Senin, 26 Januari 2015

Retret 9 SMP TARAKANITA GS Villa Bukit Indah



Dokumentasi  retret kelas 9
SMP TARAKANITA GADING SERPONG
VILLA  BUKIT  INDAH







Retret siswa-siswi SMP Tarakanita gading Serpong, Senin-Jumat, 19 – 23 Januari 2015,
 di Villa Bukit Pinus, Cikretek, Ciawi. Jawa Barat







Retret siswa-siswi SMP Tarakanita gading Serpong, Senin-Jumat, 19 – 23 Januari 2015, di Villa Bukit Pinus, Cikretek, Ciawi. Jawa Barat.



    Retreat merupakan suatu bentuk kegiatan khas dalam pembinaan spiritual
Gereja.







Seperti yang dilakukan  Tuhan Yesus beserta murid-muridNya, 
Retret menghentikan segenap kesibukkan mereka, untuk pergi ke tempat sunyi atau ke tempat yang jauh dari keramaian, di daerah pegunungan, di padang gurun, atau suatu tempat yang bisa dituju.










  "Marilah kita ke tempat sunyi, supaya kita sendirian, dan
beristirahat seketika."





Merenungkan dan mendalami isi Firman Tuhan, berkomunikasi lebih intim dengan Tuhan, dan mendengarkan suara Tuhan, untuk mengetahui, apa saja kehendak serta rencana Tuhan atas kehidupan kita, dengan suasana tenang.





Suasana tenang membuat kita dapat lebih berkonsentrasi dan menerima
setiap pengajaran akan isi Firman Tuhan. Suasana tenang juga  membuat kita berkomunikasi dengan Tuhan didalam doa, sehingga bisa merasakan, kalau Tuhan itu begitu dekat dengan kita




Tempat yang tenang, membuat kita dapat merefleksikan apa yang ingin kita nyatakan kepada Tuhan, dan apa yang ingin kita ketahui tentang Tuhan, dengan lebih santai, lebih leluasa, serta lebih bebas.






Peserta retret juga merasakan adanya pertumbuhan iman, kesegaran spiritual, dan pengalaman yang menarik, terutama pada saat berkomunikasi dengan Tuhan atau pada saat memperoleh pengetahuan serta pemahaman benar akan isi Firman Tuhan.



Memuji dan mendengarkan firman Tuhan semakin memperkokoh iman, untuk meniti perjalanan hidup selanjutnya.






Retret merupakan saat bagi para siswa-siswi  untuk melihat diri dan pengalamannya.Mereka diundang untuk mengalami saat-saat di mana dia bisa akrab dengan diri dan dengan Allah. 
Mereka dipanggil oleh Allah sendiri keluar dari rutinitas hidup yang melelahkan dan masuk dalam suasana baru








Peserta retreat akanmelihat diri sendiri, siapakah manusia itu 
di hadapan Allah yang Maha Kuasa.









Merenungkan Firman Tuhan di tempat yang jauh dari keramaian, kiranya
akan menghadirkan visi dan pengenalan yang lebih mendalam akan isi
Firman Tuhan.







Kegiatan retret akan selalu menyegarkan iman
para peserta retreat, serta memberikan pembekalan dan pengetahuan baru
akan isi Firman Tuhan melaui banyak cara antara lain musik, lagu, maupun kegiatan lainnya.


.



Mampu mengungkapkan kegelisahan dan harapan akan menyegarkan serta mendekatkan pada Tuhan.




Kehendak dan keterbukaan diri dengan  mengkomunikasikan pengalaman pahit, sedih, tidak nyaman  dalam kehidupan akan menyadarkan diri sehingga mampu membawa kesadran sampai pada tingkat pertobabatan.









Dalam retret ada kegiatan  sharing dengan sesama peserta retreat. Tujuannya untuk saling meneguhkan dan melengkapi pengetahuan akan isi Firman Tuhan, antara diri kita dengan peserta retreat lainnya.






Kegiatan retreat akan semakin mengakrabkan para
peserta retreat. Kebersamaan yang ada, akan merobohkan tembok pemisah antara satu anggota dengan anggota lainnya. Tidak ada perbedaan derajat atau status sosial








 Kegiatan retreat juga berarti fisik para peserta
retreat dapat menikmati keindahan alam, karya ciptaan Tuhan. Kedamaian yang dihadirkan ditengah-tengah elok dan indahnya alam, diharapkan akan semakin menginspirasi hati serta pikiran para peserta retreat untuk semakin dekat pada Tuhan.




Dokumen foto : Pribadi
Sumber pustaka : diambil dari berbagai sumber.

Bewejanuari2015.

Rabu, 07 Januari 2015

Praktek buat diagram/penampang melintang



PETA TENTANG BENTUK DAN POLA MUKA BUMI

Standar  Kompetensi :
5.  Memahami hubungan manusia dengan bumi

Kompetensi Dasar :
5.1 Mengintepretasikan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.

BENTUK MUKA BUMI PADA DIAGRAM / PENAMPANG MELINTANG

1.       Diagram atau penampang melintang
-          adalah gambaran atau profil relief dari bentuk muka bumi, baik didaratan atau di dasar laut, secara melintang yang diukur dari permukaan air laut.
-          Menyajikan gambaran bentuk muka bumi yang menyerupai atau mendekati bentuk yang sesungguhnya di lapangan.
-          Peta kontur atau peta Topografi umunya digunkan sebagai dasar pembuatan atau penampang melintang.
2.        Kontur merupakan garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat  berketinggian sama.Garis kontur tidak pernah berpotongan satu sama lain dan dibuat  

3.       Tahapan – tahapan pembuatan diagram penampang melintang :
·         Tahap 1        :              
Tentukan wilayah yang akan dibuat diagram penampang melintang.
·         Tahap 2 :
Buatlah garis penampang pada peta kontur, yakni dengan membuat garis melintang atau horisontal pada peta ( jika memungkinkan, buatlah garis yang memotong tiap nilai kontur)
·         Tahap 3 :
Buatlah grafik / diagram ketinggian.
·         Tahap 4 :
Tepat dititik perpotiongan antara garis penampang dan kontur pada peta, tariklah garis Vertikal ke bawah untuk dihubungkan ke grafik/diagram ( sesuai dengan nilai ketinggian masing-masing), sehingga dihasilkan titik perpotongan ketinggian pada grafik/diagram ketinggian.
·         Tahap 5 ;
Hubungkanlah titik-titik  perpotongan pada grafik/diagram sehingga dihasilkan pola bentuk muka bumi yang menyerupai bentuk muka  bumi sesungguhnya.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.



Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.



Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.




Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


 Penanmpang melintang karya praktek pembelajaran 
siswa-siswi SMP Tarakanita Gading Serpong


 Bentuk muka bumi hasil karya siswa-siswi SMP Tarakanita Gading Serpong


 






Selasa, 06 Januari 2015

Pembelajaran Berkarakter, oleh Sidharta Susila



Pembelajaran Berkarakter

 Dokumentasi : koleksi budi

Oleh :  Sidharta Susila Pendidik di Muntilan, Magelang
Kompas, Kamis, 04 September 2014

ENEK juga menyaksikan perilaku sejumlah penguasa dan politisi di media. Namun, itulah realitas perilaku elite politik dan penguasa. Itu juga yang setiap hari dikonsumsi anak didik kita. Adakah yang lebih berguna daripada hanya mengonsumsinya dengan menggerutu dan geram?

Kita sedang berjuang mewujudkan pendidikan yang kontekstual. Salah satu terjemahannya adalah menjadikan realitas hidup sebagai sarana sekaligus obyek pembelajaran. Tak berlebihan jika realitas perilaku sejumlah penguasa dan elite politik dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran. Realitas itu menjadi kesempatan, bahkan anugerah unik, untuk anak didik menjalani proses pembelajaran layaknya para peneliti dunia.

Apa yang bisa dipelajari?

Sesungguhnya tak mudah menemukan media pembelajaran yang bisa membumikan teori-teori rumit yang diajarkan di kelas. Injeksi informasi tak mencukupi ketika peserta didik belum menemukan konteksnya.

Realitas perilaku sejumlah penguasa dan elite politik kita adalah konteks berbagai pembelajaran. Kita bisa memanfaatkannya sebagai tema pembelajaran perilaku, karakter, atau nasionalisme. Pendidik bisa berselancar puas menjelajahi samudra perilaku penguasa dan elite politik kita.

Seperti pagi itu, kami membahas tema peran serta pentingnya aturan dan kebebasan dalam hidup bersama. Obyek pembelajaran adalah perilaku sebagian penguasa dan politisi akhir-akhir ini. Kami berakhir pada pencerahan bahwa peraturan dan kebebasan adalah prasyarat yang penting serta baik dalam hidup bersama.

Namun, ternyata kebebasan pun punya syarat. Kebebasan hanya berguna dan pantas bagi orang-orang yang beretika, bermoral, serta paham filosofi aturan yang mengikatnya. Serentak kami juga belajar bahwa orang yang tidak mampu mengekspresikan hidupnya dengan menjalankan aturan/kesepakatan bersama dengan kebebasan jiwa adalah orang yang kemungkinan lemah etika dan moral serta tak paham filosofi kehidupan.

 Lalu, pembelajaran melebar pada kemungkinan penyebab perilaku sejumlah penguasa dan elite politik. Kami belajar dari kisah para tokoh. Dari kecenderungan perilaku penguasa dan elite yang diamati, kami memperoleh rujukan pada kisah hidup pemikir kekuasaan, yaitu Thomas Hobbes. Pada Hobbes, kami belajar bahwa sejarah hidup membentuk gugus pikir, rasa, serta tindak seseorang tentang kekuasaan.

Di ujung pembelajaran, kami menukik pada kebermaknaan hidup. Ini tema spiritualitas yang disarankan menjadi ujung pembelajaran pada Kurikulum 2013. Kami belajar dari Siddharta Gautama yang mewariskan keutamaan lepas bebas. Perilaku sejumlah penguasa dan elite politik itu mengajarkan kepada kami betapa kasihan mereka yang hidupnya tersandera oleh sebab apa pun. Mereka bisa takabur dan dengan dingin melakukan "penipuan suci" yang ujung-ujungnya melupakan hakikatnya sebagai wakil rakyat.

Rangkaian konflik berkepanjangan bertema perebutan kekuasaan sejak pemilu presiden-wakil presiden hingga yang paling aktual, perebutan kekuasaan kepemimpinan di parlemen, sungguh menjadi berkah bagi pembelajaran tentang kebebasan dan aturan, etika-moral dan filosofi hidup berbangsa-bernegara. Sungguh mengasyikkan menekuni perilaku penguasa dan elite politik sebagai media pembelajaran.

Benarlah tuturan peradaban ini bahwa seorang nabi hanya lahir dari situasi hidup dan peradaban yang kacau. Melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan realitas hidup bersama yang kacau adalah bagian pembelajaran berkarakter nabi. Penyadaran akan realitas hidup serta penajaman etika-moral-prinsip hidup universal adalah prasyaratnya.


Prinsip pembelajaran
Pembelajaran berkarakter nabi meniscayakan pendidik yang berpengetahuan luas serta seorang pribadi yang bebas. Orientasi pembelajarannya pada kebermartabatan hidup, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Ia berusaha mencerahkan hidup anak didiknya. Pendidik juga mesti lihai membuat distingsi antara ekspresi hidup dan subyeknya. Ini perlu agar peserta didik tidak jatuh pada penistaan subyek yang diamati. Bagimanapun, meski sering membuat enek, subyek yang diamati tetaplah manusia yang sedang menziarahi hidupnya. Mereka masih dimungkinkan berubah. Di sinilah pendidik membantu murid untuk memiliki kemampuan memilah ekspresi dan subyek yang berekspresi sebagai pribadi yang tertakdir mulia bermartabat.

Ekspresi penguasa dan elite politik yang sering membuat enek itu memang berguna bagi pembelajaran. Akan lebih berguna bila belajar dari realitas hidup bermartabat, yang mendasarkan pada etika, moral, dan keutamaan universal. Paling elok bila anak kita belajar dari seorang nabi: pecundang petualang politik yang bertobat dan meniti jalan pencerahan.

Sumber :
Kritik bagi pemimpin, doa-bagirajatega.blogspot.com