Selasa, 30 Oktober 2012

Tersenyum


Tersenyum…

Apakah anda pernah memperhatikan hubungan guru dengan para murid yang mengesankan adanya energy positif disekitanya?

Tak diragukan lagi, saat sang guru tersenyum
( Kathy Paterson )





dok : kompas.image


“Bapak masih galak seperti dulu ya?!” ungkap seseorang, setelah kami bermain bulutangkis bersama. Kata itu pula yang mengingatkan saya bahwa ia adalah mantan murid saya waktu SMP, memang saat itu ada beberapa orang gabung ikut latihan bulutangkis bersama dengan jadwal rutin bapak guru kayawan.  Saya jawab dengan senyuman, kemudian ia melanjutkan obrolan dengan mengatakan, "pak , saya juga bersyukur karena disiplin yang diterapkan  bapak dulu membuat saya menjadi sekarang ini dan dapat mengikuti kuliah kedokteran dengan baik”. “ emang apa hubungan dengan bapak?” Tanya saya sekenanya. “ karena saya menjadi  terbiasa disiplin  dan dapat mengikuti tuntutan  tinggi yang diterapkan dosen praktek saya di UI,  … jadi tidak kaget lagi dengan kondisi dan situasi yang menuntut disiplin tinggi “ ia menjelaskan kaitan kegalakan saya dengan kuliahnya.  Terbersit rasa bangga juga, punya murid yang ‘berhasil’.

Kata ‘galak’ , menjadi permenungan saya saat liburan kenaikan kelas. Banyak hal terbayang dalam pikiran dangan istilah tersebut. Apakah benar selama ini saya galak? apakah saya telah  membuat anak takut ? ah.... tidak!.. aku harus menjadi guru yang tidak membuat anak takut!....pikir saya dalam hati  Kemudian saya mencoba mencari jawab dengan banyak membaca literatur  tentang pendidikan dan pengajaran., baik di media masa ataupun buku-buku ataupun mengikuti berbagai seminar.  Setelah banyak membaca , pun tidak serta merta mudah untuk mempraktekan apa yang ada dalam buku atau seminar-seminar  dalam ruang kelas. Akhirnya saya mencoba untuk memaksa diri sendiri untuk memulai tersenyum saat mengajar, khususnya saat mengawalinya. Tapi itupun sulit karena anak-anak  tidak saya libatkan dalam perubahan yang saya usahakan. Lama berpikir, akhirnya saya memberanikan diri dengan membuka tiap pelajaran dengan melibatkan juga murid untuk tersenyum dengan sebuah salam senyum. setelah menerima salam dari para murid, saya saya jawab dengan "salam senyum', “ Selamat pagi …. tetap semangat!. …tetap tersenyum !! ………” diluar dugaan saya, murid menjawab dengan lebih semangat dan senyum serta raut wajah sangat ceria, penuh rasa senang, dan situasi ini berlangsung selama pembelajaran……saya merasa terharu sekaligus tertantang untuk juga lebih semangat dan selalu senyum …mengajar dengan perasaan senang…senang juga bersama murid di kelas. Wah, benar-benar memberikan energy positif baik bagi murid, tertutama  bagi saya,  yang mendampingi murid belajar dikelas. Sungguh sangat menyenangkan mengajar dengan gembira.

Bagaimana kalu kita susah tersenyum ?.. ah , bagaimana anak bisa disiplin kalau kita harus tersenyum, sekarang aja dengan kita tegakkan disiplin, masih banyak  murid  yang tidak mau disiplin, apalagi kalau kita harus tersenyum semakin banyak lagi yang tidak disiplin. Dan banyak lagi ungkapan yang membuat kita tidak tersenyum. Tidak gampang membiasakan sesuatu yang mestinya baik jika dilakukan. Dalam sebuah buku yang saya baca memberikan gagasan untuk kita selalu gembira, mungkin baik jika dapat menjadi salah satu referensi kita belajar tersenyum. Berikut sepuluh cara untuk menunjukkan kegembiraan. (Kathy Peterson,2007)
1.     Senam wajah.
 Ada tujuh belas urat untuk tersenyum maka senyumlah setiap saat dan tersenyumlah kepada siapapun. Semakin anda kurang nyaman, semakin banyak anda perlu tersenyum.  Mark Twain pernah mengatakan bahwa cara paling baik untuk membeuat suasana gembira adalah dengan membuat orang lain bergembira.
2.     Berlatihlah tersenyum di depan cermin.
Katakana pada diri anda sendiri bahwa anda adalah orang yang selalu ceria, dan keceriaan itu akhirny menjadi suatu kebiasaan.
3.     Katakanlah pada diri anda sendiri bahw anda adalah orang sellu ceria, dan keceriaan itu akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Misalnya, cobalah buat pernyataan yang positif : Saya adalah periang dan saya suka senyum .
4.     Pakailah teknik ‘STOP’ untuk menghindari pemikiran yang sinis dan negative: secara psikologis anda harus dapat menghentikan pikiran anda bila pikiran negative mulai merayap ke benak anda.
5.     Berusahalah berbicara pada diri sendiri untuk bersikap positif, optimis, dan mau menerima.
6.     Sebelum atau dalam perjalanan  menuju tempat kerja, putarlah kaset atau CD yang ceria, music yang indah, atau lawakan-lawakan yang lucu.
7.     Ingatlah diri anda bahwa untuk menampilkan kecerian itu, anda tidak harus dalam suasanan yang sedang bergembira. Keceriaan merupakan keadaan pikiran yang disengaja. Pada saat tertentu, pilih saja atau tentukan saja bahwa anda sedang ceria.
8.     Mulailah hari-hari anda dengan berbuat baik atau mengatakan sesuatu yang membuat orang lain merasa senang. Tindakan menyenangkan orang lain akan mendapatkan reaksi yang menyenangkan pula dari orang lain yang juga akan membuat anda merasa senang.
9.     Bersikaplah tenang. Keceriaan akan menghilangkan stress. Bila anda mengalami bahwa rasa ceria itu berkurang atau menurun, tariklah napas dalam-dalam dan berjalanlah perlahan-lahan sejauh tiga langkah.
10.                        Buatlah semacam daftar aktivitas atau situasi yang membuat anda merasa frustasi, atau marah, atau suasana yang dipenuhi dengan emosi negative. Kemudian, pilihlah cara untuk menghindari hal tersebut atau tentukan pendekatan untuk mengatasi hal tersebut dengan ketepatan hati yang kuat dan buatlah hasilnya seceria mungkin.
Berikut saya cuplikan juga beberapa ungkapan tentang senyuman dari Jost Kokoh Pr, yang mungkin mampu memberikan kekuatan bagi kita untuk belajar tersenyum, ….

Suatu senyuman adalah cahaya di jendela wajahmu

Senyuman adalah menciptakan jarak terpendek antara kau dan aku.

Senyuman adalah  lengkungan yang bisa meluruskan semuanya.

Suatu senyuman adalah cara yang tidak mahal guna memperbaiki penampilan anda.
Bahkan bisa mengantar anda lebih cepat tertidur bila anda memasang senyuman.
Dengan senyum kau tampak lebih cantik, dengan tawa kau lebih sehat, dengan doa kau lebih bahagia.
Sebuah senyuman yang tulus adalah ibarat hujan  yang membasahi bumi sehabis kemarau panjang.
Bahkan bila anda mengangkat telpon senyumlah lebih dahulu. Orang diseberang sana tahu apakah anda sedang tersenyum atau tidak.

    Saya teringat kata orang bijak, yang mengatakan  senyuman itu menular dan membuat orang yang tersenyum itu merasa lebih baik pula.  Seorang Jokowipun dalam pilkada DKI yang lalu bersenjatakan senyuman, "Nggak punya senjata, biasa saja. Senjatanya ya senyum saja, nggak perlu pakai isu-isu," ujar Jokowi.  Beberpa waktu yang lalu juga ratusan simpatisan mengajak warga tersenyum sambil melepaskan balon  dalam kampanye gerakan mari Tersenyum yang digelar Himpunan Psikologi Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, rabu ( 10/10). Gerakan tersenyum adalah salah satu cara mencegah depresi yang diadakan untuk memperingati Hari Kesehatan Sedunia. Mari kita kampayekan senyuman mulai dari ruang kelas kita.  

Buku sumber :
1.        Jost Kokoh, “Mimbar Altar”, Kanisius Jakarta
2.       Kathy Paterson, “55 Teaching Dilmmas” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar