Oleh:
Anies Baswedan
Sumber : KOMPAS.com , Kamis,
27 November 2014 | 19:53 WIB
Guru
adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama kualitas
pendidikan.
Berapa
jumlah guru yang masih hidup? Itu pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom
atom dijatuhkan di tanah Jepang.
Kisah itu beredar luas. Bisa jadi itu mitos, tetapi narasi itu punya konteks
yang valid: pemimpin ”Negeri Sakura” itu memikirkan pendidikan sebagai soal amat mendasar untuk bangkit, menang, dan kuat.
Ia sadar, bukan alam yang membuat Jepang menjadi kuat, melainkan kualitas
manusianya. Pendidikan jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral.
Pendidikan adalah urusan mendasar bangsa yang lintas sektoral. Hari ini 53
persen penduduk bekerja kita hanya tamat SD atau lebih rendah, yang
berpendidikan tinggi hanya 9 persen.
Pendidikan bukan sekadar bersekolah, melainkan fakta itu gambaran menampar yang
membuat kita termenung. Dari sisi kuantitas, penduduk Indonesia di urutan
keempat dunia, tetapi dari segi kualitas di urutan ke-124 dari 187 negara.
Bangsa ini telah secara "terencana" membuat sebagian besar
penduduknya dicukupkan untuk berlevel pendidikan rendah. Tak aneh jika kini
serba impor karena memang sebagian besar penduduk bekerja kita hanya bisa
menghasilkan produk bernilai tambah yang rendah.
Selama bangsa dan para pemimpinnya bicara pendidikan secara sambil lalu, dan
selama masalah pendidikan dianggap bukan masalah kepemimpinan nasional, jangan
harap masa depan akan bisa kuat, mandiri, dan berwibawa. Kunci
kekuatan bangsa itu pada manusianya. Jangan hanya
fokus pada infrastruktur penopang kehidupan bangsa. Sesungguhya kualitas
infrastruktur kehidupan sebuah bangsa semata-mata cermin kualitas manusianya !
Pendidikan adalah soal interaksi antarmanusia. Interaksi antara pendidik dan
peserta didik, antara orangtua dan anak, antara guru dan murid, serta antara
lingkungan dan para pembelajar. Guru
adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama kualitas
pendidikan.
Berhenti memandang soal guru sebagai "sekadar"
soalnya kementerian atau sebatas urusan kepegawaian. Soal guru adalah soal masa depan
bangsa. Di ruang kelasnya ada
wajah masa depan Indonesia. Gurulah kelompok yang paling awal tahu potret masa
depan dan gurulah yang bisa membentuk potret masa depan bangsa Indonesia. Cara
sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah cermin cara bangsa memperlakukan
masa depannya!
Ya, penyesuaian kurikulum itu penting, tetapi lebih penting dan mendesak adalah
menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan guru. Guru merupakan ujung tombak.
Kurikulum boleh sangat bagus, tetapi bakal mubazir andai disampaikan oleh guru
yang diimpit sederetan masalah. Tanpa penyelesaian masalah-masalah seputar
guru, kurikulum nyaris tak ada artinya.
Guru juga manusia biasa, dengan plus-minus sebagai manusia, guru tetap kunci
utama. Seorang murid menyukai pelajaran bukan sekadar karena buku atau
kurikulumnya, melainkan karena gurunya. Guru yang menyebalkan membuat murid
menjauhi pelajarannya, guru yang menyenangkan dan inspiratif membuat murid
mencintai pelajarannya.
Kita pasti punya banyak guru yang dulu mengajar. Ada yang masih diingat dan ada yang terlupakan. Artinya, setiap guru punya pilihan, mau jadi pendidik yang dikenang karena inspirasinya atau menjadi pendidik yang
terlupakan atau malah diingat karena perilakunya negatif.
Guru harus sadar diri.
Ia pegang peran besar, mendasar, dan jangka panjang sifatnya. Jika seseorang
tak mau menjadi pendidik yang baik, lebih baik berhenti menjadi guru. Terlalu
mahal konsekuensi negatifnya bagi masa depan anak dan masa depan bangsa. Ini
statement keras, tetapi para pendidik dan pengelola pendidikan harus sadar soal
ini. Kepada para guru yang mendidik dengan hati dan sepenuh hati,
bangsa ini berutang budi amat besar.
Tiga persoalan besar
Paling tidak, ada tiga persoalan besar mengenai guru kita.
Pertama,
distribusi penempatan guru tidak merata.
Di satu tempat kelebihan, di tempat lain serba
kekurangan. Kekurangan guru juga terjadi di kota dan di desa yang dekat kota.
Ini harus dibereskan.
Kedua, kualitas guru
yang juga tidak merata.
Kita harus mencurahkan perhatian total untuk
meningkatkan kualitas guru. Mudahkan dan berikan akses bagi guru untuk
mengembangkan potensi diri dan kemampuan mengajar. Bukan sekadar mendapatkan
gelar pascasarjana, melainkan soal guru makin matang dan terbuka luas
cakrawalanya.
Ketiga, kesejahteraan
guru tak memadai.
Dengan
sertifikasi guru telah terjadi perbaikan kesejahteraan, tetapi ada konsekuensi
administratif yang sering justru merepotkan guru dan perlu dikaji ulang. Selain
soal guru honorer, guru bantu yang masih sering diperlakuan secara tak honored
(terhormat). Semua guru harus dijamin kesejahteraannya.
Melihat kondisi sebagian besar guru hari ini, kita seharusnya malu. Kita
titipkan masa depan anak-anak kepada guru, tetapi kita tak hendak peduli nasib
guru-guru itu. Nasib anak-anak kita serahkan kepada guru, tetapi nasib guru
amat jarang menjadi perhatian kita, terutama kaum terdidik, yang sudah
merasakan manfaat keterdidikan. Bangsa Indonesia harus berubah. Negara dan
bangsa ini harus menjamin nasib guru.
Menghormati
guru
Mari, bangun kesadaran kolosal untuk menghormati-tinggikan guru! Pemerintah
harus berperan, tetapi tanggung jawab besar itu juga ada pada diri kita setiap
warga negara, apalagi kaum terdidik. Karena itu, VIP-kan guru-guru dalam semua
urusan!
Guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran
terhormat bagi bangsa.
Saya ajukan dua ide sederhana menunjukkan rasa
hormat kepada guru: jalur negara dan jalur gerakan masyarakat.
Pertama,
negara harus memberikan jaminan kesehatan
bagi guru dan keluarganya, tanpa kecuali.
Kedua,
negara menyediakan jaminan pendidikan
bagi anak- anak guru.
Bangsa ini harus malu jika ada guru yang sudah mengajar 25 tahun, lalu
anaknya tak ada ongkos untuk kuliah. Jaminan kesehatan dan pendidikan
keluarganya adalah kebutuhan mendasar bagi guru. Kita harus mengambil sikap
tegas: amankan nasib guru dan keluarganya sehingga guru bisa dengan tenang
mengamankan nasib anak kita.
Di jalur masyarakat, Gerakan
Hormat Guru harus dimulai secara kolosal. Misalnya, para pilot dan awak
pesawat, gurulah yang menjadikanmu bisa ”terbang”, sambutlah mereka sebagai
penumpang VIP di pesawatmu, undang mereka boarding lebih awal.
Para dokter dan semua tenaga medis,
gurulah yang mengajarimu sehingga bisa berseragam putih, sambutlah mereka sebagai
VIP di tempatmu merawat. Pada pemerintah dan dunia usaha di berbagai sektor,
semua prestasi yang dikerjakan adalah buah didikan guru di masa lalu, VIP-kan
guru, jadikan mereka customer utama, berikan mereka kemudahan, berikan mereka
diskon.
Bukan hanya besaran kemudahan atau diskon, melainkan ekspresi kepedulian itu yang
menjadi bermakna bagi guru. Dan, semua sektor lainnya, ingatlah bahwa
guru merupakan modal awal untuk meraih masa depan yang lebih baik, lebih
sejahtera itu dibangun.
Di setiap kata dalam pesan pendek (sms) yang ditulis, di sana ada tanda pahala
guru. Bangsa ini akan tegak dan disegani saat guru-gurunya terhormat dan
dihormati. Bagi anak-anak muda yang kini berbondong-bondong memilih pendidikan
guru, ingat tujuan menjadi guru bukan cari tingginya rupiah. Anda pilih jalan
mulia, menjadi pendidik. Jangan kemuliaan dikonversi sebatas urusan rupiah, itu
cara pintas membuat kemuliaan alami devaluasi. Kesejahteraan Anda sebagai guru
memang harus terjamin, tetapi biarkan sorot mata anak
didik yang tercerahkan atau cium tangan tanda hormat itu menjadi reward utama
yang tak ternilai bagi anda.
Indonesia akan berdiri makin tegak dan kuat dengan kualitas manusia yang
mumpuni.
Para
guru harus sadar dan teguhkan diri
sebagai
pembentuk masa depan Indonesia.
Jadilah
guru yang inspiratif, guru yang dicintai semua anak didiknya.
Bangsa
ini menitipkan anak-anaknya kepada guru,
sebaliknya
kita sebangsa harus hormati dan lindungi guru dari impitan masalah.
Ingat,
jadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan.
Guru
dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu janji
kemerdekaan republik ini:
mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Jadikan
kami sebangsa makin bangga dan hormat pada guru!