Minggu, 16 September 2012

Dekat di Mata Dekat di Hati

Jeda sejenak..... 


“Dekat di mata Dekat Di Hati”




Dua minggu lalu, aku pergi ke toko buku Kanisius, di pinggiran Jakarta Timur. Di satu sudutnya, saya terkesan dengan sebuah stiker gaul berwarna hitam dan merah kental. Matching bangeth!! Saya tertarik bukan karena murah dan warnanya yang mencolok, tetapi karena isinya yang cool, gue banget, bunyinya :

                   Kamu menyebut Aku “Jalan”, tapi kamu tidak mengikuti jalanku
                   Kamu menyebut Aku “Terang”, tapi kamu tidak pernah melihat aku.
                   Kamu menyebut Aku “Guru”, tapi kamu tidak pernah mendengarkan aku.
                   Kamu menyebut Aku “Tuan”, tapi kamu tidak pernah melayani aku.
                   Kamu menyebut “Kebenaran” tapi kamu tidak pernah percaya kepadaku.
                   Jangan kaget, jika suatu hari nanti Aku tidak mengenal kamu.

Lalu saya jadi bertanya,
…. “Apakah aku sungguh mengenal Allah? Di mana akau dapat menemukan Allah Apakah melulu ditempat yang sepi, hening,jauh dari keramaian? Apakah Allah itu sungguh dapat ditemukan dan dialami  dalam diri sesamaku?
So what githu loch!!”

Saya punya cerita begini…..
 Aming, seorang pemuda gantheng, tukang tambal banmotor, suatu siang terik, tiba-tiba mendengar suatu yang berkata : Aming … Aming … besok saya akan  dating mengunjungi engkau di bengkel tuamu!”Tak ada seorangpun di sekitar situ. Dan , suara itu terdengar jelas samapai tiga kali. Akhirnya, Aming pede banget kalo itu suara Tuhan sendiri.

Keesokkan harinya, Aming memastikan Tuhan di bengkelnya. Udara pagi itu sangat buruk, hujan besar. Sementara dia asyik bekerja, tiba-tiba muncul seorang teman  dekatnya yang dating hendak meminjam uang.
 Sialan! Bete!   Menjengkelkan! Tapi dilayaninya juga. Menjelang tengah hari, Tuhan belum juga nongol . Tetapi muncul seorang pemuda yang tak dikenalnya. Pemuda itu kelaparan dan kedinginan. Ia meminta tempat berteduh di bengkel Aming. Aming mempersilakannya duduk di  suatu sudut di bengkelnya. Ketika udara agak cerah, tamu itu minta pamit dan kemudian pergi.
Pada sore harinya, Tuhan belum juga muncul . Tetapi malahan gadis tetangganya datang terengah-engah dan meminta bantuan Aming untuk memanggilkan dokter sebab bapaknya sakit keras, hampir meningggal. Waduh bagaimana ini, apakah Aming harus pergi? Bagaimana kalau Tuhan datang ketika ia tidak berada di bengke itu? Akhirny, ia cepat-cepat pergi memanggil dokter itu dan  selekas mungkin ia kembali ke bengkelnya, takut kalau-kalau Tuhan sudah datang ke bengkelnya.
Tetapi sampai malam tiba, Tuhan tidak jug muncul. Apakah Tuhan sudanh datang waktu Aming tidak berada dibengkelnya ? ketika ia hendak menutup pintu bengkelnya tiba-tiba ia mendengar suara Tuhan :

                                    “Aming, Aming. “
“Ya Tuhan mengapa Engkau tidak datang juga?”   
                                    “Aku datang Aming, bahkan sampai tiga kali aku datang kepadamu”

Tiba-tiba, Aming teringat akan pengalamannya hari ini, ketika ia bertemu seorang teman dekatnya yang ingin meminjam uang. Ketika ia bertemu dengan seorang pemuda tak dikenal yang kelaparan dan kedinginan. Dan, ketika ia bertemu dengan gadis tetangganya yang meminta bantunannya untuk mencarikan dokter buat bapaknya …………

Memang bukan kebetulan kalu Tuhan telah lahir dan menjadikan dirinya seperti sesame kita, yang kerap setiap hari kita jumpai, lewat diri teman-teman kita, di rumah, sekolah, gereja, dan pelbagai tempat lainnya……..
Sosok pahlawan selalu bermakna pun memikat, apalagi pahlawan kemudian diberi nama Yesus Kristus ini, “ ia menjadikan segala-galanya baik “ (Mrk 7:37).

Semoga semua semua orang, khususnya yan KLMTC. Kecil-lemah-miskin-tersingkir, dan cacat, yang kita jumpai setiap harinya semakin dekat di mata, tapi juga semakin dekat di hati karena kita sungguh melihat kehadiran Tuhan yang nyata lewat perjumpaan dengan mereka semua. Semoga.

( diambi dari : buku Josh Kokoh, Pr, 2009, “Mimbar Altar”,  Yogyakarta : Kanisius )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar