Rabu, 07 Januari 2015

Praktek buat diagram/penampang melintang



PETA TENTANG BENTUK DAN POLA MUKA BUMI

Standar  Kompetensi :
5.  Memahami hubungan manusia dengan bumi

Kompetensi Dasar :
5.1 Mengintepretasikan peta tentang bentuk dan pola muka bumi.

BENTUK MUKA BUMI PADA DIAGRAM / PENAMPANG MELINTANG

1.       Diagram atau penampang melintang
-          adalah gambaran atau profil relief dari bentuk muka bumi, baik didaratan atau di dasar laut, secara melintang yang diukur dari permukaan air laut.
-          Menyajikan gambaran bentuk muka bumi yang menyerupai atau mendekati bentuk yang sesungguhnya di lapangan.
-          Peta kontur atau peta Topografi umunya digunkan sebagai dasar pembuatan atau penampang melintang.
2.        Kontur merupakan garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat  berketinggian sama.Garis kontur tidak pernah berpotongan satu sama lain dan dibuat  

3.       Tahapan – tahapan pembuatan diagram penampang melintang :
·         Tahap 1        :              
Tentukan wilayah yang akan dibuat diagram penampang melintang.
·         Tahap 2 :
Buatlah garis penampang pada peta kontur, yakni dengan membuat garis melintang atau horisontal pada peta ( jika memungkinkan, buatlah garis yang memotong tiap nilai kontur)
·         Tahap 3 :
Buatlah grafik / diagram ketinggian.
·         Tahap 4 :
Tepat dititik perpotiongan antara garis penampang dan kontur pada peta, tariklah garis Vertikal ke bawah untuk dihubungkan ke grafik/diagram ( sesuai dengan nilai ketinggian masing-masing), sehingga dihasilkan titik perpotongan ketinggian pada grafik/diagram ketinggian.
·         Tahap 5 ;
Hubungkanlah titik-titik  perpotongan pada grafik/diagram sehingga dihasilkan pola bentuk muka bumi yang menyerupai bentuk muka  bumi sesungguhnya.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.



Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.



Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.




Siswi kelas 9 SMP Tarakanita Gading Serpong membuat peta kontur 
dalam kelompok kecil.


 Penanmpang melintang karya praktek pembelajaran 
siswa-siswi SMP Tarakanita Gading Serpong


 Bentuk muka bumi hasil karya siswa-siswi SMP Tarakanita Gading Serpong


 






Selasa, 06 Januari 2015

Pembelajaran Berkarakter, oleh Sidharta Susila



Pembelajaran Berkarakter

 Dokumentasi : koleksi budi

Oleh :  Sidharta Susila Pendidik di Muntilan, Magelang
Kompas, Kamis, 04 September 2014

ENEK juga menyaksikan perilaku sejumlah penguasa dan politisi di media. Namun, itulah realitas perilaku elite politik dan penguasa. Itu juga yang setiap hari dikonsumsi anak didik kita. Adakah yang lebih berguna daripada hanya mengonsumsinya dengan menggerutu dan geram?

Kita sedang berjuang mewujudkan pendidikan yang kontekstual. Salah satu terjemahannya adalah menjadikan realitas hidup sebagai sarana sekaligus obyek pembelajaran. Tak berlebihan jika realitas perilaku sejumlah penguasa dan elite politik dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran. Realitas itu menjadi kesempatan, bahkan anugerah unik, untuk anak didik menjalani proses pembelajaran layaknya para peneliti dunia.

Apa yang bisa dipelajari?

Sesungguhnya tak mudah menemukan media pembelajaran yang bisa membumikan teori-teori rumit yang diajarkan di kelas. Injeksi informasi tak mencukupi ketika peserta didik belum menemukan konteksnya.

Realitas perilaku sejumlah penguasa dan elite politik kita adalah konteks berbagai pembelajaran. Kita bisa memanfaatkannya sebagai tema pembelajaran perilaku, karakter, atau nasionalisme. Pendidik bisa berselancar puas menjelajahi samudra perilaku penguasa dan elite politik kita.

Seperti pagi itu, kami membahas tema peran serta pentingnya aturan dan kebebasan dalam hidup bersama. Obyek pembelajaran adalah perilaku sebagian penguasa dan politisi akhir-akhir ini. Kami berakhir pada pencerahan bahwa peraturan dan kebebasan adalah prasyarat yang penting serta baik dalam hidup bersama.

Namun, ternyata kebebasan pun punya syarat. Kebebasan hanya berguna dan pantas bagi orang-orang yang beretika, bermoral, serta paham filosofi aturan yang mengikatnya. Serentak kami juga belajar bahwa orang yang tidak mampu mengekspresikan hidupnya dengan menjalankan aturan/kesepakatan bersama dengan kebebasan jiwa adalah orang yang kemungkinan lemah etika dan moral serta tak paham filosofi kehidupan.

 Lalu, pembelajaran melebar pada kemungkinan penyebab perilaku sejumlah penguasa dan elite politik. Kami belajar dari kisah para tokoh. Dari kecenderungan perilaku penguasa dan elite yang diamati, kami memperoleh rujukan pada kisah hidup pemikir kekuasaan, yaitu Thomas Hobbes. Pada Hobbes, kami belajar bahwa sejarah hidup membentuk gugus pikir, rasa, serta tindak seseorang tentang kekuasaan.

Di ujung pembelajaran, kami menukik pada kebermaknaan hidup. Ini tema spiritualitas yang disarankan menjadi ujung pembelajaran pada Kurikulum 2013. Kami belajar dari Siddharta Gautama yang mewariskan keutamaan lepas bebas. Perilaku sejumlah penguasa dan elite politik itu mengajarkan kepada kami betapa kasihan mereka yang hidupnya tersandera oleh sebab apa pun. Mereka bisa takabur dan dengan dingin melakukan "penipuan suci" yang ujung-ujungnya melupakan hakikatnya sebagai wakil rakyat.

Rangkaian konflik berkepanjangan bertema perebutan kekuasaan sejak pemilu presiden-wakil presiden hingga yang paling aktual, perebutan kekuasaan kepemimpinan di parlemen, sungguh menjadi berkah bagi pembelajaran tentang kebebasan dan aturan, etika-moral dan filosofi hidup berbangsa-bernegara. Sungguh mengasyikkan menekuni perilaku penguasa dan elite politik sebagai media pembelajaran.

Benarlah tuturan peradaban ini bahwa seorang nabi hanya lahir dari situasi hidup dan peradaban yang kacau. Melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan realitas hidup bersama yang kacau adalah bagian pembelajaran berkarakter nabi. Penyadaran akan realitas hidup serta penajaman etika-moral-prinsip hidup universal adalah prasyaratnya.


Prinsip pembelajaran
Pembelajaran berkarakter nabi meniscayakan pendidik yang berpengetahuan luas serta seorang pribadi yang bebas. Orientasi pembelajarannya pada kebermartabatan hidup, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Ia berusaha mencerahkan hidup anak didiknya. Pendidik juga mesti lihai membuat distingsi antara ekspresi hidup dan subyeknya. Ini perlu agar peserta didik tidak jatuh pada penistaan subyek yang diamati. Bagimanapun, meski sering membuat enek, subyek yang diamati tetaplah manusia yang sedang menziarahi hidupnya. Mereka masih dimungkinkan berubah. Di sinilah pendidik membantu murid untuk memiliki kemampuan memilah ekspresi dan subyek yang berekspresi sebagai pribadi yang tertakdir mulia bermartabat.

Ekspresi penguasa dan elite politik yang sering membuat enek itu memang berguna bagi pembelajaran. Akan lebih berguna bila belajar dari realitas hidup bermartabat, yang mendasarkan pada etika, moral, dan keutamaan universal. Paling elok bila anak kita belajar dari seorang nabi: pecundang petualang politik yang bertobat dan meniti jalan pencerahan.

Sumber :
Kritik bagi pemimpin, doa-bagirajatega.blogspot.com

Rabu, 03 Desember 2014

VIP-kan Guru-guru Kita!



VIP-kan Guru-guru Kita!

Oleh: Anies Baswedan

Sumber : KOMPAS.com , Kamis, 27 November 2014 | 19:53 WIB

Guru adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama kualitas pendidikan.



Berapa jumlah guru yang masih hidup? Itu pertanyaan Kaisar Jepang sesudah bom atom dijatuhkan di tanah Jepang.

Kisah itu beredar luas. Bisa jadi itu mitos, tetapi narasi itu punya konteks yang valid: pemimpin ”Negeri Sakura” itu memikirkan pendidikan sebagai soal amat mendasar untuk bangkit, menang, dan kuat.

Ia sadar, bukan alam yang membuat Jepang menjadi kuat, melainkan kualitas manusianya. Pendidikan jangan pernah dipandang sebagai urusan sektoral. Pendidikan adalah urusan mendasar bangsa yang lintas sektoral. Hari ini 53 persen penduduk bekerja kita hanya tamat SD atau lebih rendah, yang berpendidikan tinggi hanya 9 persen.

Pendidikan bukan sekadar bersekolah, melainkan fakta itu gambaran menampar yang membuat kita termenung. Dari sisi kuantitas, penduduk Indonesia di urutan keempat dunia, tetapi dari segi kualitas di urutan ke-124 dari 187 negara. Bangsa ini telah secara "terencana" membuat sebagian besar penduduknya dicukupkan untuk berlevel pendidikan rendah. Tak aneh jika kini serba impor karena memang sebagian besar penduduk bekerja kita hanya bisa menghasilkan produk bernilai tambah yang rendah.

Selama bangsa dan para pemimpinnya bicara pendidikan secara sambil lalu, dan selama masalah pendidikan dianggap bukan masalah kepemimpinan nasional, jangan harap masa depan akan bisa kuat, mandiri, dan berwibawa.
Kunci kekuatan bangsa itu pada manusianya. Jangan hanya fokus pada infrastruktur penopang kehidupan bangsa. Sesungguhya kualitas infrastruktur kehidupan sebuah bangsa semata-mata cermin kualitas manusianya !

Pendidikan adalah soal interaksi antarmanusia. Interaksi antara pendidik dan peserta didik, antara orangtua dan anak, antara guru dan murid, serta antara lingkungan dan para pembelajar. Guru adalah inti dari proses pendidikan. Guru menjadi kunci utama kualitas pendidikan.

Berhenti memandang soal guru sebagai "sekadar" soalnya kementerian atau sebatas urusan kepegawaian. Soal guru adalah soal masa depan bangsa. Di ruang kelasnya ada wajah masa depan Indonesia. Gurulah kelompok yang paling awal tahu potret masa depan dan gurulah yang bisa membentuk potret masa depan bangsa Indonesia. Cara sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah cermin cara bangsa memperlakukan masa depannya!

Ya, penyesuaian kurikulum itu penting, tetapi lebih penting dan mendesak adalah menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan guru. Guru merupakan ujung tombak. Kurikulum boleh sangat bagus, tetapi bakal mubazir andai disampaikan oleh guru yang diimpit sederetan masalah. Tanpa penyelesaian masalah-masalah seputar guru, kurikulum nyaris tak ada artinya.

Guru juga manusia biasa, dengan plus-minus sebagai manusia, guru tetap kunci utama. Seorang murid menyukai pelajaran bukan sekadar karena buku atau kurikulumnya, melainkan karena gurunya. Guru yang menyebalkan membuat murid menjauhi pelajarannya, guru yang menyenangkan dan inspiratif membuat murid mencintai pelajarannya.

Kita pasti punya banyak guru yang dulu mengajar. Ada yang masih diingat dan ada yang terlupakan. Artinya, setiap guru punya pilihan, mau jadi pendidik yang dikenang karena inspirasinya atau menjadi pendidik yang terlupakan atau malah diingat karena perilakunya negatif.

Guru harus sadar diri. Ia pegang peran besar, mendasar, dan jangka panjang sifatnya. Jika seseorang tak mau menjadi pendidik yang baik, lebih baik berhenti menjadi guru. Terlalu mahal konsekuensi negatifnya bagi masa depan anak dan masa depan bangsa. Ini statement keras, tetapi para pendidik dan pengelola pendidikan harus sadar soal ini. Kepada para guru yang mendidik dengan hati dan sepenuh hati, bangsa ini berutang budi amat besar.

Tiga persoalan besar

Paling tidak, ada tiga persoalan besar mengenai guru kita.
Pertama, distribusi penempatan guru tidak merata.
Di satu tempat kelebihan, di tempat lain serba kekurangan. Kekurangan guru juga terjadi di kota dan di desa yang dekat kota. Ini harus dibereskan.


Kedua, kualitas guru yang juga tidak merata.
Kita harus mencurahkan perhatian total untuk meningkatkan kualitas guru. Mudahkan dan berikan akses bagi guru untuk mengembangkan potensi diri dan kemampuan mengajar. Bukan sekadar mendapatkan gelar pascasarjana, melainkan soal guru makin matang dan terbuka luas cakrawalanya.


Ketiga, kesejahteraan guru tak memadai.
 Dengan sertifikasi guru telah terjadi perbaikan kesejahteraan, tetapi ada konsekuensi administratif yang sering justru merepotkan guru dan perlu dikaji ulang. Selain soal guru honorer, guru bantu yang masih sering diperlakuan secara tak honored (terhormat). Semua guru harus dijamin kesejahteraannya.

Melihat kondisi sebagian besar guru hari ini, kita seharusnya malu. Kita titipkan masa depan anak-anak kepada guru, tetapi kita tak hendak peduli nasib guru-guru itu. Nasib anak-anak kita serahkan kepada guru, tetapi nasib guru amat jarang menjadi perhatian kita, terutama kaum terdidik, yang sudah merasakan manfaat keterdidikan. Bangsa Indonesia harus berubah. Negara dan bangsa ini harus menjamin nasib guru.



Menghormati guru

Mari, bangun kesadaran kolosal untuk menghormati-tinggikan guru! Pemerintah harus berperan, tetapi tanggung jawab besar itu juga ada pada diri kita setiap warga negara, apalagi kaum terdidik. Karena itu, VIP-kan guru-guru dalam semua urusan!

Guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa.
Saya ajukan dua ide sederhana menunjukkan rasa hormat kepada guru: jalur negara dan jalur gerakan masyarakat.
Pertama, negara harus memberikan jaminan kesehatan bagi guru dan keluarganya, tanpa kecuali.
Kedua, negara menyediakan jaminan pendidikan bagi anak- anak guru.

Bangsa ini harus malu jika ada guru yang sudah mengajar 25 tahun, lalu anaknya tak ada ongkos untuk kuliah. Jaminan kesehatan dan pendidikan keluarganya adalah kebutuhan mendasar bagi guru. Kita harus mengambil sikap tegas: amankan nasib guru dan keluarganya sehingga guru bisa dengan tenang mengamankan nasib anak kita.

Di jalur masyarakat, Gerakan Hormat Guru harus dimulai secara kolosal. Misalnya, para pilot dan awak pesawat, gurulah yang menjadikanmu bisa ”terbang”, sambutlah mereka sebagai penumpang VIP di pesawatmu, undang mereka boarding lebih awal.

Para dokter dan semua tenaga medis, gurulah yang mengajarimu sehingga bisa berseragam putih, sambutlah mereka sebagai VIP di tempatmu merawat. Pada pemerintah dan dunia usaha di berbagai sektor, semua prestasi yang dikerjakan adalah buah didikan guru di masa lalu, VIP-kan guru, jadikan mereka customer utama, berikan mereka kemudahan, berikan mereka diskon.

Bukan hanya besaran kemudahan atau diskon, melainkan ekspresi kepedulian itu yang menjadi bermakna bagi guru. Dan, semua sektor lainnya, ingatlah bahwa guru merupakan modal awal untuk meraih masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera itu dibangun.

Di setiap kata dalam pesan pendek (sms) yang ditulis, di sana ada tanda pahala guru. Bangsa ini akan tegak dan disegani saat guru-gurunya terhormat dan dihormati. Bagi anak-anak muda yang kini berbondong-bondong memilih pendidikan guru, ingat tujuan menjadi guru bukan cari tingginya rupiah. Anda pilih jalan mulia, menjadi pendidik. Jangan kemuliaan dikonversi sebatas urusan rupiah, itu cara pintas membuat kemuliaan alami devaluasi. Kesejahteraan Anda sebagai guru memang harus terjamin,
tetapi biarkan sorot mata anak didik yang tercerahkan atau cium tangan tanda hormat itu menjadi reward utama yang tak ternilai bagi anda.

Indonesia akan berdiri makin tegak dan kuat dengan kualitas manusia yang mumpuni. 


Para guru harus sadar dan teguhkan diri

sebagai pembentuk masa depan Indonesia.

Jadilah guru yang inspiratif, guru yang dicintai semua anak didiknya.

Bangsa ini menitipkan anak-anaknya kepada guru,

sebaliknya kita sebangsa harus hormati dan lindungi guru dari impitan masalah.

Ingat, jadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan kehormatan.

Guru dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu janji 

kemerdekaan republik ini:

mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jadikan kami sebangsa makin bangga dan hormat pada guru!