Selasa, 02 Juli 2013

Guru di Negeri Nihil Pemimpin


Opini Kompas
Guru di Negeri Nihil Pemimpin

Kompas cetak, Jumat 7 Juni 2013
Oleh SIDHARTA SUSILA



                                   gambar Kompas.com


“Ekspresi hidup yang sederhana pastilah menjadi lentera bagi jiwa kepemimpinan anak didiknya.”
Sidharta Susila




Dengan terus merawat harapan, pendidikan itu merawat kehidupan. Gurulah aktor utamanya.
Harapan meretas batas-batas kehidupan, meringkihkan tempurung kehidupan. Harapan membuncahkan hasrat anak didik untuk meraih hidup yang berbeda, termasuk hasrat untuk menjadi seorang pemimpin.
Sayangnya, saat ini anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat istimewa untuk menumbuhkembangkan benih kepemimpinan. Nihilnya sosok pemimpin yang konsisten merupakan salah satu ketidakberuntungan mereka. Akibat nihilnya model, benih karakter kepemimpinan anak-anak kita tidak ada di saat dan tempat yang istimewa.

Nihilnya pemimpin diekspresikan dengan jengahnya kita oleh tiadanya keteladanan pemimpin. Pada ekspresi itu juga sesungguhnya kita haus akan pemimpin yang konsisten.

Namun, kata Emha Ainun Najib pada "Bincang Sore" (14/5) di TVRI Yogyakarta, salah kita sendiri yang memperlakukan para pejabat dan tokoh publik itu sebagai pemimpin. Budayawan ini mengajak mengkritisi persepsi kita tentang pemimpin.

Pemimpin sejati adalah mereka yang hidupnya konsisten sehingga menjadi teladan. Kalau hidup mereka tak bisa menjadi teladan, ya jangan jadikan dan anggap mereka sebagai pemimpin. Siapa saja yang bisa menjadi teladan, merekalah pemimpin sejati hari-hari ini.


Tantangan bagi guru

Sepertinya sederhana mengikuti gagasan Emha Ainun Najib itu. Namun, sesungguhnya tidak demikian bagi para guru kita hari-hari ini.

Belajar dari sejarah perguruan Bangau Putih: "Intinya, ilmu terjadi karena kenyataan di alam, dan ilmu hanya sempurna apabila bisa dipulangkan kepada kenyataan alam. Di situ juga terdapat kewajiban bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Kita terlibat dengan masyarakat dan kehidupan. Karena itu, memulangkan ilmu kepada alam harus melewati masyarakat dan kebudayaan." (Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada, 2013, 18).

Pendidikan yang memberdayakan hidup, yang membuat manusia kian berbudaya dan bermartabat, mesti berangkat dengan menggulati dan mengolah realitas kehidupan. Di akhir proses pembelajaran, guru bersama anak didik menentukan disposisi batin dan hidup yang merupakan kristalisasi pergulatan pada realitas kehidupan. Disposisi itu mesti menerbitkan ruang eksplorasi hidup yang berpengharapan dan bermartabat. Idealisme pun akhirnya bakal lahir.
Realitas kehidupan negeri ini yang nihil pemimpin acapkali memojokkan para guru. Di satu sisi mereka harus memperjuangkan rasa bangga dan cinta pada negeri ini, bukan hanya bangga dan cinta pada alamnya yang kaya nan subur, tetapi juga pada bangsanya yang unggul.

Namun, mencari sosok pemimpin dan tokoh publik yang unggul di negeri ini bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Banyak artis yang lama digandrungi dan dijadikan model manusia unggul generasi muda negeri ini tiba-tiba terjerat kasus. Bisa narkoba, bisa lainnya.

Demikian juga dengan para tokoh politik, lebih-lebih politisi muda. Tokoh yang sering mencitrakan diri alim penuh simbol agamis, bersih dan pejuang garang kebenaran, terjerat kasus korupsi. Kelihai
Dan para pembela politisi koruptor kian membuat gersang negeri ini bagi tumbuhnya benih kepemimpinan.


Mencipta ruang istimewa

Kita amini gagasan Emha Ainun Najib bahwa siapa saja yang bisa menjadi teladan kehidupan sesungguhnya merekalah pemimpin kita hari-hari ini. Pemimpin tidak selalu identik dengan jabatan publik dan politis.

Benih karakter kepemimpinan butuh ruang berperistiwa. Bagi kaum muda sekolah adalah ruang berperistiwa mereka. Sekolah mesti menjadi oase di tengah padang kehidupan yang nihil pemimpin sejati. Para gurulah salah satu harapan pencipta oase itu agar benih karakter kepemimpinan generasi muda kita tidak musnah percuma.

Sadar akan hal ini, sesungguhnya inilah saat ketika para guru dipanggil untuk menyelamatkan bahtera negeri ini. Kita butuh para guru yang berani menjadi manusia unggul. Keberanian para guru menjadi manusia merdeka, bebas dari belenggu pencitraan dan ragam perbudakan birokratis, pastilah akan menciptakan ruang istimewa bagi tumbuhnya benih kepemimpinan anak didiknya. Ekspresi hidup yang sederhana pastilah menjadi lentera bagi jiwa kepemimpinan anak didiknya.



SIDHARTA SUSILA Pendidik
(Kompas cetak, 7 Juni 2013) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar