Minggu, 09 Juni 2013

Merasa Cukup Kaya

kliping
Merasa Cukup Kaya
Oleh INDRA TRANGGONO
Kompas , 8 Juni 2013

                   gambar : www.hidupkatolik.com


orang bisa disebut kaya jika ia memiliki banyak kemungkinan untuk melakukan berbagai tindakan yang meluhurkan kemanusiaan.
( Budayawan YB Mangunwijaya )


Merasa cukup, itulah yang kini hilang dalam kesadaran etis bangsa ini. Menumpuk-numpuk kekayaan dan mengejar kenikmatan pun jadi "etos" baru seiring dengan maraknya korupsi.
Terminologi rumongso cukup (sadar pada kecukupan) diintrodusir kritikus sastra dan budayawan Faruk. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada itu melihat dan merasakan kaya tanpa mengenal batas telah menjadi pilihan mayoritas bangsa demi meraih berbagai kenikmatan, kenyamanan, dan "kehormatan" sosial. Kerakusan pun menjadi watak yang sepenuhnya tidak lagi dikutuk, tetapi justru dirayakan.

Masyarakat pun semakin permisif (serba boleh). Kaum koruptor pun tak lagi mendapatkan sanksi sosial yang berat, tetapi justru "dimaklumi", bahkan disambut dengan selebrasi. Siapa pun yang korupsi atau menjadi bagian dari persekongkolan penyolongan duit rakyat kini justru semakin populer dan "diterima" publik. Tanpa disadari, politik media massa—yang meletakkan negativitas sebagai basis pemberitaan—telah mengapitalisasi isu korupsi beserta aktor-aktornya menjadi komoditas.

Menjadi kaya merupakan hak setiap bangsa. Namun, kearifan Jawa memberikan peringatan: sugih tanpa ngasorake diri lan liyan (menjadi kaya tanpa harus mengorbankan kehormatan diri sendiri atau orang lain). Ini terhubung dengan ucapan pujangga Ronggowarsito: sak beja-bejane wong kang lali ising bejo wong kang eling lan waspada (kesadaran lebih utama dari lupa/khilaf).

Dari sini, dalam konteks kekayaan, perlu dikutip pelesetan yang mengatakan: sak beja-bejane wong kang sugih, isih beja wong kang duwe rasa cukup, nanging ya tetep sugih (keberuntungan orang kaya masih kalah beruntung dengan orang yang punya rasa cukup, tapi ya tetap kaya).

Meja makan

Kekayaan merupakan pencapaian diri yang sah sepanjang ia tetap dalam kontrol moral dan etik. Dengan kaya kita bisa menolong diri sendiri dan orang lain dari tekanan kemiskinan yang berpotensi menghilangkan martabat. Artinya, kekayaan bukan tujuan hidup, melainkan menjadi jalan budaya untuk membangun keberadaban manusia.

Budayawan YB Mangunwijaya mengatakan, orang bisa disebut kaya jika ia memiliki banyak kemungkinan untuk melakukan berbagai tindakan yang meluhurkan kemanusiaan. Dunia kemungkinan itu adalah nilai-nilai ideal kehidupan yang disangga secara kolektif.

Merasa cukup dalam menyikapi kekayaan merupakan konsep etik dan moral. Ia tidak hanya menghindarkan manusia dari watak tamak, tetapi juga membangun moralitas yang melekat pada kesadaran untuk selalu mau berbagi dengan orang lain. Ibaratnya, orang kaya yang berbudaya tidak akan memperlebar meja makannya hingga menggusur hak-hak orang lain. Ia merasa cukup dengan meja makannya yang kecil atau sedang sehingga masih tersedia ruang bagi orang lain untuk turut menikmati nasi dan lauk kesejahteraan.

Namun, kini yang terjadi pada mayoritas bangsa ini—terutama yang memiliki kuasa politik, ekonomi, sosial, dan budaya—justru menyelenggarakan festival kerakusan dengan ramai-ramai memperbesar meja makan masing- masing. Mereka pamer menu makanan berharga jutaan untuk sekali makan di depan orang- orang yang hanya bisa membayangkan rasa kenyang.

Dengan meja makan yang terus diperbesar, mereka tidak mengenal rasa cukup. Kekayaan yang mereka peroleh bukan menerbitkan rasa syukur melainkan justru menambah rasa lapar mereka untuk meraih kekayaan yang lebih besar, dengan cara-cara yang menyimpang moral dan melawan hukum.
Pada masa Orde Baru, orang sudah cukup syok mencuri uang negara bernilai puluhan atau ratusan juta. Akan tetapi, kini para koruptor merasa belum "berprestasi" jika belum mampu nyolong duit negara miliaran atau triliunan rupiah. Ketamakan telah merevitalisasi korupsi terkait jenis, teknik, dan capaiannya.


Imaji kebangsaan

Dalam sikap hidup yang permisif atas materi dan kenikmatan yang kini dominan dan hegemonik, mayoritas bangsa ini kian kehilangan imajinasi tentang kebangsaan. Dalam kemiskinan imajinasi dan kedangkalan cara berpikir, kebesaran bangsa tak lagi menjadi obsesi kolektif, tetapi sekadar dipahami sebagai mitos.
Konsumerisme yang diberhalakan telah mengubah kesadaran atas bangsa menjadi kesadaran atas ego pribadi dan kelompok. Kekayaan personal yang menjulang dianggap lebih mulia dibandingkan kesejahteraan yang terdistribusi bagi publik. Bangsa ini cenderung makin meng-"aku" (aku sebagai pusat kepentingan), tidak lagi meng-"kita" (kolektivitas sebagai orientasi nilai).

Kita khawatir ke depan ukuran kebangsaan bukan lagi rasa senasib, melainkan kekayaan tanpa mengenal rasa cukup. Siapa pun akan tidak diakui sebagai bagian dari bangsa ini hanya karena miskin. Cap sebagai beban negara pun disematkan kepada kaum papa.

Ke depan bangsa ini lebih membutuhkan pemimpin-pemimpin berkapasitas negarawan berkemampuan manajerial daripada penguasa-penguasa yang tak lebih dari "satuan pengaman" bagi kepentingan asing.


                                                                            gambar:komkepbandung.com
Sumber :
1.       Doa-bagirajatega.blogspot.com

Merencanakan rapat



Merencanakan Rapat

                    gambar : dokumentasi pribadi

Rapat adalah bagian dari rutinitas pekerjaan yang jamak dilakukan. Aktivitas ini mempertemukan beberapa orang agar tercapai sebuah kesepakatan. Namun, banyak terjadi rapat tak berjalan dengan efisien, bahkan mengalami penundaan bahkan gagal dilaksanakan. Pun  kalau terjadi jalannya  rapat berjalan berjam-jam, tidak membuahkan hasil atau satu pun kesepakatan.
Ada tiga alasan menurut Seth Gordin, penguasaha dan pakar public speaker,  mengapa sebuah rapat perlu diadakan. (Kompas, Minggu, 2 Juni 2013) .
   1.      menyampaikan informasi penting.
   2.      diskusi untuk mengembangkan  ide dan membuahkan  rencana.
   3.       izin yang membutuhkan keputusan  ya atau tidak dari peserta rapat.

        Beberapa lembaga atau sekolah kadang melaksanakan rapat hanya sebagai rutinitas sebuah kegiatan, padahal rapat yang baik harus dirncanakan terdahulu agar rapat dapat berjalan efisien dan efektif.
Dalam artikel di majalah intisari.com, disebutkan beberapa hal yang perlu dipersiapakan sebulum pelaksanaan rapat.

·         Luangkan waktu dua kali lebih banyak untuk menentukan agenda utama rapat.
Salah satu sumber masalah yang umum terjadi saat rapat adalah tujuan yang tidak jelas. Jika tidak benar-benar dengan tujuan rapat, maka rapat tersebut tidak dapat berjalan dengan cepat. Maka dari itu, tentukan terlebih dahulu tujuan rapat sebelum rapat dimulai.

·         Luangkan waktu dua kali lebih banyak untuk menentukan jumlah anggota yang akan hadir di rapat.
 Mengurangi jumlah peserta rapat sama dengan mengurangi jumlah perdebatan yang terjadi saat rapat. Beberapa orang yang tidak diundang rapat dapat dikirimi rangkuman laporan rapat.

·         Kurangi waktu rapat setengah dari waktu yang biasanya dialokasikan.
Jika waktu yang ditentukan untuk rapat adalah dua jam, maka rapat akan berlangsung dua jam. Jika rapat dialokasikan hanya setengah jam, maka rapat akan dilakukan dalam waktu setengah jam. Tapi ingat, bijaklah jika agenda rapat dirasa sangat penting.

·         Jangan pernah menolerir orang  yang datang terlambat saat rapat.
Menunggunya akan membuang-buang waktu dan menghukum mereka yang sudah datang tepat waktu. Justru dengan menjalani rapat sesuai rencana, mereka yang datang terlambat akan merasa malu karena datang di tengah-tengah diksusi.

·         Pertimbangkan, jika kira-kira cocok dengan keperluan bisnis, untuk melakukan rapat secara berdiri.
Nampak aneh? Penelitian menunjukkan bahwa rapat sambil berdiri itu lebih efisien. Ini mungkin jarang dilakukan, tapi cukup layak untuk dipertimbangkan.

Semoga bermanfaat...............

Sumber :
1.      Kompas, Minggu, 2 Juni 2013
2.      Intisari.com

Selasa, 28 Mei 2013

kisi - kisi UKK PKn 7 1213


KISI-KISI NASKAH SOAL PKn 7
ULANGAN KENAIKAN KELAS
 TAHUN PELAJARAN 2012/2013


                                       gambar : kompas.com


Disusun oleh :
F. Budi Wibowo,S.Pd.  guru Pkn SMP Tarakanita Gading Serpong
Blog : mimbarpena2021


Materi UKK: 
1.      Instrumen Nasional HAM
2.      Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat


Standar Kompetensi :
3.      Menampilkan sikap positif terhadap perlindungan dan penegakan Hak Azasi Manusia (HAM)


Kompetensi Dasar :
3.1 Menguraikan hakikat hukum dan kelembagaan HAM
3.2 Mendeskripsikan kasus pelanggar an dan upaya penegakan HAM
3.3 Menghargai upaya perlindungan HAM
3.4 Menghargai upaya penegakkan HAM

Kisi – kisi :
1.      Penegertian HAM
2.      Sejarah HAM Nasional dan Internasional
3.      Penagadilan HAM
4.      Lembaga-lembaga HAM
5.      Kasus-kasus pelanggaran HAM
6.      Pengelompokan HAM dan contohnya
7.      Jenis-jenis pelanggaran HAM dan upaya penegakannya
8.      Sikap positif terhadap penegakan HAM
9.      Contoh –contoh kasus pelanggaran HAM
10.  Dampak positif kemerdekaan mengemukakan pendapat
11.  Kesesuaian penegakan HAM dengan Nilai-nilai Pancasila

STANDAR KOMPETENSI :

4. Kemampuan membiasakan untuk mencari, menyerap, menyampaikan, dan menggunakan
informasi tentang kemerdekaan mengeluarkan pendapat.


KOMPETENSI DASAR :

4.1 . Kemampuan menganalisis kemerdekaan mengeluarkan pendapat
4.2 . Kemampuan menampilkan sikap positif terhadap kemerdekaan mengeluarkan pendapat

Kisi – kisi
1.      Pengertian Kemerdekaan mengemukan Pendapat
2.      Pentingnya mengemukakan pendapat secara bebas dan bertanggungjawab
3.      Akibat pembatasan kemerdekaan mengemukan pendapat.
4.      Landasan hukum Kemerdekaan mengemukan pendapat
5.      Asas –asas kemerdekaan mengemukakan pendapat
6.      Dampak positif mengemukakan pendapat
7.      Contoh pelaksanaan menegemkakan pendapat di rumah, sekolah dan masyarakat.
8.      Tata cara / bentuk penyamapaian pendapat di muka umum
9.      Kesesuaian kemederkaan mengemukaan pendapat dengan nilai-nilai Pancasila

Untuk kalangan sendiri

kisi-kisi UKK PKn 8 1213


KISI-KISI NASKAH SOAL PKn 8
ULANGAN KENAIKAN KELAS
 TAHUN PELAJARAN 2012/2013





                                               gambar : kompas.com


Disusun oleh :
F. Budi Wibowo,S.Pd.  guru Pkn SMP Tarakanita Gading Serpong
Blog : mimbarpena2021
                                     


Materi UKK :

1.      Korupsi dan Upaya Pemberantasannya
2.      Demokrasi di Indonesia
3.      Kedaulatan Rakyat dan Sistem Pemerintahan Indonesia

Standar Kompetensi
7. Menampilkan ketaatan terhadap perundang-undangan nasional

Kompetensi dasar
7.4  Mengidentifikasi kasus korupsi dan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia
7.5  Mendeskripsikan pengertian anti korupsi dan instrumen (hukum dan kelembagaan) anti korupsi di Indonesia.

Kisi – kisi :
1.      Pengertian korupsi.
2.      Bentuk korupsi dan contohnya.
3.      Penyebab tindakan korupsi.
4.      Pengadilalan tindak pidana korupsi (tipikor)
5.      Upaya pencegahan tindak korupsi
6.      Lembaga antikorupsi
7.      Intrumen hukum antikorupsi
8.      Dampak tindakan krups
9.      Tokoh antikorupsi
10. Ciri-ciri Korupsi
11.  Kesesuaian pemberantasan korupsi dengan nilai-nilai Pancasila

Standar Kompetensi
4. Memahami pelaksanaan demokrasi dalam berbagai aspek kehidupan

KOMPETENSI  DASAR
4.1  Menjelaskan hakikat demokrasi
4.2  Menjelaskan pentingnya kehidupan demokratis dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
4.3  Menunjukkan sikap positif terhadap pelaksanaan demokrasi dalam berbagai kehidupan

Kisi-kisi :
1.      Pengertian demokrasi
2.      Sejarah perkembangan demokrasi
3.      Prisnsip-prinsip dasar Demokrasi
4.      Asas-asas negara Demokrasi dan asas-asa Pemilu
5.      Bentuk – bentuk demokrasi modern
6.      Pelaksanaan demokrasi di Indonesia
7.      Ciri –ciri demokrasi
8.       Sikap positif pelaksanaan demokrasi
9.      Kesesuaian Sistem demokrasi Indonesia dengan nilai-nilai Pancasila

Standar Kompetensi :
5. Memahami kedaulatan rakyat dalam sistem pemerintahan di Indonesia

Kompetensi Dasar :
5.1  Menjelaskan makna kedaulatan rakyat
5.2  Mendeskripsikan sistem pemerintahan Indonesia dan peran lembaga negara sebagai pelaksana kedaulatan rakyat
5.3  Menunjukkan sikap positif terhadap kedaulatan rakyat dan sistem pemerintahan Indonesia

Kisi – kisi :
1.      Makna kedaulatan
2.      Teori dan tokoh kedaulatan
3.      Landasan pelaksanaan kedaulatan Rakyat
4.       Macam Sistem pemerintahan
5.      Sistem pemerintahan di Indonesia
6.      Peran lembaga Negara sebagai pelaksana kedaulatan rakyat
7.      Kesesuaian kedaulatan rakyat dan sisitem

Untuk kalangan sendiri

Sabtu, 18 Mei 2013

Tiga kecerdasan HR Pentakosta


Minggu, 19 Mei 2013
Hari Raya Pentakosta



“Orang yang cerdas secara 

spiritual ditandai dengan 

kemampuan untuk mengampuni, 

menerima, memahami, mendoakan, 

berbagi, berlaku rendah hati 

dan mencintai”. 



gambar :andreashandoyo.blogspot.com


Doa Pagi

Allah Bapa kami yang Mahaagung dan kekal, berkat misteri Pentakosta Engkau menguduskan Gereja-Mu di antara para bangsa dan segala bahasa. Sebarluaskan anugerah Roh Kudus ke seluruh dunia. Ulangilah mukjizat Pentakosta: sentuhlah dengan Roh-Mu hati umat beriman, seperti yang Kaulakukan pada awal pewartaan Injil. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.


Injil  Yohanes (14:15-16.23b-26)
  

Renungan

Limapuluh hari setelah hari raya Paskah adalah hari raya Pentakosta. Pentakosta menjadi mahkota perayaan Paskah. Limapuluh hari lamanya Gereja bersukacita merayakan misteri Paskah; Tuhan kita yang disalibkan telah mengalahkan maut dan bangkit. Dia telah mengalahkan dunia. Pada Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan atas para Rasul, Gereja dan kita, agar kita dibimbing pada pengertian dan kebenaran akan Tuhan Yesus. Kebenaran itulah yang harus kita wartakan. Kita diminta menjadi saksi. Bagaimana agar Roh Kudus bisa turun pada kita?

Dalam diri kita ada tiga macam kecerdasan, yakni intelektual, emosional dan spiritual
.

 Kecerdasan spiritualdiupayakan lewat belajar, membaca, bernalar.
Kecerdasan emosional diperoleh lewat pergaulan, oleh rasa atas: kegembiraan, kekecewaan dan kesedihan. Kedua kecerdasan di atas berlaku prinsip: semakin berusaha, semakin mendapatkannya. Artinya, usaha manusia merupakan faktor penting untuk mendapatkannya.
 Sementara itu, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang dicurahkan. Artinya, orang menjadi lebih cerdas, jika Allah mencurahkan anugerah-Nya.

 Usaha kita tetap dibutuhkan, untuk membentuk kebiasaan yang memungkinkan hati terlatih. Misalnya, tetap mengusahakan kerajinan dan ketekunan berdoa, bacaan rohani, dan meditasi, mengusahakan waktu-waktu hening agar hati tetap tertata, sehingga memiliki semacam kesiap-sediaan untuk menerima rahmat, jika Allah mencurahkannya. Orang yang cerdas secara spiritual ditandai dengan kemampuan untuk mengampuni, menerima, memahami, mendoakan, berbagi, berlaku rendah hati dan mencintai.

Dalam Injil hari ini dinyatakan bahwa kehadiran Roh Kudus bisa dimulai jika kita mengasihi Tuhan Yesus. Mengasihi Tuhan Yesus adalah bentuk kecerdasan spiritual, yang menurut bacaan hari ini, menjadi syarat agar Roh Kudus bisa turun. Maka, pengalaman akan turunnya Roh Kudus dimulai dari pengalaman akan mengasihi dan dikasihi Tuhan. Ketika ktia mengasihi Tuhan, maka saat itu juga kasih Allah akan merasuk dalam diri kita, sebab Allah adalah Kasih. Ini terjadi seperti dua hati yang saling merindukan dan bertemu dengan yang dirindukan.



 Mencintai Tuhan Yesus, 
pertama-tama adalah kesediaan kita untuk merasakan kasih-Nya yang memang sudah dilimpahkan. 
Inilah langkah awal untuk menjadi pewarta cinta.


Inti dari peristiwa ini adalah bahwa semua murid-Nya harus menjadi saksi. Awal mula dari kesaksian adalah kehadiran Roh Kudus. Seperti Roh Kudus turun atas Tuhan Yesus sebelum perutusan-Nya, demikian pula kesaksian akan terjadi kalau Roh Kudus turun pada kita.   
                                                                        
Maka, sebelum menjadi saksi cinta bagi orang lain, kita sekalian mesti mengalami cinta Tuhan Yesus dan meresapkannya dalam hati serta merayakannya dalam hidup sehari-hari.

Jadi, kebiasaan baik seperti : 

- berdoa, 
- bermeditasi, 
- merasakan keheningan, 
- hidup sederhana, 
- percaya dan beriman dalam untung dan malang, 
- sehat dan sakkit, 
- tawa dan tangis, 
- kelahiran dan kematian, 
harus terus ditumbuhkan dalam diri sendiri. 

Niscaya hidup kita akan menjadi saksi-saksi Kristus yang handal. 


Selamat Hari Raya Pentakosta!


Tuhan berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk membuat kita siap bagi rencana Allah --- St Ireneus

                           gambar :w2heavenwrdpress.com

Madah Pentakosta (Sekuensia) PS 569
(Veni Sancte Spiritus)


1. Ya Roh Kudus, datanglah dari surga sinarkan pancaran cahaya-Mu.
2. Suluh hati, datanglah, Bapa kaum yang lemah, pemberi anugerah.
3. Kau penghibur ulungku, 'Kau sahabat jiwaku, penyejukku yang lembut.
4. Kausegarkan yang lelah, Kautenangkan yang resah; Kau melipur yang sendu.
5. O Cahaya yang cerah, datang dan penuhilah hati kaum beriman.
6. Tanpa kekuasaan-Mu, hampa daya umat-Mu; hanya noda adanya.
7. Yang cemar bersihkanlah, yang kersang siramilah, yang terluka pulihkanlah.
8. Yang keras lunakkanlah, yang beku cairkanlah, yang sesat arahkanlah.
9. Limpahilah umat-Mu yang percaya pada-Mu: sapta karunia-Mu.
10. Dan curahilah anugrah: akhir hidup bahagia, sukacita tak henti.


Sumber ; RD Agus Widodo, Renunganpagi.blogspot.com