Selasa, 02 Juli 2013

Guru Generasi Baru


Opini Kompas
Guru Generasi Baru
Kompas cetak, Selasa 2 Juli 2013
Oleh: Mohammad Abduhzen







guru profesional memberikan ruang dialogis
 seraya menanggalkan egosentrismenya
sebagai orang dewasa yang serba tahu dan banyak menyuruh.

( Mohammad Abduhzen )






Dengan terbitnya UU Guru dan Dosen pada tahun 2005, seharusnya kini di Indonesia lahir guru generasi baru, yaitu guru profesional yang memiliki kinerja berbeda dengan guru (sebut saja) tradisional.
Perbedaan itu,

Pertama, yakni pada posisi guru.
·        
Seturut perkembangan terminologi pendidikan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 1 Ayat (1), guru diposisikan sebagai fasilitator yang mengondisikan suasana dan proses pembelajaran. Pembelajaran diselenggarakan berpusat pada murid dan diupayakan agar murid aktif mengembangkan potensi dirinya.

·         Guru tradisional—menurut UU Sisdiknas No 2 Tahun 1989—diposisikan sebagai pembimbing, pengajar, dan pelatih yang menyiapkan peserta didik bagi peranannya di masa depan. Pembelajaran berpusat dan bergantung pada keaktifan guru.

Kedua, perbedaan pada kompetensi.

·         Perubahan posisi guru menuntut kemampuan yang bukan sekadar memodifikasi teknik mengajar, juga perubahan filosofi dan didaktik-metodik yang terekspresi dalam kompetensi. UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD)—meski rancu—membuat empat kategori kompetensi guru profesional, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.


·         Guru yang otentik

Kompetensi guru profesional didasarkan pada filosofi bahwa anak adalah makhluk sarat potensi yang berkembang secara dinamis menurut kondisi yang melingkupinya.

·         Maka, dalam pembelajarannya,
Ø  guru profesional memberikan ruang dialogis seraya menanggalkan egosentrismenya sebagai orang dewasa yang serba tahu dan banyak menyuruh.
Ø  Meskipun memiliki kedekatan dan keterbukaan dengan murid, guru profesional tetap otentik, tak berpura-pura.
Ø  Ia juga tak infantil sehingga sering jadi bulan-bulanan murid.
Ø  Wibawa guru profesional tumbuh dari simpati karena kompetensinya, bukan dari rasa segan apalagi takut.


Ø  Sementara kompetensi guru tradisional dilandasi epistemologi tabula rasa (kertas kosong) bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan. Pendidikan adalah upaya mengisi ruang kosong itu dengan seperangkat pengetahuan dan keterampilan yang menurut persepsi orang dewasa bakal berguna bagi anak di masa depan.

Ketiga, perbedaan pada perilaku etik dan politik.

·         Dengan profesionalisme, menurut Tilaar (2012), status guru mengalami demitologisasi. Mitos guru sebagai manusia sempurna, pekerja sosial yang tak harap imbalan, dan tabu berpolitik mengalami rasionalisasi. Perilaku moral guru profesional dibatasi oleh etika profesi yang diawasi dewan kehormatan guru.
·         Guru profesional juga dapat, bahkan harus, melibatkan diri dalam berbagai kegiatan politik. Menjadi guru di abad ke-21, menurut Oakes & Lipton (2003: 430), selain alasan tradisional—seperti hasrat menolong— juga (perlu) dimovitasi untuk keadilan sosial karena itu bersifat politis.
·         Politik guru adalah bagian dari politik pendidikan yang menyoalkan penggunaan kekuasaan negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Posisi penting dan pengalaman operasional yang dimiliki menjadikan guru tak selayaknya hanya menjadi obyek yang tak disertakan dalam membuat kebijakan terkait dengan diri dan bidangnya. Maka, guru memerlukan instrumen politik: organisasi profesi.
Keempat, keterikatan pada organisasi profesi.
·         Organisasi profesi guru utamanya adalah media untuk memajukan profesi dan memperbaiki nasib guru. Problem keguruan senantiasa lahir dari rahim politik pendidikan pemerintah sehingga tak mungkin diselesaikan guru secara individual. Ujian nasional, Kurikulum 2013, dan sertifikasi adalah contoh kebijakan yang memengaruhi kinerja dan mesti dihadapi guru secara bersama.

Dengan jumlah anggota yang besar dan peran yang strategis, organisasi profesi guru harus percaya diri dan menyadari posisi politiknya yang independen. Ia tidak boleh hanya menjadi batu loncatan pengurus dengan memasrahkan monoloyalitas kepada kekuatan tertentu dan atau sekadar perpanjangan tangan pemerintah. Karena itu, organisasi guru harus memiliki tawaran konsep rasional dan komprehensif tentang keguruan, pendidikan, dan kebangsaan.


Jiwa professional

Panggilan untuk bersikap profesional sejatinya bukan sekadar berkutat pada kegiatan birokratis, melainkan juga harus diproses agar mengikat guru secara esoteris, menukik di kedalaman jiwa. Namun, itu tak terjadi dalam praktik selama ini.


Masa delapan tahun telah dihabiskan hanya dalam kegaduhan administratif portofolio dan uji-menguji. Sertifikasi portofolio—seperti diduga sebelumnya—ternyata (versi Bank Dunia) hanya berhasil meningkatkan ekonomi guru dan minat jadi guru, tetapi gagal mencapai tujuan utama profesionalisme, yakni meningkatkan kinerja guru untuk peningkatan mutu pendidikan nasional.

Kini, guru kita terkungkung dalam makna profesionalisme yang materialistik: tunjangan profesi. Semangat penyempurnaan diri berkelanjutan nyaris tak ada. Kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, Rancangan Pendidikan Profesi Guru, serta Rencana Kebijakan Pembinaan dan Pengembangan Guru mendatang perlu diarahkan pada membangun jiwa keguruan.


Redesain LPTK

Segala upaya profesionalisme guru meniscayakan perubahan peran dan substansi institusi yang menyiapkan guru, yaitu lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK). Perubahan substansi LPTK mutlak dilakukan karena ada paradigma, pendekatan, dan metode baru yang harus dikembangkan melalui pendidikan/pelatihan calon guru dan guru dalam jabatan. Desain kurikulum, proses pembelajaran, dan pelatihan/pemagangan di LPTK harus mencerminkan berbagai perubahan yang dikehendaki. Selama LPTK secara substansial tak diubah, gagasan "guru profesional" hanya terjadi dan berhenti dalam administrasi dan remunerasi.


Hingga delapan tahun pasca-UUGD, peran dan substansi LPTK tak mengalami perubahan signifikan. Konsep redesain yang disusun beberapa LPTK tampak beragam dan terlampau akomodatif, tak menunjukkan perubahan radikal. Padahal, ide profesionalisme dan UUGD menuntut LPTK melakukan reformasi mendasar.

Logika UU sesungguhnya menghendaki LPTK secara kelembagaan fokus pada penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kompetensi dan sertifikasi, tak lagi memproduk sarjana keguruan dalam berbagai bidang keilmuan. Hal itu mengingat seseorang dapat menjadi guru tanpa harus sarjana keguruan atau pendidikan. Implementasinya tentu berangkat dari realitas dan mempertimbangkan berbagai fakta, seperti keberadaan universitas eks IKIP dan adanya sistem guru kelas di SD.

Guru generasi baru tumpuan harapan perbaikan kualitas bangsa. Pemerintah, LPTK, dan organisasi profesi guru harus bersinergi melakukan perubahan penting itu. Isu tersebut menjadi bahasan utama Kongres PGRI, 1-4 Juli 2013, di Jakarta.



Mohammad Abduhzen Ketua Litbang PB PGRI dan Sekretaris Institute for Education Reform Universitas Paramadina Jakarta
(Kompas cetak, 2 Juli 2013) 

laki-laki pemanggul goni


Cerpen Terbaik Kompas 2012

Laki-laki Pemanggul Goni
Oase.Kompas, Senin, 27 Februari 2012 |



                                                                  gambar : Kompas.com
Oleh :Budi Darma



Setiap kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya.

Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.

Tubuh laki-laki pemanggul goni tidak besar, tidak juga kecil, dan tidak tinggi namun juga tidak pendek, sementara goni yang dipanggulnya selamanya tampak berat, entah apa isinya. Pada waktu sepi, laki-laki pemanggul goni pasti berdiri di tengah jalan, dan pada waktu jalan ramai, pasti laki-laki pemanggul goni berdiri di trotoir, tidak jauh dari semak-semak, yang kalau sepi dan angin sedang kencang selalu mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat menyayat hati.

Beberapa kali terjadi, ketika jalan sedang ramai dan laki-laki pemanggul goni menembakkan mata kepadanya, Karmain dengan tergesa-gesa turun, lalu mendekati semak-semak dekat trotoir, tetapi laki-laki pemanggul goni pasti sudah tidak ada lagi. Dan ketika Karmain bertanya kepada beberapa orang apakah mereka tadi melihat ada seorang laki-laki pemanggul goni, mereka menggeleng.

Apabila hari masih terang, beberapa kali laki-laki pemanggul goni membaur dengan orang-orang yang sedang menunggu bus, sambil menembakkan matanya ke arah Karmain. Tapi, ketika Karmain tiba di tempat orang-orang yang menunggu bus, laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada, dan orang-orang pasti menggelengkan kepala apabila mereka ditanya apakah tadi mereka menyaksikan ada laki-laki pemanggul goni.

Pada suatu hari, ketika hari sudah melewati tengah malam dan Karmain sudah bangun lalu membersihkan tubuh untuk sembahyang, korden jendela seolah-olah terkena angin dan menyingkap dengan sendirinya. Maka Karmain pun bergegas mendekati jendela, dan menyaksikan di bawah sana, di tengah-tengah jalan besar, laki-laki pemanggul goni berdiri membungkuk mungkin karena goninya terlalu berat, sambil menembakkan matanya ke arah dirinya. Kendati lampu jalan tidak begitu terang, tampak dengan jelas wajah laki-laki pemanggul goni menyiratkan rasa amarah, dan menantang Karmain untuk turun ke bawah.

Karena sudah terbiasa menyaksikan laki-laki pemanggul goni bertingkah, dengan lembut Karmain berkata: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, mengapakah kau tidak naik saja, dan ikut bersembahyang bersama saya.” Kendati jarak antara jendela di lantai sembilan dan jalan besar di bawah sana cukup jauh, tampak laki-laki pemanggul goni mendengar ajakan lembut Karmain. Wajah laki-laki pemanggul goni tampak berkerut-kerut marah, dan matanya makin tajam, makin menyala, dan makin mengancam.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, kalau kau tak sudi naik dan sembahyang bersama saya, tunggulah saya di bawah. Saya akan sembahyang dulu. Sejak saya masih kecil sampai dengan saatnya ibu saya akan meninggal, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk sembahyang dengan teratur lima kali sehari. Fajar sembahyang satu kali. Itulah sembahyang subuh. Tengah hari sembahyang satu kali. Itulah sembahyang lohor. Sore satu kali, itulah sembahyang ashar. Senja satu kali. Itulah sembahyang maghrib. Malam satu kali. Itulah sembahyang isya. Lima kali sehari. Dan kalau perlu, enam kali sehari, tambahan sekali setelah saya bangun lewat tengah malam dan akan tidur lagi. Itulah sembahyang tahajud. Dan kamu selalu mengawasi saya, seolah-olah kamu tidak tahu apa yang patut aku lakukan dan apa yang tidak patut aku lakukan.”
Dengan tenang Karmain menutup korden, namun karena sekonyong-konyong angin bertiup keras, korden menyingkap kembali. Laki-laki pemanggul goni tetap berdiri di tengah jalan, tetap menampakkan wajah penuh kerut menandakan kemarahan besar, dan tetap menembakkan matanya dengan nyala mengancam. Di sebelah sana, dekat trotoir di sebelah sana, semak-semak bergoyang-goyang keras tertimpa angin, dan mengirimkan bunyi-bunyi yang benar-benar menyayat hati.

Karmain melayangkan pandangannya ke depan, ke gugusan apartemen-apartemen besar, dan tampaklah semua lampu di apartemen sudah padam, sejak beberapa jam yang lalu. Lampu yang masih menyala hanyalah lampu-lampu di gang-gang yang menghubungkan apartemen-apartemen itu, sementara lampu merah di tiang tinggi di sebelah sana itu, berkedip-kedip seperti biasa, seperti biasa menjelang hari menjadi gelap, atau mendung, atau hujan lebat.

Seperti biasa pula, lampu di tempat pemberhentian bus menyala, sebetulnya terang, tetapi tampak redup. Selebihnya sepi, kecuali angin yang tetap menderu-deru. Karmain pindah ke kamar lain, yang korden jendelanya ternyata juga terbuka, kemudian melihat jauh ke sana. Di sana itu, ada laut, dan meskipun gelap, terasa benar bahwa laut benar-benar sedang gelisah.

Sembahyang selesailah, lalu Karmain mendekati jendela, dan laki-laki pemanggul goni masih di sana, masih menunjukkan wajah marah, masih menembakkan pandangan mengancam. Maka Karmain turunlah. Dan ketika Karmain tiba di tepi jalan, laki-laki pemanggul goni tidak ada. Angin masih bertiup keras. Seekor anjing hitam, besar dan tinggi tubuhnya, mengawasi Karmain sekejap, kemudian menyeberang jalan, dan di tengah jalan berhenti lagi sebentar, mengawasi Karmain lagi, lalu lari ke arah kegelapan. Lalu terdengar lolongan-lolongan anjing, lolongan kesakitan, lolongan pada saat-saat meregang nyawa.

Dulu, ketika masih kecil, Karmain bersahabat karib dengan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, semuanya dari kampung Burikan. Dan di kampung Burikan tidak ada satu orang pun yang memelihara anjing, dan anjing dari kampung-kampung lain pun tidak pernah berkeliaran di kampung Burikan. Terceritalah, ketika mereka sedang berjalan-jalan di kampung Barongan, mereka tertarik untuk mencuri buah mangga di pekarangan rumah seseorang yang terkenal karena anjingnya sangat galak. Belum sempat mereka memanjat pohon mangga, dengan sangat mendadak ada seekor anjing hitam, tinggi dan besar tubuhnya, menyalak-nyalak ganas, kemudian mengejar mereka.

Sebulan kemudian, anjing hitam bertubuh tinggi dan besar mati, setelah terperangkap oleh racun hasil ramuan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani.

Karmain menunggu beberapa saat, sambil berkata lembut dan perlahan-lahan: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, di manakah kau sekarang. Marilah kita bertemu, dan berbicara.”

Karena tidak ada kejadian apa-apa lagi, Karmain berjalan menuju semak-semak, dan, meskipun tiupan angin sudah meredup, semak-semak masih bergerak-gerak, menciptakan bunyi-bunyi yang menyayat hati.
Karmain kembali ke lantai sembilan, masuk ke dalam apartemen, kemudian mencari berkas-berkas lama yang sudah lama tidak ditengoknya. Setelah membuka-buka sana dan sini, Karmain menemukan album lama. Ada foto ibunya ketika masih muda, seorang janda yang ditinggal oleh suaminya karena pada hari raya Idul Adha, suaminya tertembak ketika sedang berburu babi hutan bersama teman-temannya di hutan Medaeng. Ada lima pemburu, termasuk dia, ayah Karmain. Mereka berlima masuk hutan bersama-sama, kemudian melihat seekor babi hutan berlari kencang, menabrak beberapa semak-semak. Untuk mengejar babi hutan itu, mereka berpisah, masing-masing lari ke berbagai arah. Siapa di antara empat temannya yang dengan tidak sengaja menembak ayah Karmain, atau justru dengan sengaja menembaknya, tidak ada yang tahu.
Karmain terpaku pada foto ibunya sampai lama, kemudian, tanpa sadar, dia terisak-isak. Dulu ibunya pernah bercerita, bahwa pada waktu-waktu tertentu akan ada laki-laki pemanggul goni, mengunjungi orang-orang berdosa. Pekerjaan laki-laki pemanggul goni adalah mencabut nyawa, kemudian memasukkan nyawa korbannya ke dalam goni. Ibunya juga bercerita, beberapa hari sebelum suaminya tertembak, pada tengah malam laki-laki pemanggul goni datang, mengetuk-ngetuk pintu, kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak.
”Pada hari Idul Adha,” kata ibu Karmain dahulu, sebelum ayahnya pergi berburu. ”Tuhan menguji kesetiaan Nabi Ibrahim. Anaknya, Ismail, harus disembelih oleh ayahnya, oleh Nabi Ibrahim sendiri.”

Karmain tertidur, dan ketika terbangun, waktu sembahyang fajar sudah tiba. Dan setelah Karmain membersihkan tubuh, siap untuk sembahyang, korden jendela menyingkap lagi. Laki-laki pemanggul goni berdiri di tengah jalan lagi, wajahnya menunjukkan kemarahan lagi, dan matanya menyala-nyala, menantang lagi.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, harap kamu jangan lari lagi.”
Dengan sangat tergesa-gesa Karmain turun, langsung ke pinggir jalan, dan laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada.

Ketika Karmain tiba kembali di apartemennya, ternyata laki-laki pemanggul goni sudah ada di dalam, duduk di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci, sementara goninya terletak di sampingnya.

Setelah selesai berdoa, tanpa memandang Karmain, laki-laki pemanggul goni berkata lembut: ”Karmain, kamu sekarang sudah menjadi orang penting. Kamu sudah menjelajahi dunia, dan akhirnya kamu di sini, di negara yang terkenal makmur. Bahwa kamu tidak mau kembali ke tanah airmu, bukan masalah penting. Tapi mengapa kamu tidak pernah lagi berpikir tentang makam ayahmu? Tidak pernah berpikir lagi tentang makam ibumu. Makam orangtuamu sudah lama rusak, tidak terawat, tanahnya tenggelam tergerus oleh banjir setiap kali hujan datang, dan kamu tidak pernah peduli.”

Laki-laki pemanggul goni berhenti sebentar, kemudian bertanya:

”Apakah kamu beserta sahabat-sahabatmu, Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, pernah tersesat di hutan Gunung Muria?”

”Ya.”

”Tahukah kamu ke mana sahabat-sahabatmu itu pergi?”

”Tidak.”

”Mereka saya ambil. Saya tahu, kalau mereka tidak saya ambil, pada suatu saat kelak dunia akan gaduh. Gaduh karena, kalau tetap hidup, mereka akan mengacau, membunuh, dan menyebarkan nafsu besar untuk berbuat dosa. Saya tidak mengambil kamu karena kasihan. Kamu habis kehilangan ayah. Ayah bejat. Pada saat seharusnya dia di masjid, bersembahyang, dan kemudian membantu orang-orang menyembelih kambing, ayahmu berkeliaran di hutan. Bukan untuk menyembelih kambing, tapi mengejar-ngejar babi hutan untuk dibunuh. Ingatlah, pada hari Idul Adha, ketika Nabi Ibrahim sedang menyembelih anaknya sendiri, Ismail, datang keajaiban. Bukan Ismail yang disembelih, tapi kambing.”

Berhenti sebentar, kemudian laki-laki pemanggul goni bertanya dengan nada menuduh:

”Apakah benar, ketika kamu masih remaja, kamu menjadi penabuh beduk masjid kampung Burikan? Setiap saat sembahyang tiba, lima kali sehari, kamu menabuh beduk mengingatkan semua orang untuk sembahyang?”

Karmain ingat, ketika masih umurnya memasuki masa remaja, dia bercita-cita, kelak kalau sudah dewasa, dia akan memiliki gedung bioskop. Maka, dengan caranya sendiri, dia menciptakan bioskop-bioskopan. 

Kertas tipis dia gunting, dia bentuk menjadi orang-orangan. Lalu dengan tekun dia membuat roda kecil dari kayu. Orang-orangan dari kertas tipis dia ikat pada benang, benang ditempelkan pada roda kayu. Lalu dia memasang kertas minyak, menutup semua jendela supaya gelap, menyalakan lilin, menggerak-gerakkan orang-orangan. Dari balik kertas minyak terpantulah bayangan orang-orangan. Mereka bisa berlari-lari, berkejar-kejaran, dan saling membunuh, seperti yang terjadi pada tontonan wayang kulit.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.

Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak oleh kobaran-kobaran api.

”Karmain,” kata laki-laki pemanggul goni sambil menunduk, ”Janganlah kamu pura-pura tidak tahu, kamu lari ke masjid, sementara lilin masih menyala.”

Sunyi senyap, dan laki-laki pemanggul goni tetap tertunduk.

”Wahai, laki-laki pemanggul goni,” kata Karmain setelah terdiam agak lama. ”Ibu saya dulu pernah berkata, ada laki-laki pemanggul goni yang sebenarnya, ada pula pemanggul goni yang sebetulnya setan, dan menyamar sebagai laki-laki pemanggul goni.”

Laki-laki pemanggul goni tersengat, kemudian memandang tajam ke arah Karmain. Wajahnya penuh kerut-kerut menandakan rasa amarah yang sangat besar, dan matanya benar-benar merah, benar-benar ganas, dan benar-benar menantang.

Setelah membisikkan doa singkat, Karmain berkata lagi: ”Bagaimana kamu bisa tahu, wahai laki-laki pemanggul goni, bahwa kelak Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani akan menyebarkan dosa yang membuat orang-orang tersesat?”

Laki-laki pemanggul goni, dengan kerut-kerut wajahnya dan nyala matanya, dengan nada ganas berkata: 

”Hanya sayalah yang tahu apa yang akan terjadi seandainya mereka saya biarkan hidup.”

”Wahai, laki-laki pemanggul goni, hanya Nabi Kidirlah yang tahu apakah seorang anak kelak akan menciptakan dosa-dosa besar atau tidak. Apakah kamu tidak ingat, Nabi Kidir menenggelamkan perahu seorang anak muda yang tampan? Nabi Kidir tahu, kelak anak tampan ini akan menjadi pengacau dunia. Dan Nabi Kidir pun mempunyai hak untuk menghancurleburkan sebuah rumah mewah. Sebuah rumah mewah yang dihuni oleh seorang bayi yang kelak akan membahayakan dunia.”

Dan Karmain ingat benar, dulu, menjelang kebakaran hebat melanda kampung Burikan, kata beberapa orang saksi, laki-laki pemanggul goni datang. Lalu, kata beberapa saksi pula, laki-laki pemanggul goni masuk ke rumah Karmain, kemudian bergegas-gegas ke luar, dan melemparkan bola-bola api ke rumah Karmain. Dan setelah api berkobar-kobar ganas menjilati sebagian rumah di kampung Burikan, beberapa orang dari kampung Burikan dan kampung Barongan sempat melihat, laki-laki pemanggul goni melarikan diri di antara lidah-lidah api yang makin membesar.


Editor :
Jodhi Yudono




  
‘ “Laki-laki pembanggul goni” memperlihatkan betapa penting unsur-unsur intrinsic tampil kompak, berjalin-berkelindan dalam membangun cerita. Crpen itu memperlihatkan dirinya sebagai cerpen yang kaya tafsir dan makna’
Secara sosiologis, cerpin ini pada dasarnya dapat ditempatkan sebagai potret masa kecil anak-anak Indoensia yang hampir selalu dijejali mitos dan tokoh-tokoh fiktif yang kerap dicitrakan sebagai makhluk menakutkan.
Cerpen ini dapat menggambarkan satu kaki menginjak dunia modern dan satu kaki lagi berada  di masa lalu, yakni tradisi dan mitos-mitos.
( Maman S Mahayana, Pengajar sastra Universitas Indonesia Kompas,  Jumat, 28 Juni 2013)

Minggu, 23 Juni 2013

Pengumuman dan pelepasan SMP Tarakanita GS 2012/2013


Pelepasan
SISWA - SISWI SMP TARAKANITA GADING SERPONG
Tahun pelajaran 2012 – 2013


“ Duc In Altum”
Sabtu 01 Juni 2013, Auditorium III tarakanita Gading Serpong



















































































Dok : SMP Tarakanita GS

Minggu, 09 Juni 2013

Asah kecerdasan dengan bersepeda


Asah kecerdasan bersepeda

                                        gambar : sepeda worldpress

                Jelang liburan sekolah banyak kegiatan bermunculan untuk mengisi kegiatan liburan tersebut. Bermain layang-layang, bermain bulu tangkis, bersepeda dan lain-lain. Kegiatan pengisi liburan dipengaruhi  pada beberapa hal, hobi/kesenangan, ketersediaan peralatan permainan, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan, jenis kelamin, kreativitas, keuangan dan hal-hal lain.

Terkait dengan isu global, maka jenis kegiatan yang banyak dipilih anak-anak atau dipilihkan orang tua antara lain kegiatan  bersepeda, baik bersama teman sebaya maupun bersama keluarga atau komunitas. Sekarang ini hampir di setiap daerah atau tempat,  sepedaan ini banyak dipilih dengan berbagai ragamnya, ada yang sepeda gunung, sepeda yang stang nya dibalik kebawah, atau sepeda yang batangnya dibuat panjang serta kreativitas lainya.

Beberapa hari lalu anak saya meminta dibelikan sepeda, baik yang anak yang kedua  maupuan anak yang bpertama . Meski sepeda yang dibeli biasa dan murah , tetapi ada semangat dan suasana baru yang sebelumnya tak datampak. Biasanya bangun anank-anak siang jika  liburan seperti sekarang ini, tetapi setelah mempunyai sepeda mereka bangun pagi dan cepat mandi kemudian langsung bermaian-main dengan sepeda putar-putar sekitar rumah. Si kecilpun  tak mau ketinggalan meski belum bisa naik sepeda tapi saat bermain sepeda heboh ceritanya meski hanya menuntun ditempat yang menanjak ataupun memasukan sendiri  sepeda ketempatnya , sangat seru. Dengan bermain-main sepeda,  tak disadari anak belajar  keseimbangan dan strategi sederhana,  yaitu mengusahakan sepeda tidak jatuh ataupun mengusahakan sepeda dapat di bawa ketembat yang lebih tinggi.  Serta juga belajar merangkai kalimat atau cerita, anak bercerita bagaimana dia dapat menuntun, jatuh, medirikan kembali atau bercerita serunya menghindari halangan . Hal ini membuat saya bangga, karena selama ini anak kedua dikenal lebih pendiam dari pada kakanya, sekarang menjadi  banyak bicara dan mampu bercerita dalam waktu yang panjang, lebih  cerewet. Wajah ceria dan semangat membuat saya bahagia melihatnya.   

Tadi pagi di rumah saudara di Cibubur , sempat baca koran Kompas mengenai bersepeda. Beberapa hal menarik  sepertinya  menegaskan pilihan kegiatan liburan dengan bersepeda adalah  tepat. Dalam tulisanya di buku Desain sepeda Indonesia Dudy Wiyancoko, bersepeda merupakan terapi. Dudy menjelaskan  bahwa Masyarakat perkotaan setiap detik terbiasa melihat sesuatu dari balik Layar Telivisi, Monitor computer, telepon selular,, bahkan dari balik kaca monil. Segala sesuatu pun menjadi serba tak langsung dan berjarak. Dengan bersepeda mereka merupakan bagian dari kehidupan nyata. Bersentuhan dengan realita. ( Kompas 9 Minggu 2013)

Hal lain ungkapkan Psikolog  dari Klinik Terpadu Fakultas psikologi Universitas Indonesia, Nina Surti Aryani. Bersepeda adalah  kegiatan luar ruang yang member banyak manfaat. ( kompas, Minggu 9 Juni 2013)

1.   Berseda dapat mengeluarkan energi negatif   dan menggantilkan energi positif. Keceriaan akan  mudah  muncul sehingga sangat baik  jika bersepeda dilakukan bersama keluarga.
2.     Kedekatan emosional akan lebih meluas dan mendalam.
Apalagi , jika sekeluarga menyenangi, mereka akan berbagi minat dan itu bisa  membina  kedekatan
3.     Bagi anak kemampuan bersepeda menunjukkan koordinasi motorik pada kaki dan tangan sudah baik. Juga sensorik  auditori dan visualnya
Koordinasi motorik yang baik membuat anak lebih konsentrasi serta lebih baik dalam mengatur diri dan emosi
4.     Sebagai terapi fisik, mental dan kecerdasan.
Anak yang suka bersepeda, matannya terbiasa melihat jarak jauh.
Pada anak yang lebih suka main komputer, matanya terbiasa melihat dekat. Akibatnya  gerakan bola matanya akan lebih sering diiringi gerak kepala sehingga lebih lambat dalam membaca.

Wah ..... banyak sekali manfaat bersepeda, khususnya dijaman sekarang dimana anak tak pernah jauh dari  layar monitor, baik gadget ataupun layar computer/TV. Mari kita isi liburan anak dengan bermacam – macam kegiatan, khususnya yang  mampu menggerakan setiap kecerdasan anak, baik  motorik, auditori maupun visualnya. ( bewe 2021 )

Sumber  bacaan :
Kompas Minggu, 9 Juni 2013