Kamis, 11 Juli 2013

Menjadi guru sejarah


Menjadi guru sejarah

                                                                                                gambar : dok pribadi

Sadarlah bahwa engkau mengajar jauh lebih banyak daripada satu mata pelajaran.
Engkau sedang membuka pikiran dan hati;
Engkau sedang membentuk kehidupan.”
(Karen katafiasz )


Tahun pembelajaran baru sudah tiba, banyak orang tua membelikan putra – putrinya buku baru, sepatu baru, tas baru,  dan seragam baru. Bagi siswa yang lulus tahun pelajaran kemarin, akan menghadapi sekolah baru dan suasana baru pada jenjang yang lebih tinggi. Bagi orang tua yang akan mulai menyekolahkan buah hatinya pada lembaga pendidikan, banyak hal mesti dipersiapan,  dari memilih sekolah sampai pada merayu untuk buah hatinya  untuk mau sekolah. Semua terasa sibuk pada bulan Juli ini, bahkan beberapa orang tua telah menyiapkan cuti pada hari pertama masuk sekolah demi mendampingi putra-putrinya untuk pertama kali  sekolah.

Lalu bagaimana persiapan guru menghadapi tahun pembelajaran baru? Apakah biasa-biasa saja karena tiap tahun hal ini terulang? Ataukah ada persiapan persiapan tertentu yang berbeda dari tahun sebelumnya? Beberapa guru lain , memang telah mulai dengan persiapan perangkat pembelajaran sesuai yang ampunya. Sedang di tempat lain, guru penjas mengeluarkan matras. Guru tersebut   mempersiapkan peralatan pembelajaran, dengan mengecek peralatan olah raga hingga kebersihan peralatan yang ada, sehingga siap pada waktu digunakan nanti. Sinar pagi terasa cukup panas, sinar matahari yang tersebut tidak disia-siakan guru olah raga untuk menjemur matras. “ Pak matrasnya digeser  ke tempat duduk besi “ ajak  seorang teman kepada guru olah raga, karena memang panas matahari mulai bergeser. Demikian kesibukan  terasa dengan memindahkan dan membalikan matras karena  memafaatkan panas matahari yang maksimal. Sebelum matras digeser terlihat terlebih dahulu di bersihkan  lagi dengan lap basah baru dijemur kembali.

Mulai  berubah

Setelah melayani pengambilan rapor, ijasah, SKHU serta dokumen lain, saya masuk ruang perpustakaan.  Saya mulai baca beberapa buku yang ada diperpustakaan.  Saya tertarik dengan sebuah bacaan dari majalah Intisari Juli 2013, tertulis …”Apa yang dibutuhkan anak di abad 21? Konsep, bukan sekedar fakta. Selama ini kita selalu membeir anak didik dengan serangkaian fakta. Misal, Perang Diponegoro tahun  1925-1930. Seharusnya, kita belajar konsep apa yang dipegang Pangeran Diponegoro dalam berjuang. Pengetahuan konseptual semacam ini hilang karena kita terlalu terpaku pada fakta.” Kata Antarina SF Amir. Ya, bayangan saya lari jauh kebelakang saat saya menerima informasi tersebut. Hati saya mulai merasakan  kegemasan  yang dirasakan  penulis tersebut, apalagi tahun pembajaran baru ini  saya  mendapat tugas sebagai guru IPS sejarah. Ini kali pertama saya mendapat tugas tersebut.  Dari bacaan diatas saya mencoba mencari tahu yang dinamakan pembelajaran konseptual  dan juga referensi-referensi lain.  Bagaimana pembelajaran IPS khususnya sejarah yang menyenangkan dalam kontek kekinian. Ini tantangan yang harus dihadapi sehingga di depan siswa mampu memberikan rasa dahaga akan pengetahuan sekaligus mampu memberikan ruang  kebebasan anak untuk membentuk pengetahuan sendiri. Bukan sekedar hafalan!

Dalam belajar sejarah, pengalaman saya  adalah bagaimana siswa hafal peristiwa-peristiwa penting nasional maupun internasional, hafal tokoh-tokoh penting dalam tiap peristiwa maupun tempat dan tanggal  peristiwa penting tersebut terjadi. Siswa kurang diberi ruang mengolah sendiri tiap peristiwa dengan kemampuan bernalarnya. Dengan diberi ‘ruang’, siswa berkesempatan untuk mengolah, bagaimana  suatu peristiwa sejarah dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman  dunia nyata saat ini. Dengan begitu diharapkan siswa menemukan sendiri konsep-konsep, yang dapat ditawarkan dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya maupun permasalahan disekitarnya. Sekaligus proses ini  akan menantang serta menggairahkan siswa dalam belajar sejarah. Tugas guru hanya memfasilitasi dengan memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya yang berkaitan dengan dunia nyata. Guru memberikan pengetahuan tentang buku-buku yang harus dan dapat dibaca sebagai referensinya, serta bagaimana cara membacanya.
Terus belajar

Tantangan baru dalam belajar sejarah, yang bukan hanya mengenal peristiwannya, namun anak mampu mengaitkannya dengan pengalaman dunia nyata sebanyak-banyaknya. Menjadikan siswa mulai tidak pernah berhenti untuk belajar, karena dia akan terus berpikir dengan mengaitkan pada kondisi nyata,  romo Mangun menyebutnya “ ‘belajar sejati’. Karena anak akan selalu belajar meski sekolah sudah usai. Menurut romo mangun belajar sejati adalah tahap dimana seseorang punya kesadaran diri untuk memperhatikan, mempelajari, dan menekuni segala hal yang dialaminya sehari-hari secara terus menerus.” Semakin banyak pengalaman hidup  yang ‘diolah’ dalam kaitkan dengan peristiwa-peritiwa  sejarah ,diharapkan makin banyak pula konsep-konsep baru yang didapatnya untuk mengarungi kehidupannya.  

Belajar sejarah dapat  membantu siswa menemukan ‘alat’ yang dapat  menjadikan dirinya lebih mandiri mengatasi setiap permasalahan hidupnya. Siswa juga perlu memiliki ketrampilan hidup sehingga  mampu berinteraksi dengan lingkungannya sehingga mendapatkan pengalaman hidup.

Semoga pengetahuan  ini  mampu menjadi kekuatan  saya mendampingi siswa. Saya akan ajak siswa mulai berani  berkomunikasi dengan lingkungan dan mempunyai jiwa eksploratif, kreatif dan integral ( romo mangun, 2007). Karena inilah langkah awal yang harus dimiliki untuk melangkah menjadi manusia pembelajar. Dari sisi guru juga harus melengkapi diri dengan pengetahuan dan sikap nyata serta menguasai beberapa pendekatan yang menunjang, active  learning, joyful learning, dan child-centered learning.  Memang benar guru dan murid terus belajar. Ya sekarang aku menjadi guru sejarah.
(bewe 11713)

   Sumber bacaan :
1.      Antarina SF Amir, Mengubah paradigma sistem pendidikan, Intisari, juli 2013, Jakarta
2.      Y Dedy Pradipta, Belajar sejati  VS kurikulum nasional, Kanisius 2007, Yogyakarta
3.      Karen katafiasz, “ Teacher Therapy” (Terapi Menjadi Guru yang Baik)”, 2004, penerbit OBOR, Jakarta)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar