Rabu, 06 Maret 2013

Guru mbeling.kompas



Kliping

Guru mbeling


                      gambar : terapung.com



Kompas, Kamis, 7 Maret 2013.
Oleh SIDHARTA SUSILA, 
 Pendidik: Tinggal di Muntilan, Magelang


KOMPAS.com - Bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 sudah beres. Akan tetapi, bagi sejumlah pengamat dan kelompok peduli pendidikan, kurikulum ini masih perlu dikritisi serta disempurnakan. Beberapa di antaranya bahkan secara tegas menolak.

Siapkah para guru menerapkan kurikulum ini? Rasanya kita butuh guru-guru mbeling ketika menerapkan Kurikulum 2013.

Istilah mbeling yang berasal dari bahasa Jawa menyiratkan sifat nakal, suka memberontak terhadap kemapanan, dan sering kali melakukan tindakan di luar kebiasaan. Namun, mbeling berbeda dengan asal-asalan. Pada mbeling terkandung unsur kesadaran, nalar, serta tanggung jawab atas ekspresi mbelingnya. Mbeling dipilih demi memperjuangkan hal-hal yang prinsip. Pada mbeling sesungguhnya mensyaratkan kesadaran, kecerdasan, otentisitas, tanggung jawab, serta keberanian.

Sikap mbeling sering kali dipilih bukan demi kepentingan diri semata. Sikap mbeling sering kali justru dipilih untuk memperjuangkan dan merawat kehidupan. Karena itu, mbeling sering kali menjadi ekspresi panggilan jiwa untuk memperjuangkan prinsip dan merawat kehidupan.

Guru mbeling adalah guru yang sadar akan panggilan jiwanya sebagai pendidik. Guru mbeling sadar akan hal-hal yang membatasi kreativitas dan perjuangan mendidik dengan benar serta bertanggung jawab. Demi prinsip pendidikan, martabat, dan panggilan jiwanya sebagai pendidik, ia berani bersusah-susah dan memperjuangkan pembelajaran di luar kebiasaan.

Dunia pendidikan bertaburan guru mbeling. Dari merekalah kini kita bisa beroleh inspirasi serta terobosan-terobosan pembelajaran. Cara didik Anne Sullivan terhadap Helen Keller adalah salah satu contohnya. Kembelingan Anne Sullivan tidak hanya menyelamatkan Helen Keller. Mereka melahirkan metode pembelajaran yang mencerahkan nasib berjuta anak buta dan tuli.

Guru Erin Gruwell pada film Freedom Writers adalah contoh lain guru mbeling. Sikapnya yang pantang menyerah terhadap kelasnya yang urakan dan mencekam, serta pesimisme rekan guru di sekolahnya, membuat tubuhnya dilimpahi adrenalin. Ekspresi mbelingnya mewujud dalam keberanian menentukan formasi tempat duduk para muridnya, membuat dinamika kelompok untuk mencairkan ketegangan, juga kreativitasnya menuntun para murid untuk mencairkan beban hidup lewat penulisan buku harian. Buah laku mbeling Erin Gruwel adalah solidaritas dan gairah belajar para muridnya.

Ada juga Mr Sosaku Kobayashi, kepala sekolah Tomoe Gakuen tempat Totto-chan belajar (pada novel Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela). Sikap mbelingnya menciptakan kesempatan belajar bagi banyak anak ”aneh” yang karena ”keanehannya” tak punya tempat belajar di sekolah ”normal”. Keberanian Mr Kobayashi meramu model pembelajaran yang tidak biasa pada masa itu adalah ekspresi sikapmbelingnya yang nyata. Di Indonesia, pendidik mbeling pernah hadir pada sosok Romo Mangun dengan SD Mangunannya itu.

Konteks Kurikulum 2013

Guru mbeling nan unik lainnya adalah Wei Minzhi pada film Not One Less. Ia guru pocokan. Usianya 13 tahun. Guru Wei akhirnya mbeling karena harus mencari Zhang Huike, murid bengal yang terpaksa harus ke kota demi mencari uang untuk pengobatan ibunya. Seperti digagas Emmanuel Levinas, perlahan, tahap demi tahap, nurani guru Wei terkoyak oleh paparan duka muridnya. Koyakan nurani yang serentak menuntut tanggung jawab moral itulah yang menjadikan guru Wei mbeling.

Opini mengenai Kurikulum 2013 yang telah banyak dibahas di Kompas mestinya memancing sikapmbeling para guru di negeri ini. Sejumlah alasan mestinya mengoyak nurani pendidik dan serentak merasa dituntut ikut bertanggung jawab. Sebutlah, misalnya, analisis Kurikulum 2013 yang absurd, tidak menampung keinginan tahu, pembentukan sikap kritis, pendangkalan materi, kelemahan pembelajaran bahasa, hingga kurang matangnya program pelatihan (Kompas 22/2; 24/3).

Memang tidak mudah membuat kurikulum yang sempurna. Karena itu, seperti kata Anita Lie (26/2), hendaklah guru sadar bahwa ia harus menjadi sopir yang baik saat mengemudikan Kurikulum 2013 kelak. Hanya sopir yang baik yang dapat membawa penumpang (baca: murid) sampai di tempat yang benar dengan selamat.

Sesungguhnya guru yang berperan sebagai sopir yang baik bagi kurikulum yang masih ditemukan banyak kelemahan meniscayakan keberanian, kecerdasan, tanggung jawab moral, bahkan kepiawaian mengemudikan dengan cara-cara yang tidak biasa. Itu artinya, demi suksesnya Kurikulum 2013 guru negeri ini wajib mbeling.

Beranikah para guru kita bersikap mbeling dalam mengemudikan Kurikulum 2013? Improvisasi dan ragam pembelajaran mbeling sering kali tak mudah dilakukan di negeri ini. Salah satu hadangan berat adalah ketika pada akhirnya harus menjalani perhelatan ujian nasional. Pembelajaran mbeling, meski demi kepentingan anak didik, akhirnya menjadi pertaruhan.

Masih berani menjadi guru mbeling?

Selasa, 05 Maret 2013

Foto hasil Karya siswa IPS Geo


Galeri foto hasil karya siswa KELAS 7 
SMP TARAKANITA GADING SERPONG 
Mata pelajaran IPS Geografi

Angkatan 2010-2011






























semua gambar dokumen : bewe























Geo 7 Peta, atlas, dan globe



Peta, atlas , dan globe





Standar Kompetensi :
 4.  Memahami usaha manusia untuk mengenali perkembangan lingkungannya.

Kompetensi Dasar  :
4.1. menggunakan peta, atalas, dan globe untuk mendapatkan informasi keruangan.


DISUSUN OLEH :

F. Budi Wibowo, S.Pd, guru IPS SMP Tarakanita Gading Serpong.
Blog : mimbarpena2021.blogspot.com


Peta atlas dan globe
1.     Kartologi adalah ilmu yang mempelajari peta
2.     Peta
Adalah gambaran konvensional muka bumi atau benda angkasa, yang meliputi perwujudan, letak, maupun data yang berkaitan, seperti tampaknya pabila dilihat dari atas.

3. Syarat peta secara umum
a. Jelas dan tidak membingungkan
b. Mudah dimengerti maknanya
c. Memberi gambaran mirip dengan wujud dan letak yang sebenarnya
d. Sedap dipandang, menarik, rapid dan bersih

4.     Syarat-syarat peta secara khusus
a.     Judul peta
: mencerminkan isi peta.
b.     Skala peta
·        merupakan perbandingan jarak dipeta dan jarak di lapangan.
·        menurut jenisnya, skala peta dibedakan menjadi 3 macam, yaitu
§  Skala angka / numerik
yaitu skala yang dinyatakan dengan angka. Contoh 1 : 500.000 artinya setiap 1 cm dipeta menggambarkan 500.000 cm di jarak yang sebenarnya.
§  Skala garis (grafis)
yaitu skala yang dinyatakan dengan garis / grafik. Contoh skala angka di atas bila diubah menjadi skala grafis akan menjadi

§  Skala Verbal :
Yaitu sekala yang dinyatakan dengan kalimat. Contoh satu sentimeter sama dengan lima kilometer.

c.      Orientasi peta (petunjuk arah)
·        adalah petunjuk arah pada peta yang menunjukkan arah utara.
 symbol anak panah dan diberi huruf  U.
d.     Sumber peta
e.      Tahun pembuatan
f.       Insert peta
·        berfungsi sebagai petunjuk lokasi daerah yang dipetakan terhadap daerah sekitarnya.
·        ada 2 maccam insert :
§  Insert pembesaran :           
: berfungsi menerangkan dan meperjelas informasi penting dari suatu lokasi atau wilayah peta utama yang kenampakannya kecil (tidak jelas).

§  Insert lokasi wilayah :
berfungsi memberikan gambaran yang baik mengenai posisi geografi daerah yang dipetakan terhadap daerah sekitarnya.
g.     Warna peta
·        mewakili objek dilapangan sehingga memiliki kemiripan dengan objek sesungguhnya di lapangan.
h.     Tulisan (laterring)
·        berfungsi memebrikan penjelasan terhadap informasi lokasi, letak, dan kenampakan objek di dalam peta.
·        Macam huruf :
§  Huruf romawi
§  Huruf italic
§  Huruf gothic
§  Huruf gothic miring
i.       Garis tepi peta
·        berfungsi membatasi peta dengan semua komponen peta antara daerah yang dipetakan dengan daerah disekitarnya.

j.       Garis astronomi
·        berfungsi memberikan informasi posisi atau letak suatau dearah yang dipetakan berdasarkan letak lintang dn bujurnya.
·         koordinat dibedakan 2 macam :
§  Koordinat Lintang dan bujur
§  Koordinat X dan Y
k.     Legenda peta

 
5.     Simbol menurut sifatnya
·        Simbol kualitatif 
: simbol pada peta yang tidak menmencerminkan  jumlah, angka atau volume tertentu atau seperti symbol batas provinsi atau letak ibu kota  
·        Simbol kuantitatif
: simbol yang memuat unsur nilai, angka ayau jumlah, seperti symbol jumlah penduduk, luas lahan, dan jumlah hasil pertanian.

6.     Simbol menurut bentuknya
·        Simbol titik (poin)         menandai tempat : titik, kotak, segitiga, masjid, gereja.
·        Simbol garis (line) kenampakan jalan raya, sungai, batas adminitrasi.
·        Simbol luas (area) kenampakan hutan dan perkebunan, pemukiman, iklim.
·        Simbol warna (color) kenampakan laut, sungai, dataran rendah, dan sejenisnya.



7.     Atas dasar skalanya,peta dapat digolongkan menjadi lima
1)      Peta kadaster (peta skala sangat besar) adalah peta yang berskala 1 : 100 – 1 : 5.000
2)      Peta skala besar adalah peta yang berskala 1 : 5.000 – 1 : 250.000
3)      Peta skala sedang adalah peta yang berskala 1 : 250.000 – 1 : 500.000
4)      Peta sekala kecil adalah peta yang berskala 1 : 500.000 – 1.000.000
5)      Peta skala geografis, yaitu peta dengan skala lebih kecil dari 1 : 1.000.000. peta skala geografis sering dinamakan dengan peta skala tinjau.

8.     Jenis peta
a.     Peta induk/peta dasar
·        Merupakan hasil survey permulaan dari geodesi
·        Dapat digunakan untuk membuat peta-peta lain
·        Masih membutuhkan materi-meteri tambahan
·        Hanya mencakup data-data pokok atau penting.

b.     Peta Topogafi
·        Peta yang menggambarkab kenampakan umum permukaan bumi secara detail.

c.      Peta tematik
·        Peta yang menampilkan tema tertentu atau khusus
§  Peta statisti Kualitatif
: peta yang menggambarkan penyebaran jenis data anpa memperhitungkan jumlah data

§  Peta dinamik
: peta yang menggambarkan penyebaran jenis data sekaligus memperhitungkan besaran data.

9.     Manfaat peta umum / peta topografi
1)    Untuk mengetahui daerah pegunungan, dataran rendah, dataran tinggi, danau, laut dan kenampakan yang lain dengan melihat simbol – simbol yang ada pada peta
2)    Untuk mengetahui letak suatu wilayah dengan pertolongan garis lintang dan garis bujur
3)    Untuk menetukan daerah waktu, dengan pertolongan garis bujur
4)    Untuk menetukan daerah iklim matahari dengan pertolongan garis lintang
5)    Sebagai sarana pemandu wisata untuk menunjukkan tempat – tempat wisata

10.      Manfaat peta khusus / peta tematik
1)    Untuk mengatahui penyebaran daerah penghasil bahan tambang
2)    Untuk mengetahui penyebaran penduduk dan jumlah penduduk
3)    Untuk mengetahui penyebaran daerah penghasil padi, jagun

11.   Bentuk peta
a.     Peta Analog
·        Peta Planimetri ( datar/dua dimensi)
·        Peta streometri ( timbul/tiga dimensi)
·        Peta digital ( dibuat dari komputer )

12.     Pengertian Atlas
Adalah sekumpulan peta yang dijilid menjadi satu dalam buku dengan bahasa, symbol, dan proyeksi yang umumnya seragam.


13.     Menurut keluasan wilayah, atlas ada tiga :
1)    Atlas nasional, berisi informasi geografis dan data terkait pada suatu wilayah/negara tertentu
2)    Atlas dunia, menyajikan informasi tentang keadaan dunia seutuhnya mencakup benua, samudra, laut, pulau, kepulauan, dan lian – lain
3)    Atlas semesta, menyajikan informasi tentang keadaan alam jagad raya

14.    Menurut temanya, atlas ada tiga :
1)    Atlas geografis
2)    Atlas sejarah
3)    Atlas sumber daya

15.    Unsur – unsur atlas. Atlas yang baik dan benar harus memiliki beberapa unsur. Adapun unsur atlas, antara lain :
§  Judul atlas
§  Daftar isi
§  Tahun pembuatan atlas
§  Legenda
§  Indeks

16.     Syarat-syarat Atlas
a.     Menggambarkan suatu daerah dengan data yang akurat. Misalny Negara-negara atau benua.
b.     Memiliki formulasi warna atau symbol lain yang tepat sehingga tampak menarik
c.      Menggunakan proyeksi peta tertentu yang disesuaikan dengan tujuan
d.     Memiliki atribut dan informasi yang lengkap

17.     Jenis-jenis Atlas
a.     Atlas nasional : berisi informasi dan data terkait suatu wil/Negara tertentu.
b.     Atlas dunia      : menyajikan informasi tentang keadaan dunia seutuhnya mencakup benua, samudra, laut, pulau, kepulauan, dan lain-lain.
c.      Atlas semesta  : menyajikan informasi tentang keadaan alam jagat raya.

18.  Penggunaan Atlas, sebagai sumber  informasi geografi :
a.     Bentuk fisik suatu Negara atau benua
b.     System tata surya, rasi bintang, peta langit, dan tata koordinat bintang
c.      Letak astronomi, letak geografis, serta luas suatu negra dan benua di muka bumi.
d.     Kondisi fisik bumi, bentang alam, tata air dan arus laut dunia, serta pembagian 
      waktu
e.      Letak sumber daya alam potensial yang bersifat hayati dan nonhayati di daratan dan lautan.
f.       Agihan atau persebaran suatu objek tertentu serta pertumbuhan sosial ekonomi, dan budaya penduuduk di dunia.

19.     Globe
Adalah model tiruan bola bumi yang memebrikan gambaran tentang bentuk bumi, sehingga mendekati bentuk yang sebenarnya.

20.     Bukti-bukti bentuk bumi yang bulat menyerupai bola, yaitu :
a.     Bayangan bumi yang berbentuk lingkaran pada saat gerhana bulan
b.     Hasil pemotretan rupa bumidari satelit di ruang angkasa
c.      Ekspedisi Magelhaens mengelilingi bumi
d.     Awan dan puncak gunung tertinggi yang masih terlihat terang walaupun matahari sudah tenggelam.

21.     Kedudukan globe
: agak condong sesuai dengan kemiringan sumbu bumi  yaitu  memebentuk sudut 66  ½ terhadap garis ekliptika.

22.     Kegunaan Globe
a.     Mengetahui proses gerhana.
b.     Mengetahui proses perubahan musim berdasarkan perubahan posisi semu matahari terhadap bumi.
c.      Menghitung pembagian waktu di bumi berdasarkan garis bujur
d.     Mengetahui pembagian iklim di permukaan bumi berdasarkan garis lintang
e.      Membandingkan luas daratan dengan luas lautan di permukaan bumi
f.       Sebagai media pergaan bentuk bumi dan rotasinya
g.     Mengetahui besarnya skala nominal tentang jarak, bentuk, dan luas di permukaan bumi
h.     Mengetahui besarnya skala nominal tentang jarak, bentuk, dan luas di permukaan bumi
i.       Menentukan jenis proyeksi untuk pemetaan tempat tertentu




Untuk kalangan sendiri


Daftar Pustaka
--- Tim abdi guru, IPS Terpadu VII, 2007, Jakarta Erlangga