Kamis, 17 Oktober 2013

Makan Bersama



Makan Bersama
                                         Dok : pribadi

“Paus mengecam budaya membuang makanan oleh warga Negara-negara barat. Kebiasaan ini sangat menjijikan di saat banyak orang dan keluarga di seluruh dunia masih kelaparan dan kekurangan gizi.”
Paus Fransiskus, dalam kotbah peringati Hari pangan Sedunia.

         “ Menurut saya acara makan bersama ini seru,… saya merasa kasihan karena ada yang gak makan. Persaan saya senang saat kita bisa  berbagi makanan.”
Kesan sederhana namun penuh makna itu disampaikan oleh G Darren,  siswa kelas 8E, saat acara makan bersama kelas 8E  dalam rangka mengajak siswa merasakan kehadiran dan menemukan arti atau makna yang tersembunyi dalam peristiwa hidup khususnya kegiatan makan. Kegiatan yang diadakan hari Rabu 11 september 2013, di ruang kelas 8E ini  diharapkan sisa terbiasa makan dan minum sesuai kebutuhan dan tahu batas, yang di kemas dalam pembelajaran pendidkan karakter Tarakanita.
    
   Siswa merasa terkejut saat pak Budi, wali kelas 8E, datang ke kelas saat istirahat, dan mengajak siswa menunda makan mereka. “Anak-anak kalau masih bisa menahan lapar, bapak minta makannya dilakukan nanti jam pelajaran ke-5. Nanti makan bersama bapak, bapak ingin makan bersama dengan kalian.” Serentak siswa menjawab ajakan pak Budi, “ Benar pak!...nanti bapak juga makan bersama kita,”. Mereka segera menghentikan kegiatan persiapan makan dan menunda makannya. Sebagaian siswa lain mengajak teman untuk pergi ke kantin agar nanti dapat makan bersama karena tidak membawa bekal dari rumah.
       Ketika tiba waktu makan bersama, para siswa sudah tidak sabar untuk memulai makan bersama. Tapi pak guru mengajak untuk menata terlebih dahulu meja kursi mereka agar makan bersama terasa lebih menyenangkan dan akrab. Dengan menahan keinginan untuk segera makan, siswa dengan semangat dan tetap bergembira menata meja kursi menjadi meja makan memanjang. Para siswa mengambil tempat duduk dengan tertib, laki dan perempuan campur dalam meja perjamuan makan pagi itu.
     Doa syukur mengawali kegiata makan bersama. Dalam doa pak guru mengucap syukur atas kesempatan yang sangat indah pagi ini, diberi kesehatan dan kebersamaan serta kegembiraan . Tak lupa syukur atas rejeki jasmani yang  telah diberikan-Nya kepada para siswa serta kesehatan yang dialami. Tak lupa dalam doanya, pak Budi mendoakan saudara-saudari yang saat ini belum menerima rejeki jasmani. Akhirnya doa ditutup dengan permohonan agar kesempatan indah ini mampu membangkitkan rasa syukur atas   semua pemberian –Nya serta diberi semangat dan kekuatan untuk berbagi bagi sesama.
        Siswa makan dengan penuh kegembiraan, mereka merasa belum yakin bisa makan bersama dengan
teman-teman dan pak guru. “Seru , bisa makan bareng. Semoga dapat begini sering-sering,” kata Gerry di sela-sela makannya.    Mereka dengan lahap makan yang telah disiapkan orang tua dari rumah, bahkan ada beberapa siswa saling tukar lauk pauk. Dan ada yang memberikan makannya kepada teman yang memang tidak membawa makan dari rumah.
       Pak budi, sebagai wali, mendengarkan ungkapan kegembiraan siswa berkaitan dengan makan bersama ini. Juga mendengakan  obrolan siswa di meja lain sambil tetap menyantap makanan. Tetapi ada beberapa siswa yang tidak makan, hanya minum atau makan snack saja, karena memang tidak terbiasa makan nasi saat pagi hari. Ada juga yang menceritakan bagaimana  dia mulai makan nasi merah, untuk kesehatan seluruh keuarganya.  
           Yah… pagi itu memang lain dari bisanya. Mereka untuk pertama kalinya merasakan makan bersama teman sekelas dan pak gurunya. Diakhir makan setelah doa penutup, siswa diajak menuju hall. Di hall mereka membuat lingkaran dan duduk di lantai. Satu per satu  siswa mengutarakan pesan dan kesan mereka terhadap kegiatan makan bersama pagi itu. Dengan terlebih didahui pak Budi yang mengajak siswa untuk selalu mempunyai siakap syukur terhadap setiap peristiwa hidup baika peristiwa gembira, terlebih belajar berani bersyukur saat menerima cobaan.
        
 Untuk kedepan mereka berharap dilakukan secara berkala dan lebih variasi. “kalau bisa diatur lebih bagus lagi’’ harap MB. Lain lagi harapan Licia, yang pagi ini hanya minum saja, karena merasa tidak biasa makan nasi pagi hari, “Perasaan saat lihat teman makan senang, harapan saya di tambah game sama acara-acara lain. Dari kegiatan ini mereka sepakat,bahwa kegiatan ini dapat membuat    mereka  belajar bagaimana etika atau cara  makan dan minum bersama.
          Kegembiraan makan bersama bertambah saat mendengar berita bahwa ibu Heni, guru Kimia,  sudah melahirkan dan suster Widya,  CB, tepat hari itu merayakan ulang tahun. “ Selamat untuk bu Heni, supaya putranya pinter , sehat selalu. Untuk bu Heni makin muda, cantik, putih, makin baik, untuk keluarga semoga makin harmonis,” harap dan doa Floren. Juga Tori mendoakan bu Heni cepat nambah lagi, “ Selamat bu Heni, cepat punya anak lagi,kalau bisa cewek biar lengkap, cepet gede, bisa jagain orang tua dan pinter,” ujar Tori menambahkan.

          Untuk ucapan selamat suster yang ulang tahun mereka bersama pak Budi datang langsung ke ruang suster mengucapkan selamat dengan salaman bersama dan menyayikan lagu selamat ulang tahun. Suster yang tidak mengira kedatangnya anak merasa kaget sekaligus mengucapkan terima kasih atas perhatian dari anak-anak.” Terima kasih, terima kasih, “ ucap Suster Widya sambil terus menerima ucapan selamat ulang tahun dari siswa kelas 8E.
            Yah hari yang penuh berkat, kami kembali ke kelas dengan segala kegembiraan, pengalaman serta cerita –cerita indah lainnya. Semoga anak-anak kelak mampu mempunyai sikap syukur dan berbagi, dengan makan dan minum sesuai kebutuhan dan tahu batas. ( bewe171013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar