Senin, 02 Maret 2015

Era Baru Ujian Nasional



Era Baru Ujian Nasional

ARIFAH SURYANINGSIH, Guru  SMKN 2 SEWON, Alumnus UNY  dan  MM UGM.
Kompas, Sabtu, 28 Februari 2015


Gambar : Kompas.image






“Adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru akan membawa pengguna,
dalam hal ini guru dan siswa, menghadapi masa transisi,
yaitu beradaptasi teknis (keahlian, kompetensi, proses kerja)
dan kultural (perilaku, pola pikir, komitmen).”
Arifah Suryaningsih




 Ujian nasional 2015 akan diwarnai beberapa perbedaan dibandingkan dengan pelaksanaan UN tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan pertama adalah bahwa UN tahun 2015 tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan siswa, hanya untuk pemetaan mutu pendidikan. Perbedaan kedua adalah pada tahun ini UN daring sudah mulai dilaksanakan di beberapa sekolah. Artinya, akan ada dua macam sistem ujian nasional, yaitu sistem manual dan sistem terkomputerisasi.


UN daring (dalam jaringan/online) atau yang disebut computer based test (CBT) ini diharapkan bisa memberi solusi atas pelaksanaan ujian yang lebih bersih dari kecurangan, meniadakan kebocoran soal, efektif dalam pelaksanaan, bahkan efisien dalam anggaran. Dilaksanakannya UN daring merupakan perubahan besar sistem ujian nasional. Sebagai gambaran, pada UN 2013, siswa dihadapkan dengan lima variasi soal dalam satu ruang ujian.



Tahun 2014 dan 2015, siswa dihadapkan pada 20 variasi soal dalam satu ruang ujian. Seluruh soal dicetak pada kertas soal, kemudian siswa menjawab dengan cara melingkari jawaban yang dianggap benar menggunakan pensil jenis 2B pada lembar jawab komputer (LJK). Selanjutnya, LJK akan melewati alur pemeriksaan panjang sehingga hasil UN baru keluar dalam waktu panjang.



Dengan sistem daring, semua jalur dipersingkat. Model variasi soal dilakukan dengan sistem pengacakan basis data bank soal yang telah dipersiapkan sebagai bahan ujian. Dengan sistem ini, kerumitan dan proses panjang pencetakan serta pendistribusian soal yang sering menjadi masalah diminimalkan. Selanjutnya, model koreksi jawaban melalui alat pemindai LJK juga akan digantikan dengan sistem terkomputerisasi yang lebih andal. Masalah teknis lainnya juga terselesaikan dengan hilangnya waktu untuk pembagian soal dan pengawasan berlebihan.




Konversi sistem manual menuju sistem terkomputerisasi tentu membutuhkan banyak biaya dan waktu. Wajar jika penerapannya baru bisa dilaksanakan dan direkomendasikan untuk beberapa sekolah yang telah siap secara infrastruktur.



Adanya perubahan dari sistem lama ke sistem baru akan membawa pengguna, dalam hal ini guru dan siswa, menghadapi masa transisi, yaitu beradaptasi teknis (keahlian, kompetensi, proses kerja) dan kultural (perilaku, pola pikir, komitmen).



 Artinya sekolah yang telah menyatakan siap melaksanakan UN daring harus benar-benar mampu menyediakan semua fasilitas untuk siswa, khususnya perangkat keras, jaringan, koneksi internet, dan ketersediaan listrik. Perlu diwaspadai pula jaminan keamanan dari serangan virus ataupun hacker. Jangan sampai kebocoran soal dan kevalidan yang digembor-gemborkan pada UN daring menjadi sia-sia.



Selanjutnya, kesiapan teknisi dan penyelenggara di sekolah akan menjadi jaminan kelancaran pelaksanaannya. Dengan demikian, pelatihan menjadi agenda wajib bagi seluruh teknisi atau operator. Karena dari pelatihan itulah mereka akan bisa mengawal pelaksanaan UN dengan benar.



Hal yang lebih utama adalah penyiapan adaptasi siswa. Bukan hal mustahil siswa masih gagap sehingga gugup menggunakan perangkat komputer. Memang benar bahwa siswa yang akan melalui ujian ini termasuk generasi internet (generasi Z) sehingga UN daring boleh dikatakan justru mengakomodasi kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan perangkat TI dan internet. Namun, sekali lagi, tidak semua anak-anak generasi Z dari Sabang sampai Meurake mempunyai kemampuan yang sama di bidang TI. Faktor geografis dan kemampuan dukungan infrastruktur TI yang memadai akan menjadi jurang pemisah.




Bayangkan ketika siswa, guru, dan sekolahnya berada di posisi geografis yang sulit untuk bisa mengakses internet ataupun pasokan listrik. Maka, menghadirkan UN daring di semua sekolah adalah tantangan besar Kemdikbud pada tahun-tahun selanjutnya.




Selanjutnya, faktor psikologis tetap perlu diperhatikan karena, sampai dengan saat ini, hampir seluruh siswa masih terkondisikan mengerjakan uji coba UN dengan LJK, baik di tingkat sekolah, daerah, maupun provinsi. Pelatihan intensif (drilling) soal sudah berlangsung sejak awal semester, menjadikan mereka jenuh, lelah, dan sarat beban. Sementara uji coba UN secara daring belum juga dimulai. Ini bukanlah perkara yang mudah karena siswa, operator, ataupun sekolah penyelenggara tak punya banyak waktu lagi.



UN tinggal menghitung hari. Semua harus bergerak cepat, bersinergi dan berkoordinasi untuk hasil yang optimal. Terobosan yang dilakukan Kemdikbud dalam memperbaiki sistem dan pelaksanaan UN layak didukung dan diapresiasi, dengan catatan pemerintah benar-benar siap dan konsisten merintis perubahan ini.




Penerapan teknologi dan informasi sebaiknya bukan hanya pada UN, melainkan juga mulai diterapkan dalam sistem pembelajaran dan akan lebih lengkap lagi jika diintegrasikan dalam bentuk-bentuk evaluasi belajar. Semoga.


ARIFAH SURYANINGSIH GURU SMKN 2 SEWON, ALUMNUS UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DAN MM UNIVERSITAS GADJAH MADA


 Sumber: Kompas Cetak, 28 Februari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar