Kamis, 03 Juli 2014

Rubuh-rubuh Gedang. Kompas



”Rubuh-rubuh Gedhang” 

gambar : antarafoto.com


Oleh: Sindhunata , Kurator Bentara Budaya
 Kompas, Senin, 14 Oktober 2013


PADA malam 2 Oktober lalu Bentara Budaya Yogyakarta tersulap menjadi langgar. Hampir tiga hari para seniman bekerja keras menutupi sekeliling gedung dengan gedek. Tangganya dilapisi bambu. Atapnya ditutupi rumbai-rumbai ijuk. Penerangannya teplok dan senthir. Seperti sebuah langgar desa di tengah-tengah kota.

Pedesaan yang agraris makin terasa di halaman Bentara Budaya yang lebih dikenal sebagai Pasar Yakopan itu. Pohon-pohon pisang bertebaran di sana. Bergantungan pelbagai hasil bumi, yaitu jagung, salak, kelapa, semangka, pisang, bengkuang, timun, terung, dan sebagainya. Tikar digelar sampai ke jalan raya, yang malam itu ditutup sementara untuk lalu lintas.
Disambut musik rebana, lebih dari seribu orang berduyun-duyun ke sana. Mereka mau mendengar tausiah Kiai H Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari Pesantren Salaf API, Tegalrejo, Magelang, dan Kiai H Mustofa Bisri (Gus Mus) dari Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, yang diminta membuka pameran perupa Nasirun berjudul "Rubuh-rubuh Gedhang". Pameran dibuka dengan ditabuhnya beduk besar oleh dalang wayang suket Slamet Gundono, dilanjutkan Gus Mus.

Dalam perhelatan istimewa yang disebut tablig seni ini, Nasirun memamerkan sembilan beduk besar penuh lukisan. Ia memamerkan figur Wali Sanga, sembilan wali, dalam wayang berukuran raksasa. Dinding dalam gedung pameran dibalut dengan lukisan sepanjang 50 meter. Tablig seni itu memang dimaksud mengenang kembali Wali Sanga, yang menyebarkan Islam pertama kali di Jawa. Wali Sanga dikenal sebagai mubalig dan ulama yang menyebarkan Islam dengan sangat menghargai dan mencintai kebudayaan setempat. Mereka berpegang teguh kepada ajaran Islam. Kendati demikian, mereka berusaha jangan sampai penyebaran agama Islam meniadakan kebudayaan. Mereka menggunakan, bahkan makin menghidupkan dan menyuburkan seni dan kebudayaan menyampaikan ajaran Islam.

Sunan Giri, misalnya, konon banyak menggunakan tembang dolanan anak untuk memasukkan ajaran Islam. Dalam lagu "Padhang-padhang Bulan", diterangkan bagaimana Islam sebagai terang yang telah datang, menerangi dunia, menyingkirkan kebodohan yang menyesatkan. Sunan Kalijaga sangat ahli dalam gamelan dan wayang. Ia menciptakan lakon wayang baru untuk dakwahnya. Bersama Sunan Kalijaga, bukan hanya dakwah Islam yang tersebar, wayang dan gamelan pun makin hidup di tanah Jawa.

Kisah Wali Sanga mungkin beraroma mitos. Seperti mitos lainnya, mitos Wali Sanga mengandung ajaran dan kebenaran yang ingin disampaikan: dakwah tak perlu diwartakan dengan meniadakan kebudayaan atau kesenian. Dalam khazanah Islam, kiranya para wali itu bolehlah disebut sebagai ulama yang berijtihad menyebarkan Islam agar manusia dapat mencapai ihsan sepenuh-penuhnya.

"Rubuh-rubuh Gedhang" kiranya mengajak kita kembali merefleksikan dan menghidupkan ke-ihsan-an dan keijtihadan itu.


Kreator peradaban

Islam bukan hanya agama, melainkan juga the universal way of life. Dalam kesadaran ini, termaktub keyakinan yang indah tentang yang disebut ihsan. Menurut cendekiawan Islam, Bilal Sambur dari Suleman Demirel University Turki, ihsan adalah kesadaran bahwa di dunia ini individu manusia tak berada sendirian, tetapi berada dan hidup dalam kehadiran Allah dengan hati dan budinya. Sambur mengutip Hadis, "tidakkah hidup ini adalah untuk menyembah Allah seakan-akan kamu sedang melihat-Nya, dan sementara kamu belum melihat-Nya, Dia sungguh melihat kamu". Dari situ, tampak Allah adalah "Penjaga", al-Bashir, bagi manusia semua walau manusia tidak melihat-Nya.

Maka, ihsan adalah prinsip yang mengatur pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia. Relasi dengan Allah yang tak terpisahkan itu adalah keadaan manusia yang asali, natural, dan konstan. Dengan relasi ke-ihsan-an itu pula, manusia berhubungan dengan masyarakat dan jagatnya. Di sinilah manusia diminta menjadi spiritual dan etis sekaligus. Manusia diminta jadi human, manusiawi, karena kerelasian itu.

Apakah hidup secara manusiawi itu? Kata Sambur: hidup secara manusiawi adalah hidup yang bercivilisasi. Humanisasi dan civilisasi itu identik sebab, menurut prinsip ihsan, Allah menjaga dan mengamati manusia karena Dia ingin melihat manusia sungguh hidup sebagai insan yang manusiawi dan berkeadaban. Manusia bertanggung jawab menciptakan peradaban sehingga manusia dapat bertanggung jawab di hadirat Allah yang selalu hadir menjaganya.
Jadi, ……ihsan, sebagai kesadaran akan Allah yang selalu hadir dalam hidup ini, adalah prinsip protektif dan asasi bagi kemanusiaan dan peradaban. Jika kehilangan ke-ihsan-an, kita pun akan kehilangan kehidupan kita yang manusiawi dan berkeadaban sebab menjadi tidak sadar akan Allah adalah mendehumanisasi dan mendecivilisasi kehidupan kita. Prinsip ihsan bukan prinsip yang romantis dan mistis dari Islam, melainkan mekanisme fungsional yang memajukan pemanusiaan dan pemberadaban.

Di sinilah Islam jadi pandangan hidup yang mencakup seluruh kehidupan manusia yang berkeadaban. Singkatnya, menurut Sambur, Tuhan menginginkan karya manusia bernama peradaban itu pelengkap bagi karya-Nya, yakni penciptaan. Untuk itu, Sambur mengetengahkan puisi Iqbal:

….Engkau menciptakan malam, aku menciptakan lampu
Engkau menciptakan lempung, aku menciptakan pasu
Engkau menciptakan rimba, gunung gemunung, dan padang pasir, aku menciptakan taman, kebun buah-buahan, dan jambangan-jambangan bunga!
Akulah yang membuat gelas dari batu.…

Peradaban, dengan demikian, bukanlah sekadar runtutan perkembangan ilmu dan teknologi. Lebih dari itu, peradaban adalah suatu pemanusiaan dalam setiap aspek hidup, ilmu, seni, filsafat, estetika, sosial, kultural, politik, dan religius.

Jika pemanusiaan ini dihalangi, pemeradaban akan jatuh ke dalam jahiliyya atau kebarbaran.
 Islam, kata Sambur, sinonim bagi peradaban, sedangkan jahiliyya musuh peradaban. Tanggung jawab universal umat Muslim memperadabkan diri dan melindungi kehidupan peradaban di dunia ini. Sambur mengingatkan, kendati Islam berarti cara hidup berkeadaban, tak berarti semua umat Muslim sudah berkeadaban.

Identitas keberadabannya bergantung pada sudah-belumnya umat Muslim mengaktualkan tanggung jawab keperadabannya. Untuk itu, kriterianya Al amr bil Ma'ruf wa Nahy'an al Mungkar, prinsip memperjuangkan peradaban dan mencegah ke-jahiliyya-an. Umat Muslim harus punya agenda pemeradaban bagi masa kini dan masa depan umat manusia. Untuk itu, umat Islam perlu menafsirkan Al Quran sebagai sesuluh pemeradaban dan keadaban, dan sunah atau paradigma nabi sebagai modal bagi praktik pemeradaban. Tugas utama Muslim adalah menjadi kreator keadaban. Arah pemeradaban ini bukan masa lampau, melainkan masa depan sebab teologi ke-ihsan-an macam itu menolak Muslim sebagai warga masa lampau, tetapi membuat mereka sadar bahwa mereka adalah kreator baru bagi masa sekarang dan masa depan. Umat Muslim harus benar-benar berijtihad memperjuangkan kemanusiaan dan pemeradaban di masa kini dan masa depan.

Banyak sarjana Islam bergulat dengan pengertian ijtihad. Setelah mempelajari tulisan para sarjana Islam, seperti Ibn al-Althir, Ibn Manzur al-Misri, Sa'id al-Khudri, dan Ibn Arbi Dharia'ah, studi Mir Mohammad Ibrahim dari Regional Engineering College, Srinagar, menyimpulkan: ijtihad adalah upaya menggunakan kekuatan, potensi, dan usaha manusia semaksimal mungkin untuk mengolah dan menyelesaikan perkara yang sedang dihadapinya. Dengan ijtihad, manusia dituntut berani berupaya sampai mencapai kemampuannya yang terakhir.

Semula ijtihad dikerjakan dalam wilayah fiqh, yurisprudensi. Seperti kata Mohammad Ibrahim, sarjana Islam terkenal, Ali Shariati tak setuju jika ijtihad dibatasi pada wilayah hukum saja. Ijtihad adalah upaya mencapai pengertian Islam yang berani menerobos dan progresif dalam segala dimensinya. Ijtihad adalah alat yang harus digunakan mencapai pengertian baru tentang Islam, yang mampu secara progresif menghadapi tantangan perubahan zaman dan pandangan hidup manusia. Dengan ijtihad, orang ditantang menemukan makna terdalam pada Al Quran, yang sesungguhnya amat kaya dengan pelbagai aspeknya. Ijtihad akan membantu Islam menemukan kebenaran baru, sejajar dengan evolusi pikiran dan ilmu pengetahuan manusia. Ijtihad akan membantu umat meraih tatanan hidup baru, sesuai dengan kebutuhan yang sedang berubah. Dan bagi institusi, ijtihad adalah kekuatan yang menciptakan gerakan, kehidupan, dan pembaruan kultur Islam.

Menjahit peradaban

Ijtihad berkembang setelah kepergian Nabi, saat umat banyak menghadapi problem baru karena perubahan zaman dan meluasnya khalifah. Dalam wilayah religius, spiritual, dan kultural, ijtihad adalah pintu masuk di mana karavan zaman lewat. Ijtihad adalah terowongan menuju rumah belajar Islam: membuat orang bernapas dengan udara baru dan segar. Dalam sejarah Islam, upaya ini pernah ditutup. Tertutupnya ijtihad membuat lahirnya fatwa yang irasional, menjadikan umat gamang, gagal menghadapi tantangan baru. Kata Shariati, menutup pintu ijtihad sama dengan matinya spirit Islam, yang membuat kebudayaan dan pandangan hidup Islam anakronistis dan ketinggalan zaman.

Kini kiranya saya boleh melihat bahwa Islam adalah agama yang memungkinkan kita semua berijtihad menjadi ihsan yang mengembangkan kemanusiaan dan peradaban. Islam demikian inilah yang mungkin dulu dihayati para pendiri bangsa. Itulah yang membuat mereka yakin bahwa Ketuhanan bagi bangsa Indonesia adalah Ketuhanan yang tak bisa dilepaskan dari kemanusiaan dan peradaban. Demikianlah kata Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila: Dasar kelima (yang kemudian menjadi dasar pertama) adalah Tuhan yang berkebudayaan, yaitu Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur. Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain sehingga segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini akan mendapat tempat sebaik-baiknya.

Betapa konsep ke-ihsan-an terasa sekali dalam kata-kata selanjutnya, saat Bung Karno meyakinkan bahwa Ketuhanan yang Maha Esa adalah dasar yang memimpin cita-cita negara kita, yang memberi jiwa kepada usaha menyelenggarakan segala yang benar, adil, dan baik. Adapun dasar kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kelanjutan dalam perbuatan dan praktik hidup dari dasar yang memimpin tadi. Lalu kata Bung Karno lagi: "Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan "tiada egoisme agama". Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu."
Tak berlebihan kiranya bahwa di Indonesia saat ini terbaca sekali ada ketakutan karena "egoisme agama" yang akhir-akhir ini muncul dengan amat kentara. Ada kekhawatiran, lebih-lebih dari kaum minoritas agama, bahwa kita tidak bisa saling menghormati karena perbedaan agama. Kekhawatiran ini beralasan karena sering mereka ditekan dan ditakut-takuti lewat kekerasan yang mengatasnamakan agama. Maka, Islam sebagai agama mayoritas kiranya perlu berijtihad memberantas kekhawatiran itu. Sudah saatnya, dengan prinsip ke-ihsan-an yang dimilikinya, Islam di Indonesia berijtihad untuk benar-benar melahirkan Ketuhanan yang diinginkan cita-cita Pancasila, yakni Ketuhanan yang berkebudayaan dan berbudi pekerti luhur sehingga pemeluk-pemeluknya menjadi para ihsan yang mencintai peradaban dan kemanusiaan, yang menjaminkan kehidupan bersama, di mana para warganya dapat menghayati keyakinan dan agamanya dengan bebas dan saling menghormati.

Dalam itulah kiranya kita boleh mengapresiasi pameran seni rupa Nasirun kali ini. Nasirun menorehkan lukisannya di atas beduk raksasa. Dengan suaranya yang khas, beduk memanggil kita bersembahyang, saat kita sujud menghadap Allah dan menyadari ke-ihsan-an kita. Beduk membawa kita sadar bahwa kita selalu berada dalam relasi dengan Tuhan. Dan relasi itu mengharuskan kita bersama-sama dengan manusia lain menggalang kemanusiaan dan peradaban.    Nasirun menghadirkan bukan hanya satu, melainkan sembilan beduk. Bersamaan dengan itu, ia juga membuat sembilan wali dalam rupa sembilan wayang. Ini semua seakan-akan hendak memanggil kembali Wali Sanga, para mubalig yang menyebarkan agama Islam sambil mencintai kebudayaan dan melahirkan peradaban. Dengan segala ijtihadnya, mereka membuat Islam sebagai agama yang berkebudayaan.


Sumber diambil ; Kritik bagipemimpin. Linkis.com
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002531168
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sekali lagi : sumpah pemuda.Kompas



Sekali Lagi: Sumpah Pemuda
Oleh: Henny Supolo Sitepu
Kompas, Senin, 28 Oktober 2013



 
gambar : www.inspira.tv


Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Air Indonesia,

Kami Poetra dan Poetri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia,

Kami Poetra dan Poetri Indonesia Menjoenjoeng Bahasa Persatoean,
Bahasa Indonesia".


Betapa indahnya bunyi sumpah yang diikrarkan delapan puluh lima tahun lalu. Lebih terasa indah lagi membayangkan sejumlah wakil organisasi pemuda, di antaranya Jong Java, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Jong Sumatranen Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dan Pemuda Tionghoa. Delapan puluh lima tahun merupakan waktu yang cukup lama. Apa yang telah kita warisi dari semangat dan keindahan itu?
Pemberitaan mengenai pemuda di media memperlihatkan kekerasan terjadi dalam berbagai lini dan meruyak dalam berbagai bentuk. Terakhir kita mendengar penyiraman air keras di beberapa tempat dan pemaksaan yang dilakukan pada siswa yunior untuk melakukan hubungan seksual yang disaksikan dan direkam senior-seniornya. Apa yang tengah terjadi di pemuda kita? Di mana semangat membangun dan jiwa persatuan mereka? Semangat Sumpah Pemuda yang melihat ke masa depan Indonesia gemilang terasa jauh.
Padahal, pemuda kita saat ini jelas ikut membangun bangsa dalam porsi masing-masing.
·         Kita melihat perkembangan pesat pola kegiatan Indonesia Mengajar dalam bidang pendidikan.
·         Para pemuda yang tergabung dalam tim Pencerah Nusantara mengambil porsi pendampingan masyarakat di bidang kesehatan.
·         Atau Kegiatan Sabang Merauke yang memberikan kesempatan siswa dari daerah terpencil tinggal di kota bersama keluarga dengan latar belakang budaya berbeda untuk memberikan pemahaman keragaman budaya yang kita miliki dan masih banyak lagi.
Sayangnya, semangat para pemuda di atas tertutup oleh pemberitaan kekerasan oleh pemuda juga yang tidak mungkin kita ingkari.
Bagaimana Sumpah Pemuda dihayati di sekolah-sekolah?
Mudah ditemukan Sumpah Pemuda diikrarkan saat upacara tanpa penjiwaan. Siswa tidak mendapatkan rasa kepemilikan pada ikrar penting yang layak dimaknai.
Lebih jauh lagi, Yayasan Cahaya Guru menemukan beberapa penolakan sekolah, meski secara halus, untuk melakukan upacara bendera. Kegiatan reflektif penghayatan ikrar persatuan sangat dibutuhkan. Penolakan, apa pun alasannya, menunjukkan gagalnya pemaknaan dan kegembiraan mengecap udara "merdeka" yang telah diupayakan para pejuang pendiri negeri ini. Mengapa demikian?

Tidak ikut memiliki

Tampaknya, penekanan pada kegiatan akademis membuat guru terengah-engah. Ujian nasional (UN) yang menjadi tujuan akhir, tanpa menimbang keragaman kondisi guru, sekolah, dan siswa turut menciptakan suasana pembelajaran yang sangat rutin jauh dari pertanyaan-pertanyaan dasar dalam proses pembelajaran, yaitu mengapa penting? Bagaimana artinya untuk proses pembelajaran siswa?
Saat kelulusan menjadi tujuan satu-satunya, sementara proses untuk mendapatkan kelulusan itu tidak dipentingkan, maka siswa tidak akan ikut merasa memiliki proses pembelajaran yang terjadi dalam dirinya sendiri. Doni Koesoema dalam artikelnya "Kanibalisasi di Dunia Pendidikan" menyebut UN "membuat semua bergembira kecuali siswa" (Kompas, 22 Oktober 2013).
Masuknya kegiatan pramuka sebagai ekstra kurikuler wajib dalam Kurikulum 2013 juga merupakan pemaksaan yang menyalahi roh kepanduan.
 Kegiatan pilihan yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi beban saat diwajibkan. Perubahan mendasar menghilangkan esensi pramuka dan merupakan pelanggaran terhadap UU Kepramukaan Pasal 20 Ayat 1 UU No 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka yang "bersifat mandiri, sukarela, dan nonpolitis." Pelanggaran UU yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merupakan contoh lain sikap kekuasaan yang tidak memahami pentingnya perasaan kepemilikan pemuda.
UU Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan dalam Bab II Pasal 3 bahwa "Pendidikan nasional… bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab." Dari sekian banyak kata kunci di atas, "akhlak mulia" sering sekali disebut termasuk dalam tujuan Kurikulum 2013. Padahal "akhlak mulia" sulit digambarkan dan diukur. Pilihan kata yang akrab dalam keseharian dan netral dalam pengertian akan memudahkan timbulnya rasa kepemilikan. Pilihan kata juga berkaitan dengan kerendahan hati dan pemahaman adanya keragaman.

Di mana negara berada?

Pertanyaan ini sangat mudah terlontar ketika kita menyaksikan pergeseran sekolah negeri seakan-akan "didominasi"oleh penganut agama mayoritaspada tempat sekolah itu berada. Sekolah negeri dengan fungsinya sebagai penyemai keragamandan kebangsaan utama pelan-pelan meninggalkan semangat yang delapan puluh lima tahun diikrarkan. Justru dalam sisi ini negara bisa segera melakukan perannya. Kemdikbud bisa dengan mudah memastikan bahwa semua kegiatan pendidikan, termasuk tata cara upacara dan ketentuan berpakaian, tidak dilakukan berdasarkan ajaran agama mayoritas. Bahkan ditemukan seragam sekolah negeri di mana siswa nonmayoritas diminta menggunakan simbol agama masing-masing yang dipasang pada seragam hari tertentu.
Melalui intervensi Kemdikbud, setiap insan di sekolah negeri selayaknya diberi kesempatan untuk memilih ekspresi yang dikehendaki dalam kaitannya dengan agama atau kepercayaan yang mereka anut. Bukan menyeragamkan, melainkan memastikan suburnya keragaman. Karena hanya dengan inilah sesungguhnya Sumpah Pemuda yang diikrarkan sungguh dihayati dan tecermin dalam kegiatan sehari-hari.
Memaknai Hari Sumpah Pemuda bisa dilakukan dalam keseharian yang sama sekali tidak rumit. Marilah mulai mendengarkan dan mencontohkan. Mari memakai segenap indera, hati, dan kemampuan berpikir agar terjadi keselarasan keragaman yang membuat hidup lebih indah.

Sumber : Kritik bagi pemimpin.linkis.com
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002807197
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kebudayaan dan peradaban, kompas



Kebudayaan dan Peradaban


Penulis :Daoed Joesoef,  Alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
Kompas, Selasa, 22 Oktober 2013

gambar : deulfah1amtk.blogspot.com





              ORANG sering mengacaukan pengertian "kebudayaan" dan "peradaban". Kerancuan ini berpeluang terjadi karena kedua istilah tersebut mewakili konsep yang sama, yaitu sistem nilai yang dihayati manusia dalam berkehidupan manusia, hingga kebiasaan turut memengaruhi penggunaannya.

Jangankan orang awam, para ilmuwan pun kerap tidak membedakan pengertian kedua istilah tadi dan memakai kedua-duanya secara bergantian. Sejarawan Arnold Toynbee, misalnya, memberikan judul karyanya yang monumental, Civilization on Trial, bukan "Culture on Trial". Namun, ketika dalam karyanya ini dia membahas peradaban China, dia jelas menggunakan istilah civilization, meliputi baik "peradaban" maupun "budaya".

Konsep pembudidayaan

Demi memupus kerancuan, para pemikir Jerman pada abad XIX telah mengetengahkan suatu solusi. Walaupun "kultur" (kebudayaan) dan "zivilisation" (peradaban) sama-sama menggambarkan perkembangan dan kemajuan manusia,

"budaya" mengacu pada aspek spiritual dari kehidupan manusia, sedangkan "peradaban" merujuk pada aspek teknologisnya.


Dengan begitu, mereka berkesimpulan:

istilah "budaya"
meliputi bahasa, ilmu pengetahuan, agama, pendidikan, dan seni/kiat/keterampilan (arts) sebagai faktor-faktor pengembang pikiran manusia.

Sementara "peradaban"
adalah istilah konseptual yang terkait secara integral pada industri, teknologi, ekonomi (dalam artian kegiatan), dan hukum (dalam artian peraturan perundang-undangan), yang dibina untuk mengontrol alam agar memenuhi kebutuhan manusia.


Apabila demikian kita bisa saja menulis "Sejarah Kebudayaan Nusantara" di samping "Sejarah Peradaban Nusantara" selama dan sejauh kita membahas aspek-aspek yang berbeda dari kehidupan manusia-manusia di bumi Nusantara ketika itu. Jadi apabila kita menerima distingsi antara istilah kebudayaan dan peradaban, kita anggap masing-masing mewakili pandangan yang berbeda tentang fenomena yang sama, di mana kebudayaan berpembawaan deskriptif, sementara peradaban valuatif.

Asal-usul linguistik dari kedua istilah ini (di Barat) turut membantu pemahaman kita mengenai makna kedua istilah tadi. Culture berakar kata sama dengan cultivation yang berarti "menumbuhkan" (growing) atau "pembudidayaan" (cultivation). Sementara civilization berasal dari kata "civic" dan "civil" yang berkaitan dengan "city" (kota) dan "citizen" dalam arti "warga kota" dan di tahap selanjutnya "warga negara" (berhubung "city-state" berkembang menjadi "nation-state").

Kota/negara dan warganya menggambarkan tahap pembudidayaan yang maju atau wujud keberhasilannya. Makhluk hewan survive dengan mematuhi hukum-hukum alam. Hanya manusia yang membudidayakan alam. Maka, pembudidayaan atau budaya menggambarkan hubungan yang spesifik antara manusia dan alam.

Jika demikian, baik manusia primitif maupun modern sama-sama berorientasi budaya, culture oriented. Perbedaan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern hanya dalam karakteristik kebudayaannya masing-masing. Kedua masyarakat tersebut dapat dievaluasi melalui ekstensi dan kualitas dari pembudidayaan masing-masing.

Jadi, dari sudut pandang ini, masyarakat human dapat dibedakan satu dengan yang lain. 

Peradaban adalah suatu pendekatan konsep pembudidayaan, yaitu budaya yang berkembang ke satu tingkat tertentu

Berarti, budaya perlu berkembang atau dengan sadar dikembangkan hingga ke satu tingkat tertentu untuk bisa dikualifikasi sebagai peradaban

Hal ini ditegaskan sekali oleh Park Ynhui, guru besar filosofi dari Pohang University of Science and Technology.


Kongres kebudayaan?

Berhubung sejarah kebudayaan manusia berkembang dari suatu keadaan primitif, sejarah makhluk manusia kiranya perlu dianggap sebagai sejarah dari kebudayaan dan bukan sejarah dari peradaban. Namun, harus diakui bahwa di satu titik pada tahap peralihan perkembangan, kelihatan menonjol sekali nilai-nilai serupa pada kebudayaan dan peradaban yang bisa dan sudah membingungkan tanggapan pemerhati. 

Nilai adalah "genus" dari semua "spesies" yang tercakup dalam pengertian kebudayaan (industri, teknologi, dan lain-lain).

Nilai adalah segala sesuatu yang kita pakai sebagai standar dalam menimbang (judgement) dan/atau yang bernilai itu sendiri (bernilai intrinsik), yang sebagian besar berupa hal yang nirwujud (intangible), seperti ide dan ilmu pengetahuan.

Walaupun begitu, ia, pada hakikatnya, bukan merupakan aturan (rules), melainkan iluminasi yang begitu mendalam hingga di bawah sorotan pencerahannya menjadi begitu tajam terpampang batas-batas antara adil dan tak adil, baik dan buruk, alat (means) dan tujuan (ends).

Kongres kebudayaan yang menghabiskan begitu banyak waktu, energi, dan biaya, seharusnya membahas aspek dan faktor penentu dalam perkembangan (nilai) kebudayaan ke arah (nilai) peradaban yang begitu kompleks. Dalam perkembangan itu, sejarah human mengingatkan kita bahwa kebudayaan menjadi nilai-nilai yang masih melekat dalam pikiran (ingatan) dan masih hidup dalam perbuatan, jika yang lain-lain telah dilupakan. Yang dilupakan ini seharusnya hilang bukan karena dibuang di tong sampah atau dikubur dalam-dalam, tetapi karena menyatu dalam nilai/bentuk baru (peradaban), bagai garam yang cair dalam makanan atau local genius luluh dalam kearifan nasional atau fisika klasik lebur dalam fisika modern.

Kompleksitas ini berarti bahwa kongres kebudayaan harus bisa melibatkan sebanyak mungkin pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai vokasi, profesi, dan disiplin, bukan hanya pejabat publik yang bertugas sekadar memberikan "pengarahan/petunjuk". Berhubung pembahasan ada kalanya bernada kritis, kritik ini pun perlu diketengahkan secara intelektual tanpa bersifat intelektualitas.

Intelektual adalah persona yang pembawaannya berdimensi lima:
(i)                           : suatu aksi penghayatan vokasional/profesional yang berbobot budaya,
(ii)                        : suatu peran sosiopolitis,
(iii)                      : suatu kesadaran yang mengacu ke universalitas,
(iv)                      : suatu pembangkangan yang bertanggung jawab, dan
: suatu pancaran nurani yang bersih dan murni.


Hanya dengan berpembawaan intelektual demikian, para peserta kongres kebudayaan bisa kiranya mencegah dirinya tidak menjadi berupa sendok. A spoon does not know the taste of soup, nor a learned fool the taste of wisdom.

Sumber : kritik bagi pemimpin.linkis.com
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000002754450
Powered by Telkomsel BlackBerry®