi putih sama kerupuk, kadang cuma sama garam,” ujar Tasripin. Ia putus sekolah sejak kelas tiga sekolah dasar (SD) sebab harus mengurus ketiga adiknya itu.

Satinah, ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, di usia 37 tahun, akibat terkena longsoran batu saat menambang pasir di dekat rumahnya. Kuswito (42), ayah mereka, sudah setengah tahun terakhir ini merantau ke Kalimantan bekerja di pabrik kayu bersama Natim (21), anak sulungnya.


Jadi buruh tani

Meski yatim dan jauh dari ayahnya, Tasripin berusaha mandiri. Ia cekatan mengurusi adik-adiknya. Untuk makan sehari-hari, dia bekerja membantu tetangganya menjadi buruh tani, bekerja di sawah, mengeringkan gabah, hingga mengangkut hasil panen turun. Ia tidak mengeluh meski harus naik bukit sejauh 2 kilometer dari sawah ke rumah juragannya. Tasripin berangkat ke sawah pukul 07.00 dan pulang pukul 12.00. ”Kadang dibayar beras, kadang uang Rp 10.000. Dicukupin buat makan dua kali sehari. Harus disisain buat jajan adik-adik,” jelasnya.

Sering kali ia terpaksa berutang. Beruntung, tetangganya memaklumi kondisi mereka. ”Kami paham kondisi mereka. Jika Tasripin beberapa hari tidak ada pekerjaan, tetangga atau bibinya yang kasih makan,” ujar Salimudin (59), pemilik warung tempat Tasripin biasa membeli bahan makanan.
Selain memasak, Tasripin juga mencuci pakaian, menyapu rumah, hingga terkadang membetulkan talang air rumahnya yang bocor. Meskipun bekerja, dia selalu memantau ke mana adik-adiknya bermain. Jika sore menjelang dan adiknya belum pulang, ia akan mencari mereka hingga ke hutan.
Ayahnya beberapa kali mengirim uang melalui bibi Tasripin. Uang itu untuk membayar listrik dan kebutuhan mendesak, seperti jika ada adiknya yang sakit. Akibatnya, sekolah menjadi barang mahal bagi mereka. Dari keempat anak itu, hanya Daryo yang bersekolah di pendidikan anak usia dini (PAUD).

Tasripin sebenarnya masih terlilit biaya sekolah lebih dari Rp 100.000 di SD Negeri Sambirata 3. Kedua adiknya, Dandi dan Riyanti, tidak melanjutkan sekolah karena malu sering diejek teman-temannya. Riyanti, adik perempuannya, sakit. Ada luka di kepalanya.
Meski miskin dan tidak merasakan pendidikan, Tasripin merasa bertanggung jawab pada akhlak adik-adiknya. Tiap sore dia mengajari adik-adiknya membaca Al Quran. Dengan sabar, dia juga mengajak adiknya shalat dan mengaji di mushala depan rumahnya. Saat malam kian larut, ia mulai menidurkan adiknya. Dinginnya angin gunung yang menelusup melalui celah papan rumahnya dilawan Tasripin dengan memeluk erat adik-adiknya yang lelap.

Terpencil dan tertinggal

Potret kehidupan Tasripin tak lepas dari kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Ini diperparah kondisi Dusun Pesawahan yang terpencil. Saat masih bersekolah, Tasripin harus berjalan kaki sekitar 3 kilometer melintasi jalan berbatu, perbukitan, dan hutan setiap hari.
Kepala Dusun Pesawahan Warsito membenarkan, banyak anak putus sekolah dan tak menuntaskan pendidikan dasar sembilan tahun di dusunnya. Selain faktor jarak, kemauan untuk belajar warga dusun itu juga masih rendah. Bahkan, di dusun itu hanya ada dua lulusan sekolah menengah atas dan dua lulusan sekolah menengah pertama. ”Ratusan warga masih buta huruf,” kata Warsito.
Dusun Pesawahan berjarak sekitar 30 kilometer dari Purwokerto, pusat kota Banyumas. Dusun itu terdiri atas 103 rumah dengan penduduk berjumlah 319 jiwa.
Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin hanya fenomena gunung es di Banyumas. Aparatur pemerintah harus peduli.


(bewe 17April 203)